Munte adalah sebuah desa di Kecamatan Tana Lili, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Munte | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Sulawesi Selatan | ||||
| Kabupaten | Luwu Utara | ||||
| Kecamatan | Tana Lili | ||||
| Kode Kemendagri | 73.22.12.2009 | ||||
| Luas | 11610 km² | ||||
| Jumlah penduduk | 1956 jiwa | ||||
| Kepadatan | 0,17 jiwa/km² | ||||
| |||||
Munte adalah sebuah desa di Kecamatan Tana Lili, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.
Desa Munte merupakan salah satu desa tua di wilayah Kecamatan Tana Lili, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Berdasarkan penelusuran dokumen dan tradisi lisan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun, cikal bakal Desa Munte sudah ada sejak tahun 1930-an sebagai sebuah pemukiman kecil.[1]
Pemimpin pertama yang dikenal masyarakat dengan sebutan Kepala Kampung adalah Lamassusungeng Opu Daeng Mariu. Pada masa inilah Munte mulai dikenal sebagai sebuah komunitas yang terorganisir.
Memasuki tahun 1942, Munte menjadi salah satu lokasi penerimaan transmigrasi dari Jawa yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Kehadiran para pendatang juga menambah keberagaman penduduk sekaligus memperkuat identitas Munte sebagai desa yang terbuka.
Pada kurun waktu 1940–1950, kepemimpinan kampung berada di tangan Daeng Mangngati.
Sejarah Munte tidak terlepas dari gejolak nasional. Pada tahun 1960-an, Munte menjadi saksi pergolakan besar di Luwu Raya ketika pecah Pemberontakan DI/TII yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar. Desa Munte bahkan menjadi salah satu basis pergerakan DI/TII. Situasi ini memaksa penduduk untuk beberapa kali mengungsi setiap kali pasukan TNI melakukan operasi penyisiran.
Dalam masa penuh ketidakpastian ini, kepemimpinan kampung sempat dipegang oleh Andi Mallaguni H. Opu Daeng Pabeta (1950–1965) berdasarkan hasil musyawarah warga.
Akhir pergolakan terjadi pada 3 Februari 1965,[2] ketika Kahar Muzakkar tewas dalam operasi militer di Sungai Lasolo, Sulawesi Tenggara. Setelah keadaan mulai kondusif, penduduk Munte yang sempat mengungsi ke berbagai daerah seperti Malangke, Assorongeng, dan Batangtongka kembali ke kampung halaman. Kepulangan mereka dipimpin oleh seorang tokoh masyarakat, Abu Bakar Daeng Mattiro (Bakkareng), yang kemudian ditunjuk langsung oleh Komandan Operasi KKO (Kapten Bambang dan Letnan Gatot) sebagai Kepala Kampung pada periode 1965–1968.
Tahun 1968 menjadi tonggak penting ketika Munte resmi dipimpin oleh Muhammad Alwi Opu Taddampali, seorang tokoh muda yang baru kembali dari menimba ilmu agama di Pesantren As’adiyah Sengkang. Ia kemudian tercatat sebagai Kepala Desa definitif pertama (1968–1972).
Sejak saat itu, roda pemerintahan desa berjalan lebih teratur melalui mekanisme pemilihan kepala desa.
Berikut adalah perjalanan kepemimpinan Desa Munte:
Muhammad Alwi Opu Taddampali (1968–1972) – Kepala Desa Pertama.
Kaso Yusuf (1972–1977) – Kepala Desa Kedua.
Masa PJS:
M. Alimin Opu To Pasolongi (1983–1991) – Kepala Desa Ketiga.
Ir. Sopyan Zubair (1991–2001) – Kepala Desa Keempat.
Amiruddin (2001–2006) – Kepala Desa Kelima.
Surianto (2007–2017) – Kepala Desa Keenam.
Masa PJS & PAW:
Akbar (2021–sekarang) – Kepala Desa Kedelapan.
Mayoritas penduduk Desa Munte berprofesi sebagai Nelayan dan Petani. Desa Munte memiliki 4 dusun yaitu Dusun Lengkong To Pao, Dusun Libukang, Dusun Temboe dan Dusun Masollo.