Bahan tulis, atau disebut juga media tulis, ialah permukaan yang dapat ditulisi dengan instrumen yang sesuai, atau digunakan untuk membuat gambar-gambar simbolik dan representasional. Bahan bangunan yang menjadi tempat penulisan atau penggambaran tidak termasuk di dalamnya. Secara umum, bahan tulis diklasifikasikan berdasarkan bahan penyusun permukaannya serta jumlah, ukuran, cara penggunaan, dan cara penyimpanan dari permukaan-permukaan tersebut yang digabungkan menjadi satu kesatuan objek.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Bahan tulis, atau disebut juga media tulis, ialah permukaan yang dapat ditulisi dengan instrumen yang sesuai, atau digunakan untuk membuat gambar-gambar simbolik dan representasional. Bahan bangunan yang menjadi tempat penulisan atau penggambaran tidak termasuk di dalamnya. Secara umum, bahan tulis diklasifikasikan berdasarkan bahan penyusun permukaannya (misalnya kertas) serta jumlah, ukuran, cara penggunaan, dan cara penyimpanan dari permukaan-permukaan tersebut (misalnya lembaran kertas) yang digabungkan menjadi satu kesatuan objek.

Karena menggambar mendahului kegiatan menulis, peninggalan tertua dari bahan tulis adalah dinding batu gua tempat lukisan gua dibuat. Pendahulu lainnya adalah tongkat hitungan yang digunakan untuk mencatat jumlah benda.

Kegiatan menulis tampaknya menjadi lebih luas setelah ditemukannya papirus di Mesir. Perkamen, yang terbuat dari kulit domba setelah bulunya diambil untuk dijadikan kain, kadang-kadang lebih murah daripada papirus yang harus diimpor dari luar Mesir. Untuk menghemat biaya papirus yang mahal, orang Mesir bahkan mencucinya dan menggunakannya kembali.[1]
Kain kemungkinan digunakan dengan cara serupa seperti kulit hewan. Tanah liat memperkenalkan perpaduan menarik antara kemudahan membuat tulisan dengan daya tahannya yang tinggi. Gerabah tanpa glasir dapat dengan mudah diberi tulisan bahkan setelah dibakar. Perpustakaan pertama di dunia terdiri atas arsip bentuk tulisan tertua, yakni lauh tanah liat bertulisan aksara paku yang ditemukan di Ebla (kini Suriah), serta di ruang-ruang kuil Sumeria (kini Irak).[2][3][4][5][6][7] Lilin menawarkan keunggulan baru: permukaan yang dapat digunakan kembali, mudah ditulis dan dihapus, serta dapat dipadukan dengan bahan lain seperti kayu untuk menambah ketahanannya. Tablet batu, tablet tanah liat dan kayu, serta tablet kayu berlapis lilin merupakan beberapa bentuk awal dari permukaan datar yang secara khusus dibuat untuk menulis.
Pecahan gerabah tanpa glasir digunakan hampir seperti kertas coretan, disebut ostraka, untuk tanda terima pajak, dan di Athena digunakan untuk mencatat nama-nama tokoh Yunani yang dicalonkan untuk ostrakisme.
Papirus pertama kali digunakan pada milenium ke-4 SM di Mesir. Pada abad ke-2 SM, bahan ini mulai digantikan di sebagian kawasan Mediterania oleh perkamen yang terbuat dari kulit hewan yang telah diolah. Perkamen dibuat dari kulit berbagai jenis hewan dan memiliki perbedaan mencolok dalam tekstur serta warnanya. Pada akhirnya, perkamen digantikan oleh kertas yang semakin mudah diperoleh.

Di anak benua India, media tulis utama adalah bhurjapatra yang terbuat dari kulit kayu pohon dari genus betula, serta naskah daun lontar. Naskah daun lontar juga menjadi media utama untuk menulis dan melukis di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk Nepal, Sri Lanka, Burma, Thailand, Indonesia, dan Kamboja.[8] Penggunaan kertas baru dimulai setelah abad ke-10.
Di Tiongkok, bahan tulis awal mencakup tulang hewan, kemudian sutra,[9] bilah bambu dan kayu,[10] hingga akhirnya kertas ditemukan pada abad ke-2 M. Penemuan kertas dikaitkan dengan seorang kasim istana bernama Cai Lun pada tahun 105 M.[9] Namun, kertas baru diperkenalkan ke Eropa sekitar seribu tahun kemudian, setelah pertempuran pada tahun 751 M di mana beberapa pembuat kertas ditawan. Dari sanalah teknologi ini menyebar dari Baghdad ke barat, dan akhirnya mencapai Spanyol pada abad ke-12.[butuh rujukan]