Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Mak Yong

Mak Yong adalah seni teater tradisional masyarakat Melayu yang sampai sekarang masih digemari dan sering dipertunjukkan sebagai dramatari dalam forum internasional. Di zaman dulu, pertunjukan mak yong diadakan orang desa di pematang sawah selesai panen padi.

tari tradisional berasal dari Kelantan
Diperbarui 22 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Mak Yong
Mak Yong theatre
Warisan Budaya Tak Benda UNESCO
NegaraMalaysia
Referensi00167
KawasanAsia dan Pasifik
Sejarah Inskripsi
Inskripsi2008
Mak Yong
  • Bagian dari seri
    Drama tari
    di Asia Tenggara

    Topografi Asia Tenggara
    Topografi Asia Tenggara
Myanmar
  • Yama Zatdaw
Kamboja
  • Khmer_shadow_theatre
  • Lakhon Khol
  • Lakhon Mohory
  • Lakhon Pol Srey
  • Royal Ballet of Cambodia
  • Yike
Indonesia
  • Bangsawan
  • Barong
  • Gambuh
  • Kecak
  • Ketoprak
  • Kuda Lumping
  • Legong
  • Lenong
  • Ludruk
  • Mak yong
  • Sendratari Ramayana
  • Randai
  • Reog
  • Ronggeng
  • Sandiwara
  • Toneel
  • Topeng
  • Wayang wong
Laos
  • Classical dance and theatre
Malaysia
  • Bangsawan
  • Boria
  • Dikir Barat
  • Jikey
  • Kuda Lumping
  • Mak yong
  • Mek Mulung
  • Menora
  • Ulek mayang
Filipina
  • Pangalay
  • Singkil
Thailand
  • Khon
  • Lakhon nai
  • Lakhon chatri
  • Lakhon nok
  • Likay
  • Manora
Vietnam
  • Nhã nhạc
  • l
  • b
  • s

Mak Yong (Jawi: مق يوڠ) adalah seni teater tradisional masyarakat Melayu yang sampai sekarang masih digemari dan sering dipertunjukkan sebagai dramatari dalam forum internasional. Di zaman dulu, pertunjukan mak yong diadakan orang desa di pematang sawah selesai panen padi.

Dramatari mak yong dipertunjukkan di negara bagian Terengganu, Pattani, Kelantan, dan Kedah. Selain itu, mak yong juga dipentaskan di Kepulauan Riau dan Sumatera Utara, Indonesia. Di Kepulauan Riau, mak yong dibawakan penari yang memakai topeng, berbeda dengan di Malaysia yang tanpa topeng.

Pertunjukan mak yong dibawakan kelompok penari dan pemusik profesional yang menggabungkan berbagai unsur upacara keagamaan, sandiwara, tari, musik dengan vokal atau instrumental, dan naskah yang sederhana. Tokoh utama pria dan wanita keduanya dibawakan oleh penari wanita. Tokoh-tokoh lain yang muncul dalam cerita misalnya pelawak, dewa, jin, pegawai istana, dan binatang. Pertunjukan mak yong diiringi alat musik seperti rebab, gendang, dan tetawak.

Sejarah

Istana kerajaan menjadi pelindung seni tari mak yong sejak paruh kedua abad ke-19 sampai tahun 1930-an. Jika raja mendengar ada penari yang pandai apalagi cantik sedang bermain di kampung-kampung, raja langsung memerintahkan penari tersebut untuk menari di dalam lingkungan istana. Penari yang menari di istana akan ditanggung semua akomodasi serta kebutuhan hidup, dan bahkan menerima pinjaman tanah sawah milik raja untuk dikerjakan.

Kemunduran ekonomi kesultanan akibat kedatangan penjajah Inggris di Kelantan menyebabkan pihak kesultanan tidak bisa lagi menjadi pelindung kelompok pertunjukan mak yong. Akibatnya di awal abad ke-20, tari mak yong mulai berkembang bebas di desa-desa. Pertunjukan Mak yong tanpa patron pihak kerajaan menyebabkan mutu pertunjukan semakin merosot, terutama setelah terjadi bencana banjir besar di Kelantan yang terkenal sebagai Banjir Merah tahun 1926 hingga tahun 1950-an. Selain itu, nilai estetika tradisional mak yong mulai luntur akibat komersialiasi pertunjukan. Lama pertunjukan juga diperpendek dari pukul 8:30 malam hingga pukul 11:00 malam. Selesai pertunjukan mak yong langsung diteruskan acara joget bersama. Penonton naik ke atas panggung untuk menari bersama penari mak yong. Alat musik untuk mak yong juga diganti dengan biola dan akordion untuk memainkan lagu untuk berjoget.

Di pihak kelompok mak yong, nilai moral penari juga mulai merosot. Tidak jarang terdengar kisah-kisah sumbang yang terjadi antara kalangan penari dengan penonton selepas pertunjukan. Keluarga penari mak yong juga menjadi berantakan, perceraian menyebabkan anak-anak menjadi telantar. Penari mak yong malah banyak yang bangga dengan jumlah suami yang dimiliki. Publik mempertanyakan nilai moral di kalangan penari sehingga citra penari mak yong makin merosot. Keadaan ini membuat citra kesenian mak yong semakin hancur.

Di akhir tahun 1960-an, kelompok tari mak yong sudah tidak bisa dijumpai lagi. Orang yang berniat mempelajari tari mak yong juga tidak ada. Kebudayaan barat yang melanda masyarakat Malaysia makin menenggelamkan kesenian mak yong. Kalau ada pun pertunjukan Mak Yong yang diadakan pada peristiwa penting seperti Hari Keputeraan Sultan, pertunjukan hanya dikerumuni orang-orang tua.

Kelompok Seri Temenggung merupakan pelopor tari mak yong generasi ketiga yang berusaha menghidupkan kembali tari dan nyanyian asli seperti pertunjukan mak yong generasi pertama. Kelompok tari Seri Temenggung masih relatif baru dengan guru-guru yang berasal dari generasi pertama penari Mak Yong.

Mak Yong di Indonesia

Perbedaan

Perbedaan dengan Mak Yong di Kelantan yang tidak menggunakan topeng, Mak Yong di Batam dan Bintan menggunakan topeng untuk sebagian karakter dayang Raja, Puteri, penjahat, setan, dan semangat, sama seperti yang dipraktikan di Nara Yala.

Perkembangan

Mak Yong berkembang di Indonesia melalui Riau, Lingga, yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Johor. Keberadaan kesenian Mak Yong di wilayah Kerajaan Riau Lingga berpusat di Mantang Kayu arang. Dahulu, istana menanggung kebutuhan hidup para pelakon Mak Yong sehingga mereka dapat berlatih setiap hari, kecuali pada hari Jumat dan bulan Ramadan. Dengan dukungan tersebut, Mak Yong mencapai masa kejayaan dan mampu dipentaskan di seluruh Kepulauan Riau hingga tahun 1960-an.[1]

Pada akhir abad lalu, Mak Yong bukan saja menjadi pertunjukan harian, tetapi juga sebagai adat istiadat raja memerintah. Mak Yong juga digunakan untuk merawat orang yang sakit. Praktik ini tidak lagi dipraktikkan termasuk pula di Indonesia. Di antara orang terakhir yang mempraktikkan Mak Yong untuk merawat pasien adalah Tuk Atan di Bintan dan Pak Basri di Batam, keduanya telah meninggal. Bagaimanapun, Mak Yong masih dipersembahkan dengan adat istiadat di panggung. Mantra yang dilakukan diwariskan dari seseorang kepada pewarisnya. Sekarang di Batam dan Bintan, praktisi Mak Yong merupakan generasi ketiga dan telah ada hampir selama 150 tahun dan menghadapi ancaman kepunahan. Indonesia telah mengambil langkah memelihara Mak Yong dengan melancarkan program merekam tradisi ini dengan bantuan Persatuan Tradisi Lisan dan membantu para praktisi Mak Yong melanjutkan pertunjukan mereka dengan bantuan peralatan dan pakaian. Rekaman tersebut disimpan di Kantor Persatuan Tradisi Lisan dan PUSKAT di Jakarta (Yogyakarta).

Jenis-jenis Mak Yong

Ada 8 jenis pertunjukan Mak Yong yang pernah ada. Setiap jenis persembahan Mak Yong ini memiliki sedikit perbedaan yang membedakan di antara satu dengan yang lain. Jenis-jenis Mak Yong tersebut adalah:

  • Mak Yong Pattani - berada di Pattani, Yala dan Narathiwat, tiga daerah di selatan Thailand yang dahulunya merupakan wilayah Kesultanan Melayu Pattani.
  • Mak Yong Kelantan - ditemui di negeri Kelantan dan daerah Besut, Terengganu, Malaysia.
  • Mak Yong Kedah - ditemui di negeri Kedah, Malaysia.
  • Mak Yong Laut - ditemui di negeri Perlis (Malaysia) dan wilayah Satun (Thailand).
  • Mak Yong Riau - ditemui di Wilayah Riau, Indonesia.[1]
  • Mak Yong Medan - ditemui di Medan, wilayah Sumatera Utara, Indonesia.
  • Mak Yong Kalimantan - ditemui di Kalimantan, Indonesia.
  • Mak Yong Mantang - ditemui di Pulau Mantang, Bintan, Kepulauan Riau, Indonesia. Merupakan jenis makyong yang memakai topeng.

Latihan Tradisi

Dalam latihan tradisi Mak Yong, setiap pemain akan diajarkan keseluruhan peranan watak dalam Mak Yong, termasuk Raja, Permaisuri, bangsawan istana dan pelawak termasuk para panglima. Mereka turut diajarkan berbagai kisah Mak Yong, termasuk Dewa Muda, Dewa Pecil dan Hijau-hijau Intan Permata. Selain itu, mereka akan belajar sejumlah besar lagu pengiring Mak Yong, termasuk Pak Yong Muda, Sedayung Mak Yong, Sedara Tonggek, Kisah Barat, Barat Cepat, Lagu Kabar ke Pengasuh dan Mengulit. Setelah seorang pelajar telah menguasai semua aspek ini, mereka akan menyelesaikan pengajaran dengan melalui upacara sembah guru sebagai tanda selesainya pembelajaran Mak Yong

Referensi

  1. ^ "Teater Mak Yong, Seni Tradisi yang Langka". Kompas. Diarsipkan dari asli tanggal 2007-03-09. Diakses tanggal 2006-12-2. ; ;
  2. ^ "Daftar M - Mak Yong". Mohamed Yosri Mohamed Yong. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-02-17. Diakses tanggal 2006-12-2. ;
  3. Butiran Warisan: Mak Yong Diarsipkan 2009-08-28 di Wayback Machine.

Daftar pustaka

  • Mohamed Afandi Ismail. Perkembangan Mak Yong Sebagai Satu Seni Teater Tradisional, terbitan Juni 1975, m.s. 375-80. Dewan Bahasa dan Pustaka.

Pranala luar

  • Laman web Budaya Dunia
  1. 1 2 Deskripsi Seni Kepulauan Riau (PDF). Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman, Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman. 2014. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Mak Yong di Indonesia
  3. Perbedaan
  4. Perkembangan
  5. Jenis-jenis Mak Yong
  6. Latihan Tradisi
  7. Referensi
  8. Daftar pustaka
  9. Pranala luar

Artikel Terkait

Sriwijaya

Kerajaan 671-1025 di Asia Tenggara

Orang Melayu di Malaysia

kelompok etnis Melayu yang bermukim di Malaysia

Tari Zapin

salah satu tarian di Indonesia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026