Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Kesadaran indrawi

Kesadaran indrawi atau kesentienan (sentience) adalah kemampuan untuk mengalami perasaan dan sensasi. Hal ini tidak selalu menyiratkan fungsi kognitif yang lebih tinggi seperti kesadaran, penalaran, atau proses berpikir yang kompleks. Beberapa ahli teori mendefinisikan kesentienan secara eksklusif sebagai kapasitas untuk memiliki pengalaman mental yang bervalensi, seperti rasa sakit dan kesenangan.

Wikipedia article
Diperbarui 14 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kesadaran indrawi
Menentukan hewan mana yang dapat mengalami sensasi merupakan hal yang sukar, namun para ilmuwan umumnya sepakat bahwa vertebrata, serta banyak spesies invertebrata, kemungkinan besar adalah makhluk sentien.[1][2]

Kesadaran indrawi atau kesentienan (sentience) adalah kemampuan untuk mengalami perasaan dan sensasi.[3] Hal ini tidak selalu menyiratkan fungsi kognitif yang lebih tinggi seperti kesadaran, penalaran, atau proses berpikir yang kompleks. Beberapa ahli teori mendefinisikan kesentienan secara eksklusif sebagai kapasitas untuk memiliki pengalaman mental yang bervalensi (positif atau negatif), seperti rasa sakit dan kesenangan.[4]

Kesentienan adalah konsep penting dalam etika, karena kemampuan untuk mengalami kebahagiaan atau penderitaan sering kali menjadi dasar untuk menentukan entitas mana yang berhak mendapatkan pertimbangan moral, khususnya dalam utilitarianisme.[5]

Kata sentience telah digunakan untuk menerjemahkan berbagai konsep dalam agama-agama Asia. Dalam fiksi ilmiah, sentience terkadang digunakan secara bergantian dengan "sapiensi", "kesadaran diri", atau "kesadaran".[6]

Kesentienan dalam filsafat

Istilah sentience pertama kali dicetuskan oleh para filsuf pada tahun 1630-an untuk konsep kemampuan merasa, yang berasal dari bahasa Latin sentiens (merasa).[7] Dalam filsafat, penulis yang berbeda menarik perbedaan yang berlainan antara kesadaran dan kesentienan. Menurut Antonio Damasio, kesentienan adalah cara minimalis untuk mendefinisikan kesadaran, yang jika tidak demikian, umumnya dan secara kolektif menggambarkan kesentienan ditambah fitur-fitur lain dari pikiran dan kesadaran, seperti kreativitas, kecerdasan, sapiensi, kesadaran diri, dan intensionalitas (kemampuan untuk memiliki pemikiran tentang sesuatu). Fitur-fitur kesadaran lebih lanjut ini mungkin tidak diperlukan bagi kesentienan, yang merupakan kapasitas untuk merasakan sensasi dan emosi.[8]

Kesadaran

Menurut Thomas Nagel dalam makalahnya "Seperti Apa Rasanya Menjadi Kelelawar?", kesadaran dapat merujuk pada kemampuan entitas apa pun untuk memiliki pengalaman perseptual subjektif, atau sebagaimana beberapa filsuf menyebutnya, "qualia"—dengan kata lain, kemampuan untuk memiliki keadaan di mana rasanya seperti sesuatu untuk berada di dalamnya.[9] Beberapa filsuf, terutama Colin McGinn, meyakini bahwa proses fisik yang menyebabkan terjadinya kesadaran tidak akan pernah dipahami, sebuah posisi yang dikenal sebagai "misterianisme baru". Mereka tidak menyangkal bahwa sebagian besar aspek kesadaran lainnya dapat menjadi subjek penyelidikan ilmiah, namun mereka berpendapat bahwa qualia tidak akan pernah bisa dijelaskan.[10] Filsuf lain, seperti Daniel Dennett, berpendapat bahwa qualia bukanlah konsep yang bermakna.[11]

Mengenai kesadaran hewan, Deklarasi Cambridge tentang Kesadaran, yang diproklamasikan secara publik pada 7 Juli 2012 di Universitas Cambridge, menyatakan bahwa banyak hewan nonmanusia memiliki substrat neuroanatomis, neurokimia, dan neurofisiologis dari keadaan sadar, serta dapat menunjukkan perilaku intensional.[a] Deklarasi tersebut mencatat bahwa semua vertebrata (termasuk ikan dan reptilia) memiliki substrat neurologis untuk kesadaran ini, dan terdapat bukti kuat bahwa banyak invertebrata juga memilikinya.[2]

Rujukan

  1. ↑ Birch, Jonathan (2021-05-16). "Which animals should be considered sentient in the eyes of the law?". The Guardian (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2024-06-09.
  2. 1 2 Low, Philip (7 July 2012). "The Cambridge Declaration on Consciousness" (PDF). FCM Conference. Cambridge University. Diakses tanggal 5 August 2020. it is indisputable that all vertebrates, including fish and reptiles do possess the neurological substrates of consciousness, and that there is further very strong evidence to support that invertebrates, including but not limited to decapod crustaceans, cephalopod mollusks, and insects, also do
  3. ↑ "Definition of SENTIENT". Merriam Webster Dictionary (dalam bahasa Inggris). 2024-07-18. Diakses tanggal 2024-07-21.
  4. ↑ Birch, Jonathan (2024-08-15). The Edge of Sentience: Risk and Precaution in Humans, Other Animals, and AI (dalam bahasa Inggris) (Edisi 1). Oxford University Press. hlm. 1. doi:10.1093/9780191966729.001.0001. ISBN 978-0-19-196672-9.
  5. ↑ "The Grounds of Moral Status". Stanford Encyclopedia of Philosophy. 2023.
  6. ↑ Scerri, Mariella; Grech, Victor E. (2016). "Sentience in science fiction 101". SFRA Review. 315: 14–18. Diakses tanggal 31 January 2021.
  7. ↑ "Sentient". Etymology Online. Douglas Harper. Diakses tanggal 31 January 2021.
  8. ↑ Damasio, Antonio (October 2001). "Fundamental feelings". Nature (dalam bahasa Inggris). 413 (6858): 781. Bibcode:2001Natur.413..781D. doi:10.1038/35101669. ISSN 1476-4687. PMID 11677584. S2CID 226085.
  9. ↑ Nagel, Thomas (1974). "What Is It Like to Be a Bat?". The Philosophical Review. 83 (4): 435–450. doi:10.2307/2183914. JSTOR 2183914.
  10. ↑ Shermer, Michael (2018-07-01). "Will Science Ever Solve the Mysteries of Consciousness, Free Will and God?". Scientific American (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-03-10.
  11. ↑ Ramsey, William (2013). "Eliminative Materialism". Dalam Zalta, Edward N. (ed.). The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Edisi Summer 2013). Stanford University. Diakses tanggal 19 June 2014.
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • GND
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Israel
Lain-lain
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Kesentienan dalam filsafat
  2. Kesadaran
  3. Rujukan

Artikel Terkait

Abhidhamma Theravāda

tradisi akademis dan filosofis dalam Therawada

Kemelekatan (Buddhisme)

kesenangan indrawi). Dalam hal pengalaman mental yang dapat diketahui secara sadar, Abhidhamma Theravāda mengidentifikasi kemelekatan pada kenikmatan indrawi dengan

Keawasan

kondisi atau kemampuan untuk memperoleh, merasakan, atau sadar akan peristiwa, objek, atau pola sensorik

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026