Kumbang tahi kerbau adalah jenis kumbang yang hidup pada tahi atau kotoran kerbau. Tersebar di daerah tropis dan subtropik. Kumbang tahi kerbau termasuk genus kumbang dalam famili Scarabaeidae. Pada tahap larva, mereka memakan kotoran. Tubuh berwarna coklat sebesar kuku kelingking dan punggungnya cembung. Kaki berbetuk khas sebagai penggali. Serangga-serangga ini banyak di jumpai pada musim hujan. Kumbang dewasa sering tertarik sinar lampu, bertelur pada tumpukan tahi kerbau. Larva berwarna putih. Kepompongnya terbungkus di dalam kokon bulat berwarna hitam, yang terbentuk dari kotoran kerbau. Umumnya tiga ekor larva berkumpul menjadi satu di dalam kokon.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Desember 2022) |
| Kumbang tahi kerbau | |
|---|---|
| Aphodius contaminatus | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | |
| Filum: | |
| Kelas: | |
| Ordo: | |
| Subordo: | |
| Infraordo: | |
| Superfamili: | |
| Famili: | |
| Genus: | Aphodius Illiger, 1798 |
Kumbang tahi kerbau (genus Aphodius) adalah jenis kumbang yang hidup pada tahi atau kotoran kerbau.[1] Tersebar di daerah tropis dan subtropik.[1] Kumbang tahi kerbau termasuk genus kumbang dalam famili Scarabaeidae.[2] Pada tahap larva, mereka memakan kotoran.[3] Tubuh berwarna coklat sebesar kuku kelingking dan punggungnya cembung.[1] Kaki berbetuk khas sebagai penggali.[1] Serangga-serangga ini banyak di jumpai pada musim hujan.[1] Kumbang dewasa sering tertarik sinar lampu, bertelur pada tumpukan tahi kerbau.[1] Larva berwarna putih.[1] Kepompongnya terbungkus di dalam kokon bulat berwarna hitam, yang terbentuk dari kotoran kerbau.[1] Umumnya tiga ekor larva berkumpul menjadi satu di dalam kokon.[1]
Kumbang tahi dikenal suka menggelindingkan bola-bola terbuat dari kotoran yang berbobot 50 kali lebih berat ketimbang tubuhnya sendiri.[4] Kumbang ini juga gunakan kotoran untuk pendingin tubuh ketika berada di atas bola kotoran miliknya dan sering kali mengusap wajahya. Para peneliti mencurigai ini merupakan perilaku khas bertujuan menyebarkan carian ke kaki serta kepala agar menjadi lebih dingin.[4]
Ke-44 spesies berikut telah diakui berada dalam genus Aphodius: