Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiGangguan kepribadian skizoid
Artikel Wikipedia

Gangguan kepribadian skizoid

Gangguan kepribadian skizoid adalah gangguan di mana orang yang memilikinya sering menjauhkan diri dari orang lain serta memiliki pemikiran yang bersifat eksentrik. Ciri-ciri individu yang mengalami skizoid adalah tidak memiliki keinginan untuk intim atau menjadi bagian dari kelompok sosial, dan sering kali memilih sendirian daripada bersama dengan orang lain. Individu ini juga cenderung tidak menunjukkan emosi secara penuh, kebutuhan akan afeksi yang kurang dan rendahnya introspeksi diri.

Wikipedia article
Diperbarui 31 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Gangguan kepribadian skizoid
Artikel bertopik psikiatri atau psikologi ini tidak dimaksudkan sebagai acuan analisa atau penentuan pengobatan atas kondisi diri sendiri atau orang lain. Silakan berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog klinis yang berwenang melakukan hal tersebut. Silakan baca juga halaman mengenai sangkalan medis
Gangguan kepribadian skizoid

Gangguan kepribadian skizoid adalah gangguan di mana orang yang memilikinya sering menjauhkan diri dari orang lain serta memiliki pemikiran yang bersifat eksentrik.[1] Ciri-ciri individu yang mengalami skizoid adalah tidak memiliki keinginan untuk intim atau menjadi bagian dari kelompok sosial, dan sering kali memilih sendirian daripada bersama dengan orang lain.[2] Individu ini juga cenderung tidak menunjukkan emosi secara penuh, kebutuhan akan afeksi yang kurang dan rendahnya introspeksi diri.[2][3]

Penderita SPD mungkin memiliki rasa superioritas yang tersembunyi, tetapi lain seperti penderita Gangguan Kepribadian Narsistik, penderita SPD tidak mencari pengakuan orang lain atau validasi sosial.[4] Penderita SPD sering kali merahasiakan pemikiran dan kreasi mereka untuk menghindari perhatian yang tidak diinginkan,[4] karena pada umumnya penderita SPD lebih senang jika orang lain di sekitarnya tidak mengetahui atau tidak menganggap keberadaan mereka.

Penyebab

Penyebab dari kelainan ini masih belum diketahui dan mungkin berhubungan dengan skizofrenia. Kelainan kepribadian skizoid tidak separah skizofrenia karena tidak menyebabkan diskoneksi dari realitas (pada bentuk halusinasi atau delusi) yang biasanya muncul pada penderita skizofrenia.[5] Beberapa profesional kesehatan mental berspekulasi bahwa masa kanak-kanak yang suram di mana tidak ada kehangatan dan emosi berkontribusi pada perkembangan gangguan tersebut.

Gejala

Biasanya seseorang dengan kelainan kepribadian skizoid akan terlihat menyendiri dan terpisah, menghindari kegiatan sosial yang melibatkan kedekatan emosional dengan orang lain dan tidak ingin atau tidak bisa menikmati hubungan yang dekat, bahkan dengan anggota keluarga.[5]

Diagnosis

Menurut DSM-5, kriteria yang digunakan untuk mendiagnosis gangguan skizoid adalah:

  • Pola yang meliputi ketidakmelekatan kepada hubungan sosial dan jangkauan ekspresi emosional yang terbatas dalam kondisi hubungan interpersonal, dimulai dari awal masa dewasa, dan hadir dalam berbagai konteks, yang setidaknya timbul dalam bentuk empat atau lebih kondisi berikut:
    • Hampir selalu memilih melakukan aktivitas sendirian
    • Memiliki sedikit, atau hampir tidak ada, ketertarikan seksual dengan orang lain
    • Hanya mendapat sedikit, kalaupun ada, kesenangan dari melakukan aktivitas
    • Kekurangan teman dekat, atau orang kepercayaan yang lebih dari sekadar kerabat di lapis pertama
    • Tidak peduli dengan pujian atau kritik orang lain
    • Memperlihatkan emosi yang dingin, ketidakmelekatan, atau menunjukkan kasih sayang yang terlihat datar
  • Tidak terjadi secara eksklusif dalam periode skizofrenia, gangguan bipolar atau gangguan depresif dengan kondisi psikotik, gangguan psikotik lainnya, atau gangguan spektrum autisme, dan akibat dari kondisi medis lainnya.[6]

Pengobatan (Terapi)

Seseorang dengan kelainan kepribadian ini tidak akan mencari pengobatan atau terapi. Oleh karena itu, sulit diketahui bagaimana langkah terapi yang efektif, misalnya terapi bicara juga tidak efektif. Hal ini disebabkan karena seseorang dengan kelainan ini mempunyai kesulitan untuk membentuk komunikasi dengan terapis. Salah Satu pendekatan yang dapat membantu Terapi yaitu mengurangi kebutuhan kedekatan emosional atau intimasi pada individu tersebut. Individu dengan kelainan kepribadian skizoid biasanya membentuk relasi yang baik tanpa fokus dengan kedekatan emosional. Mereka baik untuk membina relasi yang berfokus pada pekerjaan, aktivitas intellectual dan ekspektasi.[5]

Referensi

  1. ↑ Kartono, Kartini (1987). Kamus Psikologi. Pionir Jaya. hlm. 433.
  2. 1 2 "Kamu ups Kesehatan". www.kamuskesehatan.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-07-26. Diakses tanggal 24 Juni 2014.
  3. ↑ VandenBos, Gary. APA Dictionary of Psychology. hlm. 815.
  4. 1 2 "Treatment of schizoid personality: An analytic psychotherapy handbook - ProQuest". search.proquest.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-08-22.
  5. 1 2 3 "Schizoid personality disorder: MedlinePlus Medical Encyclopedia". medlineplus.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-09-21.
  6. ↑ American Phsyciatric Accosiation. Diagnostic and Statiscal Manual of Mental Disorders - DSM 5. American Phsyciatric Publishing. Washingon DC dan London:2013
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
  • GND


Ikon rintisan

Artikel bertopik kedokteran atau medis ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Penyebab
  2. Gejala
  3. Diagnosis
  4. Pengobatan (Terapi)
  5. Referensi

Artikel Terkait

Jeffrey Dahmer

pembunuh berantai Amerika, kanibal dan necrophile

Parafrenia

halusinasi), tetapi tidak memiliki gejala negatif seperti gangguan kecerdasan atau kepribadian. Dibandingkan dengan skizofrenia, paraphrenia kurang diwariskan

Kehampaan

atau gangguan mental/emosional lainnya, termasuk gangguan kepribadian skizoid, pasca trauma, ganguan hiperaktivitas, kekurangan perhatian, gangguan kepribadian

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026