Kebijakan keagamaan Konstantinus Agung telah disebut ambigu dan sulit dipahami. Lahir pada tahun 273 selama Krisis Abad Ketiga, Konstantinus Agung berusia tiga puluh tahun pada masa Penganiayaan Besar. Ia menyaksikan ayahnya menjadi Augustus dari Barat dan kemudian meninggal tak lama kemudian. Konstantinus menghabiskan hidupnya di militer berperang dengan sebagian besar keluarga besarnya, dan memeluk agama Kristen pada usia sekitar 40 tahun. Kebijakan keagamaannya, yang terbentuk dari pengalaman-pengalaman ini, meliputi peningkatan toleransi terhadap agama Kristen, pembatasan peraturan terhadap politeisme Romawi dengan toleransi, partisipasi dalam menyelesaikan pertikaian agama seperti skisma dengan kaum Donatis, dan penyelenggaraan konsili-konsili termasuk Konsili Nicea mengenai Arianisme. John Kaye mencirikan pertobatan Konstantinus, dan Konsili Nicea yang diadakan Konstantinus, sebagai dua hal terpenting yang pernah terjadi pada gereja Kristen.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Kebijakan keagamaan Konstantinus Agung telah disebut ambigu dan sulit dipahami.[1]: 120 Lahir pada tahun 273 selama Krisis Abad Ketiga (235–284 M), Konstantinus Agung berusia tiga puluh tahun pada masa Penganiayaan Besar. Ia menyaksikan ayahnya menjadi Augustus dari Barat dan kemudian meninggal tak lama kemudian. Konstantinus menghabiskan hidupnya di militer berperang dengan sebagian besar keluarga besarnya, dan memeluk agama Kristen pada usia sekitar 40 tahun. Kebijakan keagamaannya, yang terbentuk dari pengalaman-pengalaman ini, meliputi peningkatan toleransi terhadap agama Kristen, pembatasan peraturan terhadap politeisme Romawi dengan toleransi, partisipasi dalam menyelesaikan pertikaian agama seperti skisma dengan kaum Donatis, dan penyelenggaraan konsili-konsili termasuk Konsili Nicea mengenai Arianisme.[2] : 60 John Kaye mencirikan pertobatan Konstantinus, dan Konsili Nicea yang diadakan Konstantinus, sebagai dua hal terpenting yang pernah terjadi pada gereja Kristen.[3]: 1