Biografi
Romo Kuntara lahir di desa Kepuh, Bowan, Delanggu, Klaten pada tanggal 19 Oktober 1946.[1]
Pendidikan menengahnya dilalui di seminari Mertoyudan, Magelang. Pada babak inilah ia mengalami pendidikan bahasa klasik yang akan mendasari dan menentukan jalan hidupnya kemudian. Pelajaran bahasa Jawa, Jawa Kuna, serta Prancis hingga Latin ia dapatkan langsung dari para pendidik tangguh seperti Romo Soenarja (seorang spiritualis sekaligus sang penerjemah Kitab Suci dalam bahasa Jawa.[2] Emmanuel Subangun, yang juga menguasai bahasa Latin dan Jawa, selalu menyebut terjemahan Romo Soenarja tersebut setara keindahan bahasanya dengan bahasa Latin kitab Biblia Vulgata. Sebagaimana pula Daniel Dhakidae selalu mengingatkan keindahan terjemahan Biblia Vulgata ke dalam bahasa Jerman oleh Martin Luther. Bersama romo Kuntara baik Emmanuel maupun Daniel adalah lingkaran dalam di forum Alocita di Surabaya dan Yogyakarta pada periode 1990-an maupun pada forum Rumah Ganeca di Utan Kayu, Jakarta setelah tahun 2000-an).
Pada kasus pemuda Kuntara dapat kita lihat betapa lingkungan pendidikan bahasa klasiknya adalah lingkungan di level prima. Di kawah Candradimuka Mertoyudan ia deklamasikan puisi panjang “Malam November” karya penyair Prancis Alfred de Musset. Di Mertoyudan itu pula dasar bahasa Latinnya dikukuhkan. Ia begitu mencintai bahasa Latin, bahasa ilmu pengetahuan klasik di Eropa itu. Sedemikian dalam cintanya sehingga kabar burung menyebut bahwa sang pemuda Delanggu ini akan bercucuran air matanya jika nilai ujian bahasa Latinnya tak mencapai angka sempurna, sepuluh !
Inilah batu pondasi kebahasaan pemuda Kuntara yang tentu tak terlihat alam kasat mata. Akan tetapi ketika antara usia 22 tahun hingga 33 tahun nanti ia melahirkan karya-karya geguritannya dalam Panglocita maka dasar didikan bahasa klasik inilah yang seperti berpendar, berkemilau melalui diksi , irama, dan gaya tuturnya. Pada usia 19 tahun pemuda Kuntara masuk ke novisiat Serikat Yesus. Tepatnya pada tanggal 7 September 1965.
Panglocita berisi 49 geguritan karya Romo Kuntara, yang diciptakan dalam kesunyian dirinya pada kurun waktu antara tahun 1968 hingga 1979. Tak ada seorangpun yang mengetahui tentang keberadaan Panglocita, hingga kemudian ditemukan oleh Romo Subanar justru setelah sang kawiswara, penyair itu merampungkan perjalanan hidupnya.[3]
Mengapa ada disebut kampung Gunungketur, Yogyakarta pada geguritannya di Panglocita? Ternyata seusai novisiatnya pada tahun 1968 beliau ditugaskan oleh Provinsial Sarekat Yesus untuk kuliah di Jurusan Sastra Nusantara UGM dan kost di Gunungketur.
Ada tak kurang dari 26 geguritan tercipta selama dua tahun kemudian termasuk yang tertuju pada mendiang sang ibu, Fudiana Temu, dengan judul “In Memoriam”. Ibu itu wafat setelah melahirkan adik lelaki Kuntara, yang juga ikut kembali ke pangkuan Sang Pencipta sehari kemudian. Satu titik kritis dalam jiwanya terbentuk, keterpisahan di usia belia dengan perempuan yang melahirkannya.
Romo Kuntara merampungkan studi doktoralnya di UGM pada tanggal 2 November 1987. Beliau menyusun disertasi tentang Kakawin Arjunawiwaha.[4] Inilah jalur akademisnya sebagai “sarjana palana sadhu vigraha tatpara”. Dia yang mengetahui kebaikan atau keburukan, keindahan atau kejelekan, dan kepintaran atau kedunguan.
Justru pada titik inilah, antara baju profesionalnya sebagai lulusan doktor sastra UGM berpredikat maxima cum laude, dengan karya cipta dalam sunyi berwujud geguritan Panglocita terletak .... retakan teks manusia Kuntara. Sebagai manusia Jawa ia sampai pada tataran kawiswara. Namun tataran itu yang justru tertenggelamkan oleh rezim akademik, baik melalui disiplinnya maupun dalam percaturannya. Selamanya ia akan dikenang sebagai ahli sastra Jawa.[5] Akan tetapi antara gelar akademik dengan karya geguritan ternyata tak terletak dalam satu garis lurus.
Seorang sahabatnya bersaksi, “Pada saat membaca geguritan Panglocita saya menemukan suksma sang wali wadhat. Inilah suksma yang justru kusam ketika dia memasuki jagad akademik, menjadi pembaca buku-buku tua. Saya selalu merasa sahabat saya ini adalah seniman, kawiswara, penyair. Tapi selama hayatnya tak pernah secuil pun dia sampaikan pada saya.” Dan pada ujungnya datang kesan,”...ditemukan keraguan dan seluruh kegamangan sahabat kita untuk pindah dari dunia kakawin ke dunia ahli kakawin atau filologi itu.”
Dengan itu semua toh pada akhirnya kita akan menyimak kembali dari geguritan yang beliau tuliskan di Bulaksumur, pada bulan November tahun 1979:
“Ora ono barang muspra”
Karier
Pada akhir tahun 1978, Romo Kuntara ditahbiskan sebagai imam. Puncaknya, pada 2 November 1987, ia merampungkan studi doktoralnya di UGM dengan disertasi monumental tentang Kakawin Arjunawiwaha.[6] Disertasinya ini, sebuah suntingan dari teks Kakawin Arjunawiwaha yang bersumber dari naskah lontar MP 165 di Perpustakaan Nasional, Paris, memberikannya gelar doktor maxima cum laude. Prof. Dr. A. Teeuw, promotornya, memuji keahliannya sebagai pembaca, penafsir, peneliti, dan pengkritik sastra yang canggih.[3]
Romo Kuntara memilih naskah lontar MP 165 karena keunikannya, yaitu sisipan satu bait setelah AW 1.8 yang tidak ditemukan dalam naskah lain, menjadikannya "mata rantai penting dalam perjalanan tradisi Arjunawiwaha". Dalam menyunting, ia menerapkan dua metode: teks diplomatik (menghadirkan teks sedekat mungkin dengan naskah sumber) dan teks dengan perbaikan bacaan (memberikan sentuhan filologis untuk memudahkan pemahaman, dengan standardisasi kata dan ejaan).[7]
Selain itu, Romo Kuntara juga dikenal atas penelitian pionirnya tentang naskah-naskah Merapi-Merbabu.[8] Ia adalah salah satu dari segelintir filolog yang secara serius memfokuskan diri pada naskah "Budo" ini, yang diyakini sebagai "mata rantai yang hilang"—sebuah bentuk resepsi Jawa yang berkembang di pegunungan, bukan di Bali. Disertasinya tentang Arjunawiwaha versi Merapi-Merbabu menunjukkan perbedaan signifikan dengan versi lontar Bali, di mana Arjuna digambarkan sebagai "seorang satria dan yogi" yang tangguh. Penelitiannya juga mengungkap adanya serapan teks-teks ini oleh para pujangga istana Surakarta, menunjukkan bobot dan relevansi tinggi dari karya "orang pinggiran" tersebut.[9] Romo Kuntara menemukan kekayaan tema, mulai dari olah batin hingga kisah perjalanan roh, serta bukti interaksi komunitas religius Merapi-Merbabu dengan budaya pesisir dan bahkan kisah-kisah Islam.[10]
Sosok "Romo Klenik"
Di luar keahlian akademisnya, Romo Kuntara dikenal luas dengan julukan "Romo Klenik" karena penampilannya yang unik dan berani, terutama saat di forum-forum akademis internasional. Ia tak pernah lepas dari destar hitam di kepala, sepotong kayu Walikukun di tangan, dan figur Petruk—punakawan kesayangannya—yang selalu setia mendampingi. Penampilannya ini, mengombinasikan jubah rohaniwan dengan atribut khas Jawa, sering kali membuat banyak orang terperangah.
Keunikan ini mencapai puncaknya ketika ia menjadi penguji disertasi seorang mahasiswa Indonesia di École des Hautes Études en Sciences Sociales (EHESS) Paris.[11] Di hadapan dewan penguji yang berakar pada pemikiran Rene Descartes, Romo Kuntara hadir dengan destar hitam dan figur Petruk. Ia bahkan menggunakan Petruk sebagai perantara dalam menyampaikan gagasan ilmiahnya tentang sastra Jawa kuno dalam bahasa Prancis, diselingi tembang Jawa. Ini adalah "perlawanan arus" yang berani, menampilkan citra mistik dan klenik Jawa di tengah majelis akademis Barat yang identik dengan rasionalitas.[12] Semua yang disampaikan melalui Petruk adalah hal-hal ilmiah yang ia kuasai, berakar kuat pada khazanah sastra Jawa kuno.
Karya
Panglocita
Masa antara usia 22 hingga 33 tahun (1968–1979) merupakan periode paling produktif bagi Romo Kuntara dalam menciptakan geguritan (puisi Jawa) pribadi. Dalam kesunyian dirinya, ia menciptakan 48 geguritan[3] yang terangkum dalam antologi Panglocita. Keberadaan karya ini tidak diketahui siapa pun hingga ditemukan oleh Gregorius Budi Subanar setelah sang "kawiswara" (penyair) itu berpulang.[3]
- Tahun 1968: Di Kolese St. Ignatius (Yogyakarta) ia menciptakan "Branjangan", "Jalukane Bocah", "Lintang Panjer Rina", "Mitra", "Tresna Jati", dan "Yen Aku Krasa". Di Panti Rapih, ia menulis "Yen Si Ati Nembang Sedhih", "Godha", "Suling Pecah", "Grimis", dan "Panyuwunan". Di Gunungketur ia menciptakan "In Memoriam" (didikasikan untuk mendiang ibunya), "Ngaso", "Dhadhah", "Keduwung (II)", "Ngumbara", "Mawar", "Imam", "Ngaso (II)", dan "Kurban".
- Tahun 1969: Di Gunungketur ia menulis "Solitude (I)" dan "Solitude (II)". Di Kaliurang ia menciptakan "Kasuburan", "Tembang", dan "Panggagas".
- Tahun 1970: Di Kolese De Britto ia menulis "Pangeling-eling", "Tresna: Totoh Jiwa-Raga", "Ngiwi-iwi", "Kidung Wengi", "Sepi, Kali Mbebisiki", dan "Gambar Pojok Tembok". Di Karangmalang ia menciptakan "Paskah".
- Tahun 1972: Di Salemba Bluntas Jakarta ia menulis "Lintang Dhuwur Gunung", "Mbulan Tengah Langit", dan "Tangis".
- Tahun 1973: Di Rumah Sakit Panti Rapih, ia menulis "Delengen, Nini, Urip Iki", "Mbulan Ndhuwur Menara", "Unining Layang", "Sendhang Ngisor Ringin", dan "Welinging Layang". Di Panti Rapih, MP ia menulis "Sepi", "Pisahan", dan "Panalangsa".
- Tahun 1974: Di Ende, Flores, ia menciptakan "Aimere". Di Soe-Timor, ia menulis "Oesapa".[13] Di Surabaya, ia menulis "Kampung Tengah Kutha".
- Tahun 1979: Di Bulaksumur UGM, ia menulis "Wis Arang…" dan "Cantrik Janaloka".
Kumpulan geguritan ini menawarkan potret intim perjalanan batin seorang rohaniwan, cendekiawan, dan penyair yang mampu merangkum pengalaman pribadinya—dari duka mendalam hingga pengamatan filosofis—dalam keindahan bahasa Jawa yang memesona.
Panyuwunan
Salah satu karya Romo Kuntara yang belakangan kembali mencuat adalah puisi sekaligus lagu "Panyuwunan" (Permohonan).[14] Karya ini, yang sering dipandang sebagai jembatan antara spiritualitas Kristiani dan filosofi Jawa, kembali ramai diperbincangkan karena pesan dan melodinya yang relevan dan menginspirasi banyak hati. "Panyuwunan" menjadi pengingat abadi akan kemampuannya mengintegrasikan pemikiran Barat dengan kekayaan budaya Nusantara.
Sraddha-Jalan Mulia: Dunia Sunyi Jawa Kuna
Buku Sraddha-Jalan Mulia: Dunia Sunyi Jawa Kuna setebal 352 halaman diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada tahun 2019.[15] Buku ini menjadi gerbang utama bagi khalayak umum untuk menyelami kedalaman pemikiran Romo Kuntara. Meskipun diterbitkan setelah beliau wafat, buku ini mengumpulkan berbagai tulisan Romo Kuntara—mulai dari tinjauan buku, ulasan serat Jawa dan kakawin, studi filologi, hingga kumpulan geguritan. Judul "Sraddha" dimaknai tidak hanya sebagai upacara memuliakan orang meninggal, melainkan juga sebagai simbol kerinduan, kesetiaan, dan keteguhan.
Gregorius Budi Subanar, seorang peneliti budaya dan rohaniwan, Imanuel Subangun dan Primanto Nugroho, memiliki kontribusi signifikan sebagai penyelamat karya-karya Romo Kuntara, terutama dalam menggarap dan menerbitkan Sraddha-Jalan Mulia: Dunia Sunyi Jawa Kuna dan Panglocita. Penemuan Panglocita oleh Romo Budi Subanar setelah Romo Kuntara berpulang dianggap sebagai penyelamatan warisan sastra yang tak ternilai.
Kolaborasi dan Lingkar Intelektual
Kiprah intelektual Romo Kuntara tak dapat dilepaskan dari peran penting para individu yang bekerja bersamanya dalam melestarikan dan menyebarkan pemikirannya. Lingkaran ini aktif dalam berbagai forum diskusi seperti Alocita di Surabaya dan Yogyakarta pada periode 1990-an, serta Rumah Ganeca di Utan Kayu, Jakarta, setelah tahun 2000-an.[16]
Warisan
Ignatius Kuntara Wiryamartana, S.J. berpulang pada 26 Juli 2013. Sepeninggalnya, jejak keilmuan dan kehadirannya tetap terasa. Warisan keilmuan Romo Kuntara diabadikan dalam Pustaka Kuntara di Perpustakaan Kolese St. Ignatius (Kolsani) Yogyakarta, yang kini dibuka untuk umum dengan koleksi lebih dari 150.000 eksemplar buku, termasuk lebih dari 8.000 buku dari koleksi Romo Kuntara.[17] Diskusi-diskusi dan forum peringatan, seperti "Sraddhā, Jalan Sunyi Jawa Kuna" dan Diskusi Naskah Nusantara di Perpustakaan Nasional Indonesia, terus menghidupkan dan merujuk pada rekam jejak serta karya-karya monumental beliau, menegaskan bahwa pemikiran Romo Kuntara terus menjadi mercusuar dalam studi Naskah Nusantara dan sastra Jawa.[17]
Romo Kuntara adalah sosok yang membuktikan bahwa keilmuan yang mendalam dapat berpadu dengan keberanian menampilkan identitas budaya, bahkan jika itu berarti "melawan arus" pandangan konvensional. Ia bukan hanya seorang pakar sastra Jawa kuna, melainkan juga seorang jembatan antara dunia akademis Barat yang rasional dan kekayaan mistik serta klenik budaya Jawa yang mendalam.
Kematian
Romo Kuntara meninggal dunia karena sakit di Rumah Sakit Elizabeth, Semarang, Jumat 26 Juli 2013 dinihari pukul 01.45.Ia dimakamkan di makam Girisonta, Karangjati, Ungaran Selatan, Kabupaten Semarang keesokan harinya tanggal 27 Juli 2013.
Pustaka
Buku
- Banawiratma, J. B. (2017). Petruk dan MEA: Lakon Liberatif. Yogyakarta: PT Kanisius. ISBN 978-979-21-5085-5.
- Geria, Anak Agung Gde Alit. (2018). Wacana Śiwa-Buddha dalam Kakawin Nilacandra. Denpasar: Cakra Media Utama. ISBN 978-602-53093-6-0.
- Hadiprayitno, Kasidi. (2009). Filsafat Keindahan Suluk Wayang Kulit Purwa Gaya Yogyakarta: Pemahaman Konsep Suluk sebagai Jalan ke Arah Keluhuran Budi dan Moralitas Bangsa. Yogyakarta: Bagaskara. ISBN 978-602-8419-02-1.
- Karja, I. Wayan. (2020). Kosmologi Bali Visualisasi Warna Pangider Bhuwana dalam Seni Lukis Kontemporer. Denpasar: Unhi Press. ISBN 978-623-7476-13-1.
- Kasidi, M. (tanpa tahun). Estetika Pedalangan: Ruwatan Murwakala Kajian Estetika dan Etika Budaya Jawa. Yogyakarta: Dwi-Quantum.
- Kozok, Uli, dkk. (2006). Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah: Naskah Melayu yang Tertua. Jakarta: Yayasan Naskah Nusantara/Yayasan Obor Indonesia. ISBN 979-461-603-6.
- Robson, Stuart. (2008). Arjunawiwāha: The Marriage of Arjuna of Mpu Kanwa. Leiden: Brill. ISBN 978-90-04-16599-2.
- Setyawati, Kartika, Wiryamartana, I. Kuntara, & van der Molen, Willem. (2002). Katalog Naskah Merapi-Merbabu: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Yogyakarta: Penerbitan Universitas Sanata Dharma; Leiden: Opleiding Talen en Culturen van Zuidoost-Azië en Oceanië. ISBN 90-73084-23-7.
- Soemanto, Bakdi. (2021). Godot di Amerika dan di Indonesia: Suatu Studi Banding. Yogyakarta: UGM PRESS. ISBN 978-602-386-813-8.
- Spars, Brandon. (tanpa tahun). Rangda: The Legendary Goddess of Bali. California: Wayzgoose Press.
- Subanar, Gregorius Budi (Ed.). (2013). Oase Drijarkara: Tafsir Generasi Masa Kini. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma. ISBN 978-602-9187-67-0.
- Subanar, Budi. (2019). Sraddha-Jalan Mulia: Dunia Sunyi Jawa Kuna. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 978-602-481-087-0.
- Taum, Yoseph Yapi. (2020). Kajian Semiotika: Godlob Danarto dalam Perspektif Teeuw. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press. ISBN 978-623-7443-43-0.
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1983). Sastra Jawa Modern dalam Jaringan Tegangan-Tegangan. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1988). Serat Candrarini: Masalah Pencipta dan Penciptaannya. Yogyakarta: Lembaga Javanologi, Yayasan Panunggalan.
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1990). Arjunawiwāha: Transformasi Teks Jawa Kuna lewat Tanggapan dan Penciptaan di Lingkungan Sastra Jawa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. ISBN 978-979-8139-07-9.
- Wiryamartana, I. Kuntara. (2018). Sastra Jawa & Islam. Jakarta: Pustaka Alvabet. ISBN 978-602-9193-94-6.
Tesis dan Disertasi
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1977). Salyawadha: Tinjauan tentang Hubungan Kakawin Bhāratayuddha dengan Mahabharata. Tesis. Yogyakarta: Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada.
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1984). Transformasi Wiracarita Mahabharata dalam Pewayangan Jawa: Tinjauan Khusus Baratayuda Tradisi Yogyakarta. Yogyakarta: Proyek Javanologi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1990). Kakawin Bhāratayuddha: Suatu Analisa Struktural. Yogyakarta: Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada.
Artikel Jurnal, Prosiding, dan Bab Buku
- Adji, SE Peni. (tanpa tahun). "3: f," dalam H* EKA. [Catatan: Informasi tidak lengkap, perlu verifikasi lebih lanjut].
- Andaya, Leonard Y. (1993). "Looking in Odd Mirrors: The Java Sea". Journal of Asian Studies, 52(3), 780–781. doi:10.2307/2058919.
- Angkasa, Ida Wayan. (2001). "Singing and Interpreting Kakawin". Contemporary Theatre Review, 11(2), 37–44. doi:10.1080/10486800108568629.
- Anjani, A., & Suparta, I. M. (2019). "Handling Ecological Problems in Gaga Rice Cultivating through Mantra Darmawarsa of Merapi-Merbabu". IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 325(1). doi:10.1088/1755-1315/325/1/012008.
- Astawan, Nyoman, & Muada, I. Ketut. (2019). "Kajian Aspek Naratif dan Religiusitas Gaguritan Arjuna Wiwaha". Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni, 8(1), 1–20.
- Barnard, Rohayati Paseng. (2004). "Katalog Naskah Merapi-Merbabu Perpustakaan Nasional Republik Indonesia". Journal of Southeast Asian Studies, 35(3), 562. doi:10.1017/S0022463404000294.
- Behrend, Tim E. (1993). "Manuscript Production in Nineteenth-Century Java: Codicology and the Writing of Javanese Literary History". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 149(3), 407–437. doi:10.1163/22134379-90003119.
- Chambert-Loir, Henri. (1993). "Un Colloque sur les Manuskrip d’Asie du Sud-Est (International Workshop on Indonesian Studies n° 7)". Archipel, 45(1), 31–34. doi:10.3406/arch.1993.2941.
- Chambert-Loir, Henri. (2003). "Katalog Naskah Merapi-Merbabu Perpustakaan Nasional Republik Indonesia". Archipel, 65(1), 218–220. doi:10.3406/arch.2003.3749.
- Dwijayanthi, Ni Made Ari, & Gunawijaya, I. Wayan Titra. (2021). "Perempuan dalam Babad Calonarang". Caraka: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(1), 90–100.
- Duija, I. N. (2005). "Tradisi Lisan, Naskah, dan Sejarah". Wacana, 7(2), 115–124.
- Endraswara, Suwardi. (2015). "Model Pembelajaran Antropologi Sastra Berbasis Kearifan Lokal untuk Penanaman Karakter Berpikir Positif". Sasindo: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 3(1).
- Headley, Stephen C. (tanpa tahun). "The Javanese Wuku Weeks". Dalam Weights and Measures in Southeast Asia, 211.
- Hiligaynon, Ingles, & Tagalog Iluko. (2013). "Selected References". Dalam The Canon in Southeast Asian Literatures, 254.
- Hunter, Thomas M. (2016). "A New Text and Translation of Java’s Rāmāyaṇa". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 172(2–3), 343–348. doi:10.1163/22134379-17202006.
- Kriswanto, Agung. (2016). "Catatan Sebuah Peristiwa pada Masa Amangkurat I dari Naskah Merapi-Merbabu". Manuskripta, 6(1), 167–179.
- Kriswanto, Agung. (2019). "Naskah-Naskah Keislaman dari Skriptorium Merapi-Merbabu di Perpustakaan Nasional". Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara, 10(1), 19.
- Kriswanto, Agung, & Perpustakaan Nasional RI. (tanpa tahun). "Masalah Tiga Bait Kakawin Darmasunya Versi Merapi-Merbabu ‘Asli’ atau Interpolasi?". Dalam Prosiding, 94. [Catatan: Informasi tidak lengkap, perlu verifikasi lebih lanjut].
- Kurniawan, Abimardha. (2021). "Ada Aksara di Antara Angka dan Bulatan Itu: Sakala Dihyang dan Upaya Penafsirannya". Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara, 12(2), 143–162.
- Kurniawan, Abimardha. (2023). "Turun Gunung: Dharmaśūnya dalam Tradisi Jawa". Dalam International Kawi Culture Festival.
- Kurniawan, A. (2023). "Kṛtabhāṣa Sebuah Karya Leksikografi: Naskah-Naskah dan Hubungan Antarnaskah". Dalam Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XIX.
- Kusumaningdyah, Dwi Ratna, & Panjaitan, Firman. (2023). "Ludruk sebagai Media Mengabarkan Misi Kerajaan Allah di Lingkup Greja Kristen Jawi Wetan". Manna Rafflesia, 10(1), 162–175.
- Laksananto, Muhammad Shidiq. (2013). "Serat Pethikan Pustakaraja Purwa Transliterasi, Analisis Struktur, dan Pemahaman Estetik". Suluk Indo, 2(2), 254–271.
- Nugroho, Sugeng. (2024). "Transformation of Kakawin Arjunawiwāha into the Scenario Text of Wayang Kulit Purwa Performance Lakon Harjuna Wiwaha". Transformation.
- Pidada, Ida Bagus Jelantik Sutanegara, dkk. (tanpa tahun). "Sketch of Intertextuality of Texts with Islamic Discourses in Traditional Balinese Literature".
- Pravitasari, Galuh Lutfa, & Widyawati, Setya. (2024). "Makna Simbolis Tari Jaro Rojab di Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas". Greget: Jurnal Kreativitas dan Studi Tari, 23(1), 76–99.
- Purwanti, Retno. (2012). "Kerinci pada Masa Klasik". Academia.edu, 1–15.
- Radhika, Safni, & Holil, Munawar. (2025). "Eschatology in Hikayat Raja Jumjumah and Kunjarakarna". Interdisciplinary Social Studies, 4(3), 270–282.
- Rahayu, Yosephin Apriastuti, & Wiryamartana, I. Kuntara. (2003). "Duta dalam Udyogaparwa: Data in Udyogaparwa". Sosiohumanika, 16(B), 16.
- Ramadhan, Endar Fajar. (2020). "Lakon Prahara Wilwatikta Sajrone Pagelaran Wayang Babad Dening Ki M. Naufal Fawwas (Tintingan Alih Wahana lan Intertekstualitas)". JOB (Jurnal Online Baradha), 10(1).
- Restinaningsih, Lilis. (2010). "Kakawin Sena (dalam Tinjauan Filologis)".
- Restinaningsih, Lilis. (2011). "Kakawin Sena: Sebuah Kakawin pada Masa Jawa Baru dari Lereng Merbabu". Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara, 2(1), 46–57.
- Ricklefs, M. C. (2012). "Older Cultural Styles on the Defensive". Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952. doi:10.1002/anie.201204552.
- Riyanto, Sugeng. (1994). "Sosok Dewa Indra Menurut Beberapa Karya Sastra Jawa Kuna". Berkala Arkeologi, 14(2), 73–77.
- Robson, Stuart. (2001). "On Translating the Arjunawiwāha". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 157(1), 35–50. doi:10.1163/22134379-90003802.
- Robson, Stuart. (2011). "Javanese Script as Cultural Artifact: Historical Background". RIMA: Review of Indonesian and Malaysian Affairs, 45(1/2), 9–36.
- Setyawati, Kartika. (2010). "Kidung Surajaya: Surajaya sebagai Tīrthayātrā". Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara, 1(1), 82–93.
- Sudaryanto. (2009). "Perbandingan Latar Belakang Filosofis Konsep Kekeluargaan dalam Sistem Sosial Jawa dan Sistem Kenegaraan Indonesia". Jurnal Filsafat, 19(3), 273–286.
- Sulanjari, Bambang. (tanpa tahun). "Ideologi versus Identitas dalam Pagelaran Wayang Kulit". [Catatan: Informasi tidak lengkap, perlu verifikasi lebih lanjut].
- Sumarno, dkk. (2020). "Kultus Hanuman: Pembawa Hujan dalam Naskah Merapi-Merbabu". Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya, 21(3), 353–368.
- Sumiyardana, Kustri. (2017). "Hubungan Teks dan Ilustrasi dalam Serat Bratayuda Naskah Pusaka Keraton Yogyakarta". Alayasastra: Jurnal Kesusastraan, 13, 1–18.
- Supomo, S., & Nijhoff, Martinus. (2019). "Membalik-balik Kakawin Arjunawijaya". Dalam Sraddha, 246.
- Sunardi. (2012). "Konsep Rasa dalam Pertunjukan Wayang Kulit Purwa". Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 122424.
- Tedjowirawan, Anung. (2018). "Sĕrat Darmasarana as The Reception of Ādiparwa, Mosalaparwa and Prasthānikaparwa". Dalam International Seminar on Recent Language, Literature, and Local Cultural Studies (BASA 2018). Atlantis Press.
- Triyogo, Yohanes Brefeur Rahno, & Wiryamartana, I. Kuntara. (2001). "Hubungan Intertekstual dalam Banjaran Gathutkaca Karya Ki Nartosabdo". Sosiohumanika, 14.
- van der Meij, Dick. (2009). "Stuart Robson, Arjunawiwāha; the Marriage of Arjuna of Mpu Kanwa". [Catatan: Informasi jurnal tidak lengkap, perlu verifikasi lebih lanjut]. ISBN 978-90-6718-321-5.
- van der Molen, W. (2007). "Manuscripts of the Old Javanese Baratayuda in the Merapi-Merbabu Collection". Sari, 25, 95–105.
- van der Molen, W., & Wiryamartana, I. Kuntara. (2001). "The Merapi-Merbabu Manuscripts: A Neglected Collection". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 157(1), 51–64. doi:10.1163/22134379-90003803.
- Walles, William F. (1994). "Asian Christian Spirituality: Reclaiming Traditions". 304–310. [Catatan: Informasi jurnal tidak lengkap, perlu verifikasi lebih lanjut].
- Wieringa, Edwin. (2000). "The Illusion of an Allusion: A Soothing Song for the Exiled Prince Dipasana (d. ca 1840) in Ambon". Journal of the Royal Asiatic Society, 10(2), 193–204. doi:10.1017/S1356186300012770. Wieringa, Edwin. (2004). "Katalog Naskah Merapi-Merbabu; Perpustakaan Nasional Republik Indonesia". Semaian, 23, 413–415.
- Wijayanto, Muhammad Heno, & Suparta, I. Made. (2023). "Aji Saraswati Merapi-Merbabu: Transformasi Teks Bhimaswarga sebagai Panduan Ritual Literasi di Gunung Lawu Abad Ke-16". Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara, 14(2), 187–214.
- Windya, Ida Made. (2020). "Kakawin Arjuna Wiwāha: Kajian Teologi Hindu". Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja, 3(2).
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1980). "Bebuka Serat Pustaka Raja sebagai Dasar Pemahaman Seluruh Kitab". Dalam Panitia Peringatan Pujangga Besar Ronggowarsito. Jakarta: Jurusan Sastra Jawa, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1984). "Filologi Jawa dan Kuñjarakarna Prosa". Basis, 33, 255–272. Wiryamartana, I. Kuntara. (1985). "Sastra Naratif Cina dan Sastra Nusantara (2)". [Catatan: Informasi jurnal tidak lengkap, perlu verifikasi lebih lanjut].
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1986). "Beberapa Pokok tentang Penelitian Kakawin". Basis, 35(1), 13–17.
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1987). "Kesinambungan Tradisi Arjunawiwāha di Lingkungan Sastra Jawa". [Catatan: Informasi jurnal tidak lengkap, perlu verifikasi lebih lanjut].
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1987). "Permenungan tentang Lakon Ruwat, Dalang Karurungan dari Sudut-Sudut Filsafat: Sebuah Bunga Rampai". [Catatan: Informasi jurnal tidak lengkap, perlu verifikasi lebih lanjut].
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1988). "Transformasi Wiracarita Mahabarata dalam Pewayangan (II)". Dalam Citra Yogya.
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1990). "The ‘Sea’ in the Old Javanese Literature". [Catatan: Informasi jurnal tidak lengkap, perlu verifikasi lebih lanjut].
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1991). "Puitika Jawa dalam Kancah Sastra Indonesia". Dalam Manusia dan Seni, Dick Hartoko. Yogyakarta: Kanisius.
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1993). "Puisi Jawa Kuna: Penciptaan dan Kaidah Estetisnya". Dalam Manusia dan Seni.
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1993). "The Scriptorium in the Merbabu-Merapi Area". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 149(3), 503–509. doi:10.1163/22134379-90003124.
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1994). "Melacak Asal-Usul Urutan Ha-Na-Ca-Ra-Ka". Dalam Panitia Seminar Nasional Pengkajian Makna Ha-Na-Ca-Ra-Ka.
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1994). "Merbabu-Merapi sebagai Wilayah Kajian". Makalah pada Temu Ilmiah VIII Pengelola Studi Bahasa-Sastra-Budaya Jawa Tingkat Nasional di Surabaya.
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1993). "Usaha Refleksi Filosofis dalam Alam Pemikiran Jawa". Dalam Bambang Rudianto, dkk., Jelajah Hakikat Pemikiran Timur. Jakarta: Gramedia.
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1983). "Sastra Jawa Modern dalam Jaringan Tegangan-Tegangan". Dewan Kesenian Jakarta.
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1986). "Aspek-Aspek Estetik". Majalah Basis, Edisi Juni, 23–28.
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1987). "Ungkapan Formulaik dalam Kakawin Baratayuddha (Pupuh 14—15)". SUSASTRA: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya, 3(6), 12–24.
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1998). "Menimbang Varian-Varian dalam Naskah-Naskah Jawa: Kasus Arjunawiwāha dan Bhāratayuddha". [Catatan: Informasi jurnal tidak lengkap, perlu verifikasi lebih lanjut].
- Wiryamartana, I. Kuntara. (1998). "Popularitas Tidak Perlu Diburu". Dalam Inovasi dan Transformasi Wayang Kulit. Lembaga Studi Jawa.
- Wiryamartana, I. Kuntara. (2012). "Tinjauan Buku: Filologi Jawa dan Kunjarakarna Prosa". Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara, 3(1), 178–195.
Daftar Karya
Geguritan dalam Panglocita
Kumpulan Panglocita berisi 48 geguritan yang diciptakan Romo Kuntara antara tahun 1968–1979, ditemukan oleh Gregorius Budi Subanar setelah wafatnya Romo Kuntara. Berikut adalah daftar geguritan berdasarkan tahun dan tempat penciptaan:
1968
- Kolese St. Ignatius, Yogyakarta: "Branjangan", "Jalukane Bocah", "Lintang Panjer Rina", "Mitra", "Tresna Jati", "Yen Aku Krasa".
- Panti Rapih, Yogyakarta: "Yen Si Ati Nembang Sedhih", "Godha", "Suling Pecah", "Grimis", "Panyuwunan".
- Gunungketur, Yogyakarta: "In Memoriam", "Ngaso", "Dhadhah", "Keduwung (II)", "Ngumbara", "Mawar", "Imam", "Ngaso (II)", "Kurban".
1969
- Gunungketur, Yogyakarta: "Solitude (I)", "Solitude (II)".
- Kaliurang: "Kasuburan", "Tembang", "Panggagas".
1970
- Kolese De Britto, Yogyakarta: "Pangeling-eling", "Tresna: Totoh Jiwa-Raga", "Ngiwi-iwi", "Kidung Wengi", "Sepi, Kali Mbebisiki", "Gambar Pojok Tembok".
- Karangmalang, Yogyakarta: "Paskah".
1972
- Salemba Bluntas, Jakarta: "Lintang Dhuwur Gunung", "Mbulan Tengah Langit", "Tangis".
1973
- Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta: "Delengen, Nini, Urip Iki", "Mbulan Ndhuwur Menara", "Unining Layang", "Sendhang Ngisor Ringin", "Welinging Layang", "Sepi", "Pisahan", "Panalangsa".
1974
- Ende, Flores: "Aimere".
- Soe, Timor: "Oesapa".
- Surabaya: "Kampung Tengah Kutha".
1979
- Bulaksumur, UGM, Yogyakarta: "Wis Arang…", "Cantrik Janaloka".
Karya Lain
- Panyuwunan (Puisi dan lagu, 1968): Karya yang mengintegrasikan spiritualitas Kristiani dan filosofi Jawa, dikenal luas karena relevansinya dalam konteks doa dan pandemi.
- Sraddha-Jalan Mulia: Dunia Sunyi Jawa Kuna (2019): Kumpulan tulisan Romo Kuntara yang diterbitkan secara anumerta oleh Kepustakaan Populer Gramedia, mencakup tinjauan buku, ulasan serat Jawa, kakawin, studi filologi, dan geguritan. Disunting oleh Gregorius Budi Subanar. ISBN 978-602-481-087-0.
Karya Akademis
- Salyawadha: Tinjauan tentang Hubungan Kakawin Bhāratayuddha dengan Mahabharata (1977). Tesis. Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada.
- Sastra Jawa Modern dalam Jaringan Tegangan-Tegangan (1983). Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.
- Transformasi Wiracarita Mahabharata dalam Pewayangan Jawa: Tinjauan Khusus Baratayuda Tradisi Yogyakarta (1984). Yogyakarta: Proyek Javanologi.
- Serat Candrarini: Masalah Pencipta dan Penciptaannya (1988). Yogyakarta: Lembaga Javanologi, Yayasan Panunggalan.
- Kakawin Bhāratayuddha: Suatu Analisa Struktural (1990). Yogyakarta: Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada.
- Arjunawiwāha: Transformasi Teks Jawa Kuna lewat Tanggapan dan Penciptaan di Lingkungan Sastra Jawa (1990). Yogyakarta: Duta Wacana University Press. ISBN 978-979-8139-07-9.
- Sastra Jawa & Islam (2018). Jakarta: Pustaka Alvabet. ISBN 978-602-9193-94-6.
- Katalog Naskah Merapi-Merbabu: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2002). Bersama Kartika Setyawati dan Willem van der Molen. Yogyakarta: Penerbitan Universitas Sanata Dharma; Leiden: Opleiding Talen en Culturen van Zuidoost-Azië en Oceanië. ISBN 90-73084-23-7.
Referensi
- ↑ Kompasiana.com (2013-12-20). "Mengenang Romo Kun". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-07-04.
- ↑ Wiryamartana, I. Kuntara (1983). Sastra Jawa Modern dalam Jaringan Tegangan-Tegangan. Dewan Kesenian Jakarta.
- 1 2 3 4 "Jalan Sunyi Sang Pujangga". Tempo. 2017-04-22. Diakses tanggal 2025-07-04.
- ↑ Wiryamartana, I. Kuntara (1990). Arjunawiwāha: Transformasi Teks Jawa Kuna lewat Tanggapan dan Penciptaan di Lingkungan Sastra Jawa. Duta Wacana University Press. ISBN 9789798139079.
- ↑ Setyawati, Kartika; Wiryamartana, I. Kuntara; van der Molen, Willem (2002). Katalog Naskah Merapi-Merbabu: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Penerbitan Universitas Sanata Dharma; Leiden: Opleiding Talen en Culturen van Zuidoost-Azië en Oceanië. ISBN 9073084237.
- ↑ Wiryamartana, I. Kuntara (1990). Arjunawiwāha: transformasi teks Jawa Kuna lewat tanggapan dan penciptaan di lingkungan sastra Jawa. Duta Wacana University Press. ISBN 978-979-8139-07-9.
- ↑ Wiryamartana, I. Kuntara (1984). Filologi Jawa dan Kuñjarakarna Prosa. Vol. 33. hlm. 255–272.
- ↑ Writers, Borobudur; Festival, Cultural (2021-07-18). "Menghidupkan Lamentasi Romo Kuntara Untuk Doa Pandemi". BWCF. Diakses tanggal 2025-07-04.
- ↑ van der Molen, W.; Wiryamartana, I. Kuntara (2001). "The Merapi-Merbabu Manuscripts: A Neglected Collection". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 157 (1): 51–64. doi:10.1163/22134379-90003803.
- ↑ Kriswanto, Agung (2019). "Naskah-Naskah Keislaman dari Skriptorium Merapi-Merbabu di Perpustakaan Nasional". Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara. 10 (1): 19.
- ↑ Prasetyo, Ichwan (2021-04-06). "Rama Kuntara Menghadirkan Klenik Jawa di Majelis Akademis EHESS". Espos News.
- ↑ Wiryamartana, I. Kuntara (1993). Budi Subanar, Gregorius (ed.). Usaha Refleksi Filosofis dalam Alam Pemikiran Jawa. Jakarta: Gramedia.
- ↑ SJ, Romo Gregorius Budi Subanar (2021-07-08). ""Oesapa", Pohon Lontar di Balik Lagu Doa "Panyuwunan"". SESAWI.NET (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-07-04.
- ↑ "Septina, Tatyana, dan Panyuwunan". Tempo. 17 Juli 2021 | 00.00 WIB. Diakses tanggal 2025-07-04.
- ↑ Subanar, Budi (2019-01-28). Sraddha. Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 978-602-481-087-0.
- ↑ Budi Subanar, Gregorius, ed. (2013). Oase Drijarkara: tafsir generasi masa kini (Edisi Cetakan pertama). Gejayan, Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma. ISBN 978-602-9187-67-0.
- 1 2 Obet, Rohman (2023-07-28). "Mengenang Satu Dasawarsa Meninggalnya Romo Kuntara Melalui Diskusi Naskah Nusantara". Fakultas Ilmu Budaya. Diakses tanggal 2025-07-04.