Owa bilau, bilou, owa bilou atau owa mentawai adalah suatu jenis kera unik dalam famili Hylobatidae yang mirip dengan siamang, namun kerdil dan menyebar terbatas (endemik) di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Sekujur tubuh bilou jantan, betina dan anak dipenuhi oleh rambut berwarna hitam. Berat tubuh jantan dan betina dewasa rata-rata 5,5 kg. Panjang tubuh sekitar 45 cm.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Owa bilau[1] | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Mammalia |
| Ordo: | Primata |
| Subordo: | Haplorhini |
| Infraordo: | Simiiformes |
| Famili: | Hylobatidae |
| Genus: | Hylobates |
| Spesies: | H. klossii |
| Nama binomial | |
| Hylobates klossii (Miller, 1903) | |
| Peta sebaran spesies | |
Owa bilau, bilou, owa bilou[4] atau owa mentawai (Hylobates klossii) adalah suatu jenis kera unik dalam famili Hylobatidae yang mirip dengan siamang, namun kerdil dan menyebar terbatas (endemik) di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Sekujur tubuh bilou jantan, betina dan anak dipenuhi oleh rambut berwarna hitam. Berat tubuh jantan dan betina dewasa rata-rata 5,5 kg. Panjang tubuh sekitar 45 cm.
Habitat bilou adalah Kepulauan Mentawai. Distribusinya adalah Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan.[4]
Owa bilau merupakan satwa endemik kepulauan mentawai (Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan). Primata ini dikategorikan sebagai satwa arboreal dan diurnal yang menghuni lapisan kanopi atas hutan tropis. Spesies ini bersifat omnivora dengan kecenderungan frugivora; buah-buahan menyumbang sekitar 73% dari waktu makannya, sedangkan serangga dan arthropoda sekitar 25%. [5]
Habitatnya meliputi hutan gugur, hutan musim, hutan hujan tropis selalu hijau, serta hutan rawa pada berbagai ketinggian, dengan curah hujan tahunan yang dapat mencapai 4.000 mm. Luas wilayah jelajahnya bervariasi, dilaporkan antara 7–11 hektare hingga sekitar 32 hektare, bergantung pada kondisi habitat dan ketersediaan pakan. [5]
Owa bilau hidup dalam kelompok kecil yang umumnya terdiri atas 4–6 individu dengan sistem sosial monogami. Jarak pergerakan harian rata-rata sekitar 1,5 kilometer. Reproduksi berlangsung sepanjang tahun dengan kelahiran tunggal. Sejumlah survei menunjukkan bahwa kepadatan populasi relatif serupa di hutan primer maupun hutan yang telah mengalami penebangan selektif dalam rentang waktu 10–20 tahun, selama struktur kanopi tetap terpelihara.[5]
Satwa ini dilindungi berdasarkan UU RI No.5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah RI No.7 Tahun 1999. Status CITES: Appendix I/Tahun 2001. Status IUCN: Terancam (Endangered).[6] Bilou mengalami bahaya kepunahan akibat perburuan, perdagangan dan kehilangan habitat. Satwa ini biasanya dijadikan binatang peliharaan.