Karma adalah konsep "aksi" atau "perbuatan" yang dalam agama Hindu dan agama Buddha dipahami sebagai sesuatu yang menyebabkan seluruh siklus kausalitas. Konsep ini berasal dari India kuno dan dijaga kelestariannya di filsafat Hindu, Jain, Sikh dan Buddhisme. Dalam konsep "karma", semua yang dialami manusia adalah hasil dari tindakan kehidupan masa lalu dan sekarang. Efek karma dari semua perbuatan dipandang sebagai aktif membentuk masa lalu, sekarang, dan pengalaman masa depan. Hasil atau 'buah' dari tindakan disebut karmaphala.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Karma (Sanskerta: कर्म ⓘ) adalah konsep "aksi" atau "perbuatan" yang dalam agama Hindu dan agama Buddha dipahami sebagai sesuatu yang menyebabkan seluruh siklus kausalitas (yaitu, siklus yang disebut "samsara"). Konsep ini berasal dari India kuno dan dijaga kelestariannya di filsafat Hindu, Jain, Sikh dan Buddhisme.[1] Dalam konsep "karma", semua yang dialami manusia adalah hasil dari tindakan kehidupan masa lalu dan sekarang. Efek karma dari semua perbuatan dipandang sebagai aktif membentuk masa lalu, sekarang, dan pengalaman masa depan. Hasil atau 'buah' dari tindakan disebut karmaphala.[2]
Karena pengertian karma adalah pengumpulan efek-efek (akibat) tindakan/perilaku/sikap dari kehidupan yang lampau dan yang menentukan nasib saat ini, maka karma berkaitan erat dengan kelahiran kembali (reinkarnasi). Segala tindakan/perilaku/sikap baik maupun buruk seseorang saat ini juga akan membentuk karma seseorang di kehidupan berikutnya. Niat baik dan perbuatan baik diyakini menghasilkan karma baik serta kelahiran kembali yang lebih membahagiakan, sedangkan niat buruk dan perbuatan buruk menghasilkan karma buruk serta kelahiran kembali yang lebih buruk. Namun, dalam beberapa kitab suci, tidak terdapat kaitan langsung antara kelahiran kembali dan karma.[3][4]
Karma sering kali disalahpahami sebagai nasib, takdir, atau ketentuan yang sudah ditetapkan.[5] Nasib, takdir, atau ketentuan semacam itu memiliki istilah khusus dalam Sanskerta dan disebut Prārabdha. Konsep karma erat kaitannya dengan gagasan kelahiran kembali dalam banyak aliran agama-agama India (khususnya Hindu, Buddhisme, Jainisme, dan Sikhisme),[6] serta Taoisme.[7] Dalam aliran-aliran ini, karma pada masa kini diyakini memengaruhi masa depan seseorang dalam kehidupan sekarang maupun sifat serta kualitas kehidupan mendatang—yakni saṃsāra.[8][9]
Banyak Gerakan Zaman Baru yang mempercayai karma, memandangnya sebagai hukum sebab-akibat yang menjamin keseimbangan kosmik. Namun, dalam beberapa pandangan, ditekankan bahwa karma bukanlah sistem yang secara otomatis memberikan hukuman atas tindakan masa lalu.[10]
Istilah karma (Sanskerta: कर्मcode: sa is deprecated ; Pali: kammacode: pi is deprecated ) merujuk baik pada 'perbuatan, pekerjaan, tindakan' yang dilakukan maupun pada 'objek, maksud' di baliknya.[3]
Wilhelm Halbfass (2000) menjelaskan karma (karman) dengan membandingkannya dengan kata Sanskrta kriya:[3] jika kriya adalah aktivitas beserta langkah dan usaha dalam tindakan, maka karma adalah (1) tindakan yang telah dilakukan sebagai konsekuensi dari aktivitas tersebut, serta (2) niat pelaku di balik suatu tindakan yang dilakukan atau tindakan yang direncanakan (dijelaskan oleh beberapa sarjana[11] sebagai residu metafisik yang tertinggal dalam diri pelaku). Tindakan baik menghasilkan karma baik, demikian pula niat baik. Sebaliknya, tindakan buruk menghasilkan karma buruk, begitu juga niat buruk.[3]
Kesulitan dalam merumuskan definisi karma muncul karena adanya keragaman pandangan di antara mazhab-mazhab Hindu. Sebagian, misalnya, menganggap karma dan kelahiran kembali saling terkait dan sama-sama esensial; sebagian lain menganggap karma penting tetapi bukan kelahiran kembali; sementara ada pula yang membahas dan menyimpulkan bahwa karma dan kelahiran kembali hanyalah fiksi yang keliru.[12] Buddhisme dan Jainisme memiliki ajaran karma masing-masing. Dengan demikian, karma tidak memiliki satu definisi tunggal, melainkan berbagai definisi dan makna yang berbeda.[13] Karma adalah sebuah konsep yang makna, pentingnya, dan cakupannya berbeda-beda di antara tradisi-tradisi yang berasal dari India, serta di dalam berbagai mazhab masing-masing tradisi tersebut. Menurut Manu Doshi, semua filsafat Arya menerima konsep karma, tetapi Jainisme membahasnya lebih mendalam.[14] Wendy O'Flaherty menyatakan bahwa, selain itu, masih ada perdebatan berkelanjutan mengenai apakah karma merupakan sebuah teori, model, paradigma, metafora, atau sebuah posisi metafisik.[15]