Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Kelenteng Gie Yong Bio

Kelenteng Gie Yong Bio merupakan salah satu tempat peribadatan umat Tridharma yang berlokasi di Kota Lasem, Rembang. Sebagai kota awal pendaratan masyarakat Tionghoa di tanah Jawa, Lasem juga memiliki dua bangunan kelenteng yang lain, yaitu Poo An Bio dan Cu An Kiong. Klenteng ini memiliki keistimewaan karena dibangun untuk menghormati tiga pahlawan Lasem, yaitu Tan Kee Wie, Oey Ing Kiat, dan Raden Panji Margono, sehingga klenteng Gie Yong Bio dianggap sebagai satu-satunya klenteng di Indonesia yang memiliki Kongco pribumi. Penghormatan Raden Panji Margono sebagai dewa oleh komunitas Tionghoa di Lasem dapat disebut unik di seluruh Indonesia, selain menjadi bukti persahabatan leluhur kedua komunitas.

bangunan kuil di Indonesia
Diperbarui 26 Januari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kelenteng Gie Yong Bio
Tempat Ibadah Tridharma Gie Yong Bio
TITD Gie Yong Bio
Informasi umum
LokasiIndonesia Lasem, Rembang, Jawa Tengah
AlamatJalan Babagan nomor 7, Lasem, Rembang
Mulai dibangun1780
Direnovasi1915
Data teknis
Jumlah lantai1

Kelenteng Gie Yong Bio merupakan salah satu tempat peribadatan umat Tridharma yang berlokasi di Kota Lasem, Rembang. Sebagai kota awal pendaratan masyarakat Tionghoa di tanah Jawa, Lasem juga memiliki dua bangunan kelenteng yang lain, yaitu Poo An Bio dan Cu An Kiong.[1] Klenteng ini memiliki keistimewaan karena dibangun untuk menghormati tiga pahlawan Lasem, yaitu Tan Kee Wie, Oey Ing Kiat, dan Raden Panji Margono, sehingga klenteng Gie Yong Bio dianggap sebagai satu-satunya klenteng di Indonesia yang memiliki Kongco pribumi.[2] Penghormatan Raden Panji Margono sebagai dewa oleh komunitas Tionghoa di Lasem dapat disebut unik di seluruh Indonesia, selain menjadi bukti persahabatan leluhur kedua komunitas.[3]

Selain Gie Yong Bio, masih terdapat beberapa kelenteng lain yang memuja pahlawan budaya beretnis non-Tionghoa, meskipun tidak dipuja sebagai Kongco. Misalnya adalah Klenteng Tridharma Weleri yang memiliki rupang Baron Skeder dan Sin Tek Bio yang memiliki altar untuk Raden Mas Imam Sudjono.

Sejarah

Terdapat tiga versi alasan pembangunan Kelenteng Gie Yong Bio.[4] Versi pertama adalah untuk penghormatan dua pahlawan terkenal dari Dinasti Ming (1368-1644) yaitu Chen Sikian dan Huang Daozhou. Marga Tan merupakan bahasa Hokkien untuk Chen (hanzi), sementara Oei adalah bahasa Hokkien untuk Huang.

Menurut versi kedua, kelenteng Gie Yong Bio dibangun untuk menghormati kegagahberanian dua orang leluhur etnis Tionghoa di Lasem, yaitu Tan dan Oei. Keduanya merupakan dua orang Tionghoa pertama yang mendarat di Lasem dari Fujian. Menurut versi ketiga yang paling populer, kelenteng ini dibangun untuk menghormati tiga pahlawan Lasem yang menghadapi VOC pada tahun 1741-1750, yaitu Tan Kee Wie, Oei Ing Kiat, dan Raden Panji Margono.

Dua versi sebelumnya bisa jadi diangkat untuk menutupi alasan sebenarnya pembangunan Kelenteng Gie Yong Bio, karena kelenteng ini dibangun pada tahun 1780, saat Belanda masih menguasai Indonesia. Belanda dapat dipastikan tidak akan membiarkan pembangunan Kelenteng Gie Yong Bio jika mengetahui alasan pembangunan yang sebenarnya, karena dikhawatirkan dapat membangkitkan kembali semangat perlawanan penduduk Lasem.

Latar belakang pembangunan

Lihat pula: Geger Pacinan, Perang Jawa (1741–1743), dan Perang Kuning
Kimsin (patung) Raden Panji Margono di altar klenteng Gie Yong Bio

Pada tahun 1740, masyarakat Tionghoa di Batavia melakukan pemberontakan melawan pemerintahan Belanda. Pemberontakan etnis tersebut memengaruhi hampir seluruh Pulau Jawa, meskipun akhirnya berhasil ditekan oleh VOC. Kota Lasem sendiri menjadi basis terakhir pemberontakan. Pada peristiwa itu, etnis Jawa dan Tionghoa bekerja sama.[3]

Raden Panji Margono, putra Tejakusuma V yang menjabat sebagai Adipati Lasem (1714-1727), mengikat tali persaudaraan dengan Mayor Oei Ing Kiat, yang menjabat sebagai Adipati Lasem menggantikan ayahnya dengan gelar Tumenggung Widyaningrat. Keduanya juga mengangkat sumpah persaudaraan dengan Tan Kee Wie, seorang pengusaha serta ahli kungfu di Lasem..[5]

Pada saat terjadi pengungsian besar-besaran etnis Tionghoa dari Batavia pada tahun 1741, ketiganya sepakat untuk mengangkat senjata memberontak terhadap VOC. Mereka bergabung dengan para pejuang Tionghoa lain yang berkumpul di Tanjung Welahan serta mendapat bantuan pasukan pribumi atas restu Pakubuwana II. Pertempuran merambat dari Juwana hingga Rembang dan akhirnya sampai ke Semarang. Meskipun pada awalnya berhasil menguasai sebagian wilayah Semarang, pasukan gabungan Jawa-Tionghoa terdesak mundur setelah pasukan VOC di Semarang memperoleh bala bantuan. Karena kekalahan tersebut, Pakubuwana II mengalihkan dukungannya kepada VOC sehingga menyebabkan istananya di Kartasura diserang dan dikuasai oleh pasukan pemberontak.[5][6][7][8]

Pada tahun 1742, pasukan yang dipimpin ketiganya kembali menyerang Rembang dan Juwana. Setelah kemenangan di Rembang, pasukan VOC yang sudah mengadakan persiapan berhasil mengalahkan mereka di Juwana. Bahkan pada tanggal 5 November 1742, saat melewati selat antara Ujung Watu dan Pulau Mandalika, armada kapal Tan Kee Wie ditembaki oleh meriam sehingga membuatnya gugur bersama pasukan yang ia pimpin. Sisa pasukan melarikan diri kembali ke Lasem setelah datang bala bantuan VOC dari Tuban.[5]

Pada tahun 1750, Raden Panji Margono, Mayor Oei Ing Kiat, dan Kyai Ali Badawi kembali mengobarkan peperangan dengan Belanda. Namun, pertempuran kali ini juga berhasil dimenangkan oleh Belanda. Panji Margono gugur di Karangpace Narukan sementara Oei Ing Kiat gugur di Layur, Lasem-Utara. Untuk menghargai jasa-jasa kepahlawanan Tan Kee Wie, Panji Margono, dan Oei Ing Kiat, masyarakat Tionghoa di Lasem membangun klenteng Gie Yong Bio sebagai monumen peringatan. Ketiganya dihormati sebagai Kongco dan dibuat rupangnya untuk diletakkan di atas altar. Rupang Oey Ing Kiat dan Tan Kee Wie diletakkan berdampingan dan disebut dengan nama Tan Oei Ji Sian Seng (menurut dialek Hokkien), sementara rupang Raden Panji Margono diletakkan pada altar khusus yang terpisah.[5][7]

Pemindahan dan pemugaran

Tanggal pembangunan Klenteng Gie Yong Bio sudah tidak diketahui lagi. Menurut para sesepuh warga Tionghoa, lokasi klenteng pada awalnya berada di jalan raya, selanjutnya dipindah ke lokasi yang sekarang di Jalan Babagan. Kelenteng ini dipugar pada tahun 1915.[1]

Arsitektur dan tata ruang

sunting Kelenteng Gie Yong Bio memperlihatkan karakter arsitektur kelenteng Tiongkok selatan yang telah mengalami adaptasi dengan kondisi geografis dan budaya pesisir utara Jawa. Pola denah bangunan bersifat linear memanjang ke arah dalam, mengikuti prinsip kosmologi Tionghoa yang memandang ruang sebagai representasi perjalanan spiritual dari dunia profan menuju ruang sakral.[9]

Struktur bangunan utama berdiri di atas lantai tunggal dan disusun secara simetris, dengan halaman depan sebagai ruang transisi antara lingkungan luar dan ruang ibadah. Konsep ini sejalan dengan prinsip feng shui yang menekankan keseimbangan antara manusia, bangunan, dan alam sekitarnya. Arah hadap bangunan serta susunan pintu dan altar disesuaikan dengan kepercayaan kosmologis Tridharma yang berkembang di kalangan masyarakat Tionghoa peranakan Jawa.

Material bangunan didominasi oleh kayu jati lokal yang dikenal memiliki daya tahan tinggi terhadap iklim tropis, dipadukan dengan penggunaan bata merah khas Lasem. Kombinasi ini menunjukkan proses akulturasi antara teknik bangunan Tionghoa dan tradisi konstruksi Jawa pesisir yang telah berkembang sejak abad ke-18.[10]

Ornamen bangunan menampilkan simbol-simbol kosmologis Tridharma seperti naga, awan, flora mitologis, serta kaligrafi Tionghoa yang memuat doa dan harapan akan keselamatan serta kesejahteraan. Warna merah, emas, dan hijau mendominasi interior maupun eksterior bangunan, yang masing-masing melambangkan keberuntungan, kemuliaan, dan harmoni dalam kosmologi Tionghoa.[11]

Tata letak altar di dalam kelenteng menunjukkan hierarki penghormatan yang jelas. Altar Tan Oei Ji Sian Seng ditempatkan di ruang utama sebagai pusat ritual, sedangkan altar Raden Panji Margono diletakkan secara terpisah. Penempatan ini mencerminkan penghormatan khusus terhadap tokoh pribumi yang didewakan tanpa menghilangkan struktur kosmologi kelenteng Tridharma secara umum.[12]

Kongco pribumi dalam perspektif keagamaan

sunting Keberadaan kongco pribumi di Kelenteng Gie Yong Bio merupakan fenomena yang relatif jarang dijumpai dalam tradisi kelenteng di Indonesia. Raden Panji Margono diposisikan sebagai figur yang dihormati dalam sistem kepercayaan Tridharma, meskipun berasal dari latar belakang etnis dan budaya Jawa.

Dalam perspektif religius, penghormatan terhadap Raden Panji Margono tidak dimaknai sebagai penghapusan identitas asalnya, melainkan sebagai bentuk pengakuan atas jasa, keberanian, dan nilai moral yang dianggap sejalan dengan prinsip kebajikan universal. Fenomena ini menunjukkan fleksibilitas tradisi keagamaan Tionghoa dalam mengakomodasi tokoh lokal ke dalam kosmologi religiusnya.[13]

Penghormatan tersebut juga mencerminkan hubungan historis yang erat antara komunitas Tionghoa dan Jawa di Lasem, terutama dalam konteks perlawanan bersama terhadap kolonialisme Belanda pada abad ke-18. Dalam hal ini, kelenteng berfungsi tidak hanya sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai medium pemeliharaan ingatan kolektif lintas etnis.

Fungsi sosial dan budaya

sunting Selain berfungsi sebagai tempat peribadatan umat Tridharma, Kelenteng Gie Yong Bio memiliki peran penting sebagai pusat kegiatan sosial dan budaya masyarakat Tionghoa Lasem. Kelenteng ini menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai ritual tahunan seperti Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh, serta upacara penghormatan arwah leluhur yang melibatkan partisipasi komunitas secara luas.

Dalam konteks sosial, kelenteng berfungsi sebagai ruang interaksi antargenerasi, di mana nilai-nilai sejarah, tradisi, dan identitas komunitas diwariskan. Kegiatan keagamaan sering kali disertai dengan aktivitas sosial yang memperkuat solidaritas internal serta hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar.

Keberadaan Gie Yong Bio juga memperkuat posisi Lasem sebagai kota multikultural di pesisir utara Jawa. Dalam berbagai kajian sejarah dan antropologi, kelenteng ini dipandang sebagai simbol integrasi budaya Jawa–Tionghoa yang berlangsung secara damai dan berkelanjutan sejak abad ke-18.[14]

Peran dalam historiografi Lasem

sunting Dalam historiografi lokal, Kelenteng Gie Yong Bio sering disebut sebagai salah satu penanda penting sejarah perlawanan masyarakat Lasem terhadap kekuasaan kolonial Belanda. Narasi mengenai Tan Kee Wie, Oei Ing Kiat, dan Raden Panji Margono muncul dalam berbagai sumber, baik berupa babad, catatan lokal, maupun kajian akademik modern.

Keberadaan kelenteng ini membantu melestarikan ingatan historis tentang Perang Kuning dan Geger Pacinan, yang dalam banyak sumber digambarkan sebagai momen penting kerja sama antara komunitas Tionghoa dan Jawa. Dengan demikian, Gie Yong Bio tidak hanya berfungsi sebagai situs religius, tetapi juga sebagai monumen sejarah alternatif yang melengkapi narasi resmi kolonial.[15]

Status pelestarian

sunting Kelenteng Gie Yong Bio merupakan bagian dari kawasan kota tua Lasem yang memiliki nilai penting dari segi sejarah, budaya, dan arsitektur. Upaya pelestarian bangunan dan tradisi ritual dilakukan secara swadaya oleh pengurus kelenteng dan masyarakat setempat, terutama dalam menjaga keaslian bentuk bangunan serta kesinambungan praktik keagamaan.

Dalam perkembangan mutakhir, kelenteng ini menjadi objek kajian akademik lintas disiplin serta tujuan wisata sejarah berbasis warisan budaya. Peningkatan perhatian terhadap Lasem sebagai kota multikultural turut mendorong kesadaran akan pentingnya pelestarian Kelenteng Gie Yong Bio sebagai bagian dari warisan budaya Nusantara.[16]


Lihat pula

  • Sin Tek Bio

Referensi

  1. 1 2 Djamal A. Garhan. 30 Januari 2003. Harian Suara Merdeka, Perayaan Imlek Dilakukan Sederhana Diarsipkan 2014-09-03 di Wayback Machine..
  2. ↑ Chris dan Riy. Jejaknews online. Satu Satunya Di Dunia Kongco Pribumi Klenteng Gie Yong Bio Lasem[pranala nonaktif permanen].
  3. 1 2 Chendong Long. Editor: 王海波. 31 Maret 2012. China News Network, 印尼拉森的庙堂文化:悠久历史充满华人气息.
  4. ↑ Yon, 2009, "Membedah Cina Lasem". Dalam "Sejarah Perkembangan Klenteng Gie Yong Bio di Lasem dan Pengaruhnya Masyarakat 1967-1998" oleh Nurul Hidayati Septyana, 2012.
  5. 1 2 3 4 R. Panji Kamzah. "Kitab Carita Sajarah Lasem". Ditulis ulang oleh R. Panji Karsono tahun 1920. Diunduh pada Perang Kuning/Perang Cina/Perang Lasem.
  6. ↑ Sanyoto. November 2009. "Sebuah Epos Puputan Cina Lasem", Mimbar Rakyat, Edisi XV, pp. 6-7.
  7. 1 2 Munawir Aziz. 23 Oktober 2012. Kompas, "Perang Kuning dalam Imaji Tionghoa-Jawa".
  8. ↑ Temenggung Martopura. "Babad Tanah Jawi", Jilid 23, Halaman 11-16. Percetakan Balai Pustaka Tahun 1940 Seri No. 1289 V.
  9. ↑ Indarto, L. 1987. Pola Tata Ruang Bangunan Kelenteng. Jakarta.
  10. ↑ Nurhajarini, D. R., E. Purwaningsih, dan I. Fibiona. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya. Yogyakarta: Kepel Press.
  11. ↑ Pratiwo & S. Nazir. 2010. Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota. Yogyakarta: Ombak.
  12. ↑ Pitaya, Mohamad Amin. 2014. “Tinjauan Semiotika Kong Co pada Kelenteng Gie Yong Bio Lasem.” Catharsis: Journal of Arts Education 3(2).
  13. ↑ Aziz, Munawir. 2014. Lasem Kota Tiongkok Kecil. Yogyakarta: Ombak.
  14. ↑ Sanyoto. 2009. “Sebuah Epos Puputan Cina Lasem.” Mimbar Rakyat, Edisi XV.
  15. ↑ Munawir Aziz. 23 Oktober 2012. Kompas, “Perang Kuning dalam Imaji Tionghoa-Jawa”.
  16. ↑ Santoso, R. E., S. R. Sari, dan R. S. Rukayah. 2020. “Peran Masyarakat Tionghoa terhadap Perkembangan Kawasan Heritage di Kota Lasem.” Modul 20(2): 84–97.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Latar belakang pembangunan
  3. Pemindahan dan pemugaran
  4. Arsitektur dan tata ruang
  5. Kongco pribumi dalam perspektif keagamaan
  6. Fungsi sosial dan budaya
  7. Peran dalam historiografi Lasem
  8. Status pelestarian
  9. Lihat pula
  10. Referensi

Artikel Terkait

Kuil Hindu di Indonesia

India ke Indonesia pada abad ke-19, sejumlah kuil bergaya India didirikan di berbagai kota di Indonesia, terutama di Medan dan Jakarta. Kuil-kuil Hindu India

Kuil Hirohara

bekas kuil Shinto peninggalan masa pendudukan Jepang di kota Medan; satu-satunya kuil Shinto yang masih bertahan di Asia Tenggara sejak menyerahnya Jepang

Horyuji

bangunan kuil di Jepang

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026