Sorgum adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak, dan bahan baku industri. Di Indonesia tanaman ini banyak tumbuh di Kepulauan Nusa Tenggara, sehingga memiliki beberapa nama lokal, di antaranya jagung rote, wata belolong, dan watar hamu. Sebagai bahan pangan, sorgum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai. Sorgum merupakan makanan pokok penting di Asia Selatan dan Afrika sub-Sahara.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Sorgum | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Plantae |
| Klad: | Tracheophyta |
| Klad: | Angiospermae |
| Klad: | Monokotil |
| Klad: | Commelinidae |
| Ordo: | Poales |
| Famili: | Poaceae |
| Subfamili: | Panicoideae |
| Supertribus: | Andropogonodae |
| Tribus: | Andropogoneae |
| Subtribus: | Saccharinae |
| Genus: | Sorghum Moench 1794, nama konservasi bukan Sorgum Adanson 1763 |
| Spesies | |
|
Terdiri 30 spesies, lihat teks | |
Sorgum[1] (Sorghum spp.) adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak, dan bahan baku industri. Di Indonesia tanaman ini banyak tumbuh di Kepulauan Nusa Tenggara, sehingga memiliki beberapa nama lokal, di antaranya jagung rote, wata belolong, dan watar hamu.[2] Sebagai bahan pangan, sorgum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai. Sorgum merupakan makanan pokok penting di Asia Selatan dan Afrika sub-Sahara.
Biji sorgum berbentuk bulat, tetapi ada juga yang agak lonjong dengan warna bervariasi, mulai dari putih, kuning gading, cokelat muda, merah, sampai hitam.[2] Sorgum juga mengandung serat tidak larut air atau serat kasar dan serat pangan, masing-masing sebesar 6,5% - 7,9% dan 1,1% - 1,23%. Kandungan protein pun seimbang dengan jagung sebesar 10,11% sedangkan jagung 11,02%.
Begitu pula dengan kandungan patinya sebesar 80,42% sedangkan kandungan pada jagung 79,95%. Hanya saja, yang membuat tepung sorgum sedikit peminat adalah karena tidak adanya gluten seperti pada tepung terigu. Masyarakat Indonesia sudah tenggelam dalam nikmatnya kelenturan terigu karena tingginya gluten, dan inilah yang membuat adonan mi dan roti menjadi lentur.
Seperti beras, biji sorgum dapat diolah menjadi nasi dengan cara memisahkan kulit arinya dan merebusnya dalam periuk sampai empuk.[2] Selain itu, sorgum dikenal memiliki manfaat yang lebih baik daripada tepung terigu karena bebas gluten dan memiliki angka indeks glikemik yang rendah sehingga turut mendukung tren gerakan konsumen bebas gluten diet seperti di negara-negara maju.
Sorgum termasuk tanaman yang mudah dibudidayakan karena membutuhkan biaya perawatan yang termasuk murah dan bisa ditanam secara tumpang sari dengan padi gogo, kedelai, kacang tanah atau tembakau, ataupun ditanam dengan pertanaman tunggal. Dalam satu kali tanam, sorgum dapat dipanen lebih satu kali sehingga sorgum tergolong tanaman yang memiliki produktivitas yang tinggi. Daerah budidaya sorgum sangat luas, sorgum dapat hidup mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi dengan iklim tropis-kering sampai iklim basah.[3][4]
Di Indonesia, daerah pengembangan sorgum cukup luas. Saat ini, daerah penghasil sorgum meliputi Jawa Tengah (Pati, Demak, Wonogiri, Grobogan), Yogyakarta (Gunung Kidul, Kulon Progo), Jawa Timur (Lamongan, Bojonegoro, Tuban, Probolinggo), dan sebagian daerah di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.[5] Tanaman sorgum termasuk tanaman prioritas kedua untuk petani di Nusa Tenggara Timur setelah tanaman jagung, karena selain sorgum dapat ditanam pada lahan-lahan yang kurang menguntungkan, seperti memiliki curah hujan yang rendah, sistem pengairan yang terbatas, serta kondisi lahan yang tidak terlalu subur, tanaman sorgum juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.[6] Selain itu, sorgum juga dapat diolah menjadi beberapa produk makanan seperti beras, mi, makanan ringan dan tepung.[7]
TNI AU dan Kementerian Pertanian (Kementan) sepakat mengembangkan tanaman sorgum, sebagai komoditas bahan pangan yang akan dikembangakan kedua belah pihak. Kesepakatan tersebut tertuang dalam naskah kesepahaman bersama antara TNI AU dan Kementan, yang ditandantangani oleh KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo dan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Harvick Hasnul Qolbi, di Lanud Sutan Sahrir, Padang, Selasa (29/11/2022). Untuk mendukung program Ketahanan Pangan, TNI AU telah menyiapkan lahan kurang produktif di Lapangan Udara Sutan Syahrir seluas 12 hektare untuk pengembangan tanaman sorgum. Diharapkan program ini dapat membantu ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan prajurit dan keluarganya.[8]
Genus sorgum terkait dekat dengan jagung dalam klad PACMAD rerumputan, dan terkait jauh dengan serealiaklad BOP seperti gandum dan barli.[9]
Genus sorgum termasuk keluarga rumput, Poaceae, dalam sub-keluarga Panicoideae, dalam suku Andropogoneae – sama seperti jagung (Zea mays), Andropogon gerardi, dan tebu (Saccharum spp.). Spesies-spesies yang tercatat diterima:[10]