Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Gangguan stres pascatrauma

Gangguan stres pascatrauma adalah gangguan kecemasan parah yang dapat berkembang setelah terpapar setiap peristiwa yang menghasilkan trauma psikologis. Kejadian ini dapat memicu ancaman kematian diri sendiri maupun orang lain bahkan merusak potensi integritas fisik, seksual, atau psikologis individu. Sebagai efek dari sebuah trauma psikologis, biasanya menunjukkan frekuensi gejala yang tidak sering muncul tetapi berlangsung cukup lama bila dilihat dan dibandingkan gejala pada penderita stress akut.dan merupakan kumpulan gejala gejala stress yang berat.

gangguan mental yang berkembang setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa yang menakutkan atau mengancam jiwa
Diperbarui 14 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel bertopik psikiatri atau psikologi ini tidak dimaksudkan sebagai acuan analisa atau penentuan pengobatan atas kondisi diri sendiri atau orang lain. Silakan berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog klinis yang berwenang melakukan hal tersebut. Silakan baca juga halaman mengenai sangkalan medis
Gangguan stres pascatrauma
SpesialisasiPsikiatri, psikologi klinis Sunting ini di Wikidata

Gangguan stres pascatrauma (bahasa Inggris: [post-traumatic stress disorder] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan) atau disingkat PTSD, dahulu disebut shell shock pada Perang Dunia I) adalah gangguan kecemasan parah yang dapat berkembang setelah terpapar setiap peristiwa yang menghasilkan trauma psikologis. Kejadian ini dapat memicu ancaman kematian diri sendiri maupun orang lain bahkan merusak potensi integritas fisik, seksual, atau psikologis individu. Sebagai efek dari sebuah trauma psikologis, biasanya menunjukkan frekuensi gejala yang tidak sering muncul tetapi berlangsung cukup lama bila dilihat dan dibandingkan gejala pada penderita stress akut.dan merupakan kumpulan gejala gejala stress yang berat.

Informasi Tambahan

Post-traumatic stress disorder (PTSD) merupakan gangguan mental serius yang dapat dialami seseorang setelah mengalami peristiwa traumatis yang ekstrem. Gangguan ini ditandai dengan berbagai gejala seperti mengalami kembali kejadian traumatis melalui mimpi buruk atau kilas balik, munculnya pikiran menyedihkan yang terus berulang, serta kecenderungan untuk menghindari pembicaraan atau situasi yang mengingatkan pada trauma tersebut. Selain itu, penderita PTSD juga mengalami perubahan negatif dalam cara berpikir dan suasana hati, serta menunjukkan gejala hiper waspada seperti mudah terkejut dan sulit rileks. Berbagai keluhan lain yang umum dirasakan oleh penderita meliputi gangguan tidur (insomnia), rasa cemas yang berlebihan, kesulitan berkonsentrasi, bahkan dalam beberapa kasus, muncul perasaan seolah-olah hidupnya dikendalikan oleh sesuatu yang tidak nyata seperti ilusi atau halusinasi.[1]

Penyebab

Kekerasan

Kekerasan merupakan salah satu pengalaman traumatis karena korbannya tidak menghendaki terjadinya hal tersebut dan mengalami penderitaan yang mendalam. Kerentanan seseorang menderita gangguan stres pascatrauma tergantung pada jenis dan tingkat yang dialaminya. Tingkat kerentanan tertinggi ada pada korban kekerasan yang mengalami pengalaman traumatis pada individu yang baru memasuki usia dewasa.[2]

Pelecehan seksual dan pemerkosaan

Trauma yang mendalam dapat terjadi kepada para korban pelecehan seksual dan pemerkosaan. Timbulnya trauma diakibatkan adanya perasaan negatif yang dirasakan oleh korban. Pengalaman traumatis inilah yang menyebabkan timbulnya stres pada korban dan mengakibatkan terjadinya gangguan stres pascatrauma.[3]

Bencana alam

Gangguan stres pascatrauma juga dapat dialami oleh korban bencana alam.[4] Penderitanya memiliki pengalaman traumatis secara tidak langsung maupun langsung terhadap bencana alam. Salah satu contohnya adalah remaja korban gempa bumi dan tsunami. Suara dari gemuruh, dentuman dan angin yang menderu dapat memberikan rasa ketakutan yang mendalam bagi dirinya.[5] Penelitian menunjukkan bahwa prevalensi gangguan kecemasan umum (GAD) cenderung meningkat secara signifikan setelah seseorang mengalami bencana alam. Lonjakan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko yang menyertainya. Misalnya, individu yang sebelumnya sudah memiliki riwayat gangguan kecemasan lebih rentan mengalami kekambuhan atau bahkan gejala yang memburuk pasca-bencana.[6] Paparan berita bencana secara terus-menerus melalui media massa juga dapat memicu kecemasan berlebih, terutama jika tidak diimbangi dengan informasi yang menenangkan. Ditambah lagi, kurangnya dukungan sosial dari lingkungan sekitar serta keterbatasan bantuan dari pihak pemerintah semakin memperparah kondisi psikologis penyintas.[7]

Kejadian kecelakaan serius atau tindakan pembunuhan

Mengalami atau menyaksikan kecelakaan mobil yang parah sering meninggalkan luka batin yang dalam. Ditemukan bahwa di antara penyintas kecelakaan lalu lintas, sejumlah individu mengalami gejala PTSD setelah kecelakaan.[8] Trauma seperti ini bisa memicu gangguan stres pascatrauma (PTSD), terutama jika kejadian itu menimbulkan rasa takut ekstrem atau kehilangan yang besar. Ketika seseorang mengalami langsung kehancuran, kehilangan orang tercinta, atau merasa nyawanya terancam, dampak psikologisnya bisa bertahan lama. Bahkan peristiwa terorisme yang disaksikan dari dekat, meski bukan korban langsung, tetap berpotensi memicu PTSD.

Kenangan yang muncul secara berulang dan menimbulkan keresahan

Orang yang mengalami PTSD sering menghadapi masalah psikologis dan emosional yang cukup berat. Salah satu yang paling umum adalah munculnya memori atau ingatan yang mengganggu, terutama dalam bentuk kilas balik (flashback). Kilas balik ini terasa sangat nyata dan menyakitkan, seolah-olah kejadian traumatis tersebut sedang terjadi kembali. Hal ini biasanya dipicu oleh hal-hal kecil di sekitar, seperti suara, tempat, atau bau tertentu yang mengingatkan pada peristiwa traumatis. Selain itu, penderita PTSD juga sering mengalami kesulitan mengingat peristiwa masa lalu secara detail. Mereka cenderung mengingat hal-hal secara umum saja, tanpa bisa mengingat momen spesifik. Kondisi ini disebut sebagai overgeneralized autobiographical memory atau memori autobiografi yang terlalu umum. Gejala re-experience terlihat dari munculnya kembali ingatan traumatis dalam bentuk mimpi buruk, kilas balik, atau halusinasi, yang mengganggu aktivitas sehari-hari.[9] Masalah ini membuat mereka kesulitan membedakan antara peristiwa masa lalu dan kenyataan saat ini, sehingga rasa sakit dan trauma bisa terus berlanjut dalam waktu yang lama.

Gejala

Gejala yang muncul pada anak-anak dan remaja penderita gangguan stres pascatrauma dapat berbeda dengan gejala yang muncul pada orang dewasa. Adanya perbedaan ini menandakan bahwa kebutuhan diagnosis dengan kondisi tertentu. Pada anak pra-sekolah, diagnosis atas gejala gangguan stres pascatrauma harus dalam kondisi kejiwaan yang stabil dengan perkembangan yang sensitif.[10]

Diagnosis

Gangguan stres pascatrauma dibahas di dalam DSM-IV. DSM-IV menerapkan tiga kriteria diagnostik untuk penyakit ini, yaitu pendedahan, pengalaman ulang dan penghindaran.[11] Dalam DSM-IV disebutkan sebanyak 17 item yang menjadi gejala dari gangguan jiwa pascatrauma.[12] Pada tahun 2000, depresi dimasukkan sebagai gangguan suasana hati dalam DSM-IV-TR.[13]

Pengaplikasian VR dalam terapi PTSD

EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing) dan VR

Pasien diberikan headset berisi stimulus visual bergerak (seperti lampu kilat atau bola). Hal ini mendukung pemrosesan ulang memori traumatis dan terbukti dapat mengurangi gejala PTSD dengan efektif.[14] Penambahan lingkungan virtual yang menenangkan dapat meningkatkan kenyamanan serta memperkuat efek terapi dalam mengurangi intensitas emosi negatif.[15]

Virtual Reality Therapy

Pasien dilibatkan dalam simulasi pengalaman yang menyerupai trauma, seperti medan perang bagi veteran perang, sehingga memungkinkan untuk menghadapi memori trauma secara bertahap dengan terapi yang menyesuaikan tingkat intensitas untuk mengurangi respons emosional. Hasil penelitian menunjukkan pendekatan ini efektif menurunkan gejala PTSD, kecemasan, dan depresi, serta meningkatkan penerimaan pasien terhadap terapi paparan.[16]

Referensi

  1. ↑ Zhu, Lin; Li, Long; Li, Xiao-zhi; Wang, Lin (2021-01-29). "Effects of mind-body exercise on PTSD symptoms, depression and anxiety in PTSD patients: A protocol of systematic review and meta-analysis". Medicine (dalam bahasa Inggris). 100 (4): e24447. doi:10.1097/MD.0000000000024447. ISSN 0025-7974.
  2. ↑ Paramitha, R. G., dan Kusristanti, C. (2018). "Resiliensi Trauma dan Gejala Posttraumatic Stress Disorder (PTSD) pada Dewasa Muda yang Pernah Terpapar Kekerasan". Jurnal Psikogenesis. 6 (2): 187–188. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-03-18. Diakses tanggal 2022-03-10. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  3. ↑ Dirgayunita, Aries (2016). "Gangguan Stres Pasca Trauma pada Korban Pelecehan dan Pemerkosaan". Journal An-Nafs. 1 (2): 188. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-03-18. Diakses tanggal 2022-03-10.
  4. ↑ Zuhri, Mursid (2009). "Post Traumatic Stress Disorder (Gangguan Stress Pasca Trauma Bencana) di Jawa Tengah". Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah. 7 (2): 141–142. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-08-13. Diakses tanggal 2022-03-10.
  5. ↑ Tubin, ed. (2016). Trauma dan Pemulihannya: Sebuah Kajian Berdasarkan Kasus Pasca Konflik dan Tsunami (PDF). Banda Aceh: Dakwah Ar-Raniry Press. hlm. 3–4. ISBN 978-602-60756-3-5. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2022-12-09. Diakses tanggal 2022-03-10.
  6. ↑ Agyapong, Vincent I. O.; Hrabok, Marianne; Juhas, Michal; Omeje, Joy; Denga, Edward; Nwaka, Bernard; Akinjise, Idowu; Corbett, Sandra E.; Moosavi, Shahram (2018-07-31). "Prevalence Rates and Predictors of Generalized Anxiety Disorder Symptoms in Residents of Fort McMurray Six Months After a Wildfire". Frontiers in Psychiatry (dalam bahasa English). 9. doi:10.3389/fpsyt.2018.00345. ISSN 1664-0640. PMC 6079280. PMID 30108527. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  7. ↑ Zugman, André; Harrewijn, Anita; Cardinale, Elise M.; Zwiebel, Hannah; Freitag, Gabrielle F.; Werwath, Katy E.; Bas-Hoogendam, Janna M.; Groenewold, Nynke A.; Aghajani, Moji (2022). "Mega-analysis methods in ENIGMA: The experience of the generalized anxiety disorder working group". Human Brain Mapping (dalam bahasa Inggris). 43 (1): 255–277. doi:10.1002/hbm.25096. ISSN 1097-0193. PMC 8675407. PMID 32596977.
  8. ↑ Fekadu, Wubalem; Mekonen, Tesfa; Belete, Habte; Belete, Amsalu; Yohannes, Kalkidan (2019-07-19). "Incidence of Post-Traumatic Stress Disorder After Road Traffic Accident". Frontiers in Psychiatry (dalam bahasa English). 10. doi:10.3389/fpsyt.2019.00519. ISSN 1664-0640. PMC 6659351. PMID 31379631. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  9. ↑ "POST-TRAUMATIC STRESS DISORDER PADA PENYINTAS BENCANA GANDA".
  10. ↑ Ayuningtyas, Ira Palupi Inayah (2017). "Penerapan strategi penanggulangan penanganan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) pada anak-anak dan remaja" (PDF). Proceeding International Conference 1st ASEAN School Counselor Conference on Innovation and Creativity in Counseling: 48. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2021-09-17. Diakses tanggal 2022-03-10.
  11. ↑ Hatta, Kusumawati (2016). Tubin (ed.). Trauma dan Pemulihannya: Sebuah Kajian Berdasarkan Kasus Pasca Konflik dan Tsunami (PDF). Banda Aceh: Dakwah Ar-Raniry Press. hlm. 45. ISBN 978-602-60756-3-5. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2022-12-09. Diakses tanggal 2022-03-10.
  12. ↑ Mahfuzhah. A. S., dkk. (2021). "Screening of Post-Traumatic Stress Disorder AMong Adolescent Vic-tims of The Garut Flash Flood in 2016". NurseLine Journal. 6 (1): 9. ISSN 2541-464X. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-06-17. Diakses tanggal 2022-03-14.
  13. ↑ Sulistyorini, W., dan Sabarisman, M. (2017). "Depresi: Suatu Tinjauan Psikologis". Sosio Informa. 3 (2): 156. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-06-17. Diakses tanggal 2022-03-14. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  14. ↑ "Psychological And Pharmacological Interventions For Post-Traumatic Stress Disorder".
  15. ↑ "Aplikasi eye moving desensitization dan reprocessing dalam konseling post-traumatic stress disorder".
  16. ↑ "EFEKTIFITAS TERAPI EKSPOSUR VIRTUAL REALITI SEBAGAI PEREDA KECEMASAN PADA KORBAN BENCANA: TINJAUAN SISTEMATIS".

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Posttraumatic stress disorder.
  • Gangguan stres pascatrauma di Curlie (dari DMOZ)
  • PTSD professional associations di Curlie (dari DMOZ)
  • Management of PTSD in adults and children Diarsipkan 2011-05-04 di Wayback Machine. by the National Institute for Health and Clinical Excellence (UK)
  • Practice guidelines Diarsipkan 2011-10-15 di Wayback Machine. from the American Psychiatric Association
  • Post Traumatic Stress Disorder Information Resource Diarsipkan 2013-04-25 di Wayback Machine. from The University of Queensland School of Medicine Diarsipkan 2011-05-12 di Wayback Machine.
  • Resources for Parents of Children with PTSD Diarsipkan 2007-05-09 di Wayback Machine. from The Children's Hospital of Philadelphia Diarsipkan 2010-06-29 di Wayback Machine.
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • GND
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Jepang
  • Republik Ceko
  • Israel
Lain-lain
  • NARA
  • Yale LUX


Ikon rintisan

Artikel bertopik psikologi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Informasi Tambahan
  2. Penyebab
  3. Kekerasan
  4. Pelecehan seksual dan pemerkosaan
  5. Bencana alam
  6. Kejadian kecelakaan serius atau tindakan pembunuhan
  7. Kenangan yang muncul secara berulang dan menimbulkan keresahan
  8. Gejala
  9. Diagnosis
  10. Pengaplikasian VR dalam terapi PTSD
  11. EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing) dan VR
  12. Virtual Reality Therapy
  13. Referensi
  14. Pranala luar

Artikel Terkait

Stres traumatis

disebabkan oleh peristiwa-peristiwa yang tidak terlalu mengancam dan menyusahkan dibandingkan peristiwa-peristiwa yang menyebabkan gangguan stres pasca-trauma

George III dari Britania Raya

Raja Britania Raya dan Irlandia dari 1760 hingga 1820

Vincent van Gogh

Pelukis Belanda

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026