Gajah kalimantan, yang juga dikenal sebagai gajah borneo atau gajah kerdil borneo, merupakan subspesies gajah asia (Elephas maximus) yang mendiami wilayah timur laut Kalimantan, baik di Indonesia maupun Malaysia. Asal-usulnya hingga kini masih menjadi subjek perdebatan ilmiah. Klasifikasi subspesifik definitif sebagai Elephas maximus borneensis masih menanti studi morfometrik dan genetik mendalam di seluruh wilayah sebarannya. Pada tahun 2024, gajah kalimantan telah dikategorikan sebagai spesies Terancam Punah dalam Daftar Merah IUCN karena populasinya menyusut setidaknya 50% selama tiga generasi terakhir, yang diperkirakan mencakup kurun waktu 60–75 tahun. Ancaman utamanya berasal dari kehilangan, kerusakan, serta fragmentasi habitat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Gajah kalimantan | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Mammalia |
| Ordo: | Proboscidea |
| Famili: | Elephantidae |
| Genus: | Elephas |
| Spesies: | |
| Subspesies: | E. m. borneensis |
| Nama trinomial | |
| Elephas maximus borneensis Deraniyagala, 1950 | |
| Peta sebaran historis dan kontemporer gajah kalimantan | |
Gajah kalimantan, yang juga dikenal sebagai gajah borneo atau gajah kerdil borneo, merupakan subspesies gajah asia (Elephas maximus) yang mendiami wilayah timur laut Kalimantan, baik di Indonesia maupun Malaysia. Asal-usulnya hingga kini masih menjadi subjek perdebatan ilmiah. Klasifikasi subspesifik definitif sebagai Elephas maximus borneensis masih menanti studi morfometrik dan genetik mendalam di seluruh wilayah sebarannya. Pada tahun 2024, gajah kalimantan telah dikategorikan sebagai spesies Terancam Punah dalam Daftar Merah IUCN karena populasinya menyusut setidaknya 50% selama tiga generasi terakhir, yang diperkirakan mencakup kurun waktu 60–75 tahun. Ancaman utamanya berasal dari kehilangan, kerusakan, serta fragmentasi habitat.[1]
Sultan Sulu sebelumnya dianggap telah mengintroduksi gajah-gajah penangkaran ke Kalimantan pada abad ke-18, yang kemudian dilepaskan ke dalam hutan.[2] Namun, perbandingan populasi gajah kalimantan dengan populasi sumber yang diduga melalui analisis DNA menunjukkan bahwa gajah kalimantan kemungkinan besar berasal dari galur Sunda dan merupakan satwa asli (indigenos) Kalimantan, alih-alih diintroduksi oleh manusia. Divergensi genetik pada gajah kalimantan memberikan dasar bagi pengakuannya sebagai sebuah unit signifikan secara evolusioner yang terpisah.[3]

Secara umum, gajah asia berukuran lebih kecil dibandingkan gajah afrika dan memiliki titik tubuh tertinggi di bagian kepala. Ujung belalai mereka memiliki satu tonjolan yang menyerupai jari. Bagian punggungnya cenderung cembung atau rata.[4]
Penyebutan gajah kalimantan sebagai subspesies 'kerdil' telah menjadi hal yang lazim, meskipun gajah dewasa di Sabah, baik jantan maupun betina, memiliki tinggi yang serupa dengan kerabat mereka di Semenanjung Malaya. Lima pengukuran tengkorak dari seekor gajah betina dewasa dari Cagar Hutan Gomantong menunjukkan ukuran yang sedikit lebih kecil (72–90%) dibandingkan dimensi rata-rata dua tengkorak dari Sumatra. Data pengukuran yang tersedia menunjukkan bahwa mereka memiliki ukuran yang serupa dengan populasi lain di subkawasan Sunda.[2]
Pengukuran morfologis terhadap lima belas gajah penangkaran dari Semenanjung Malaya dan enam gajah dari Sabah dilakukan antara April 2005 hingga Januari 2006, yang diulangi sebanyak tiga kali untuk setiap individu dan kemudian dirata-ratakan. Hasilnya menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan pada karakter apa pun di antara kedua populasi penangkaran tersebut.[5]
Gajah kalimantan juga memiliki temperamen yang sangat jinak dan pasif, yang menjadi alasan lain bagi sebagian ilmuwan untuk berasumsi bahwa mereka merupakan keturunan dari koleksi domestik.[3][6]

Populasi gajah ini terbatas di wilayah utara dan timur laut Pulau Kalimantan.[7] Pada dasawarsa 1980-an, terdapat dua populasi yang terpisah: satu kelompok mendiami Sabah, yang meliputi Suaka Margasatwa Tabin serta hutan dipterokarpa di sekitarnya yang sebagian besar telah ditebang di medan yang curam; kelompok lainnya menghuni kawasan pedalaman berbukit pada ketinggian sekitar 300 hingga 1.500 m (980 hingga 4.920 ft) di hutan dipterokarpa yang pada masa itu masih asri dan hanya mengalami pembalakan di bagian tepinya. Di Kalimantan, wilayah sebaran mereka terbatas pada area kecil yang bersambungan di hulu Sungai Sembakung di bagian timur.[8]
Rentang wilayah gajah liar di Sabah dan Kalimantan tampak mengalami ekspansi yang sangat minim dalam 100 tahun terakhir, meskipun terdapat akses menuju habitat yang sesuai di bagian lain Pulau Kalimantan. Tanah di Kalimantan cenderung berusia muda, mengalami pencucian hara, dan tidak subur; muncul spekulasi bahwa distribusi gajah liar di pulau ini mungkin dibatasi oleh ketersediaan sumber mineral alami.[9]
Pada tahun 1992, estimasi jumlah populasi gajah di Sabah berkisar antara 500 hingga 2.000 individu, berdasarkan survei yang dilakukan di Suaka Margasatwa Tabin, kawasan hilir Distrik Kinabatangan, dan Cagar Hutan Deramakot. Sensus populasi gajah kembali dilakukan di Sabah antara Juli 2007 dan Desember 2008 dengan menghitung tumpukan kotoran di sepanjang 216 transek garis di lima wilayah pengelolaan utama, mencakup jarak total 18.612 km (11.565 mi). Hasil survei ini menunjukkan populasi sekitar 1.184–3.652 individu yang menghuni kawasan Tabin, Kinabatangan Hilir, Kinabatangan Utara, Cagar Hutan Ulu Kalumpang, serta hutan tengah Sabah. Kerapatan dan ukuran populasi bervariasi di kelima wilayah tersebut, yang dipengaruhi oleh (i) konversi hutan dataran rendah, (ii) fragmentasi habitat, dan (iii) aktivitas tata guna lahan seperti pembalakan. Daerah tangkapan air hulu di Cagar Hutan Ulu Segama memiliki kerapatan gajah tertinggi dengan 3,69 gajah per 1 km2 (0,39 sq mi). Tercatat hanya kawasan hutan tengah yang tidak dilindungi yang mampu menampung populasi gajah lebih dari 1.000 individu.[10]
Pada tahun 2005, lima ekor gajah betina dipasangi alat pelacak untuk mempelajari wilayah jelajah dan pola pergerakan mereka di Sabah. Hasil studi menunjukkan bahwa kelompok gajah menempati wilayah jelajah minimum seluas 250 hingga 400 km2 (97 hingga 154 sq mi) di hutan yang tidak terfragmentasi, sedangkan di habitat hutan yang terfragmentasi, wilayah jelajah tahunan gajah diperkirakan mencapai sekitar 600 km2 (230 sq mi).[11]
Ancaman utama bagi gajah asia saat ini meliputi hilangnya habitat, kerusakan, serta fragmentasi lahan yang dipicu oleh pertumbuhan populasi manusia. Kondisi ini pada gilirannya memicu peningkatan konflik antara manusia dan gajah ketika satwa tersebut memakan atau menginjak-injak tanaman budidaya. Ratusan manusia dan gajah terbunuh setiap tahunnya akibat konflik tersebut.[12]
Ekspansi pembangunan manusia telah mengganggu jalur migrasi, mengurangi sumber pangan, serta menghancurkan habitat mereka secara masif.[13]
Ancaman lainnya adalah minimnya reboisasi atau kelangkaan tegakan pohon akibat pembalakan. Gajah kalimantan membutuhkan 100–225 liter (22–49 imp gal; 26–59 US gal) air setiap hari; jika ketersediaan air sulit ditemukan akibat kondisi iklim atau rusaknya sumber daya air, satu-satunya pilihan bagi mereka adalah bermigrasi ke wilayah yang menyediakan sumber daya tersebut demi kelangsungan hidup.[14]
Hingga April 2012, diperkirakan terdapat 20–80 ekor gajah yang berkeliaran di dekat 22 desa di wilayah Sebuku, Nunukan, Kalimantan Utara.[15]

Elephas maximus terdaftar dalam Lampiran I CITES.[1] Keunikan genetik yang dimiliki gajah kalimantan menjadikannya salah satu populasi dengan prioritas tertinggi dalam upaya konservasi gajah asia.[3]
Di Malaysia, gajah kalimantan dilindungi di bawah Jadwal II Enakmen Pemeliharaan Hidupan Liar. Setiap orang yang dinyatakan bersalah atas perburuan gajah dapat dikenakan denda sebesar RM 50.000 atau hukuman penjara selama lima tahun, atau keduanya.[9]
Kebun Binatang Oregon memelihara seekor gajah kalimantan betina yang diselamatkan bernama Chendra. Ia ditemukan berkeliaran sendirian di dekat perkebunan kelapa sawit dengan luka tembak pada kaki depan dan mata kirinya. Kondisi tersebut menyebabkan kebutaan permanen pada mata kirinya, dan ia akhirnya dipindahkan ke Kebun Binatang Oregon pada November 1999.[16]
Pada tahun 2016, sebuah kebun binatang di Jepang juga diketahui memelihara seekor gajah kalimantan hasil penyelamatan.[17]
Hingga kini belum terpecahkan apakah gajah kalimantan merupakan satwa asli atau keturunan dari gajah penangkaran yang dihadiahkan kepada Sultan Sulu pada tahun 1750 oleh East India Company dan kemudian dilepaskan di utara Kalimantan.[8]
Pada abad ke-19, sebuah eksplorasi zoologi memastikan bahwa gajah liar hidup secara alami di wilayah terbatas di timur laut Kalimantan. Sejak saat itu, status dan keunikan taksonomi gajah kalimantan terus menjadi kontroversi. Pada tahun 1940, Frederick Nutter Chasen menganggap gajah kalimantan sebagai keturunan dari stok introduksi dan memasukkannya ke dalam subspesies Elephas maximus indicus. Namun, Reginald Innes Pocock yang mempelajari spesimen di Museum Sejarah Alam Britania tidak sependapat pada tahun 1943, dan mengelompokkan seluruh gajah Sunda ke dalam subspesies Elephas maximus sumatrensis. Pada tahun 1950, Paules Edward Pieris Deraniyagala mendeskripsikan subspesies Elephas maximus borneensis dengan merujuk pada sebuah ilustrasi di National Geographical Magazine sebagai tipenya.[2]
Pada tahun 2003, perdebatan kembali mencuat dengan adanya dugaan bahwa gajah Sulu yang diintroduksi dan populasi di timur laut Kalimantan mungkin merupakan keturunan dari Gajah jawa yang kini telah punah, yang oleh Deraniyagala dinamakan Elephas maximus sondaicus. Hipotesis ini didasarkan pada absennya bukti arkeologis mengenai keberadaan gajah dalam jangka panjang di Kalimantan, dukungan dalam cerita rakyat, serta fakta bahwa gajah tidak mengolonisasi seluruh Pulau Kalimantan.[18]
Pada tahun yang sama, analisis DNA mitokondria dan data mikrosatelit menunjukkan bahwa populasi yang masih ada berasal dari stok Sunda, namun telah mengalami evolusi lokal secara independen selama sekitar 300.000 tahun sejak kolonisasi yang dihipotesiskan terjadi pada masa Pleistosen. Populasi ini kemungkinan terisolasi dari populasi gajah asia lainnya ketika jembatan darat yang menghubungkan Kalimantan dengan Kepulauan Sunda lainnya serta daratan utama Asia menghilang setelah Maksimum Glasial Terakhir sekitar 18.000 tahun yang lalu.[3]
Gajah merupakan persembahan yang lazim diberikan oleh seorang penguasa kepada penguasa lainnya, atau kepada sosok terpandang, dan sudah menjadi kebiasaan untuk mentransportasikannya melalui jalur laut. Sekitar tahun 1395, Raja dari Jawa menghadiahi dua ekor gajah kepada penguasa Raja Baginda dari Sulu. Hewan-hewan ini konon menjadi cikal bakal populasi liar di ujung barat Kalimantan. Ketika pada tahun 1521 sisa-sisa armada penjelajahan dunia Ferdinand Magellan tiba di Brunei, penulis kronik perjalanan tersebut mengisahkan bahwa delegasi dari kapal utama Victoria diantar ke istana penguasa menggunakan gajah-gajah yang berhiaskan kain sutra. Tradisi ini telah ditinggalkan saat pengunjung-pengunjung berikutnya tiba di Brunei pada dekade 1770-an, yang melaporkan adanya kawanan gajah liar yang diburu oleh penduduk setempat setelah masa panen. Terlepas dari catatan-catatan awal mengenai gajah kerajaan di Brunei dan Banjarmasin, tidak ditemukan tradisi penangkapan maupun penjinakan gajah liar lokal di Kalimantan.[2]
Kehadiran gajah di wilayah utara Kalimantan bertepatan dengan masa kekuasaan Sultan-Sultan Sulu atas Sabah. Kesultanan Sulu menjalin hubungan damai dengan Kekaisaran Hindu Jawa. Sebagai bentuk apresiasi, para penguasa Jawa mengirimkan gajah-gajah mereka ke Sulu, sebagaimana mereka juga pernah mengirimkan gajah jawa ke Kesultanan Maguindanao, yang sekaligus menjelaskan mengapa sisa-sisa kerangka gajah berukuran kecil ditemukan di Mindanao, Filipina selatan. Sultan Sulu beserta keluarganya mengirimkan beberapa gajah jawa peliharaan mereka ke timur laut Kalimantan karena keterbatasan lahan dan agar gajah-gajah tersebut dapat membantu mengangkut kayu dari hutan untuk pembuatan kapal-kapal yang cepat dan panjang. Saat kesepakatan sewa ditandatangani, sebagian besar gajah kecil yang jinak dan terdomestikasi ini, yang sebelumnya dipekerjakan oleh para pembuat kapal dan pedagang Sulu, dilepaskan ke hutan agar mereka dapat hidup jauh di dalam rimba, terhindar dari perseteruan para sultan yang mungkin memanfaatkan mereka untuk peperangan. Tindakan melepaskan pachyderm ini ke alam liar menjadikan keluarga Bolkiah dari Sulu beserta sekutu mereka sebagai penyelamat populasi gajah yang tersisa, sebagaimana ditegaskan oleh penduduk setempat.[19]
Dalam sebuah penelitian, para ahli membandingkan DNA dan keragaman genetiknya dengan populasi gajah asia lainnya, lalu menyimpulkan bahwa gajah kalimantan terpisah dari subspesies Elephas lainnya sekitar 300.000 tahun yang lalu. Mereka mengonfirmasi bahwa gajah kalimantan memiliki keragaman genetik yang rendah namun mengikuti pola kolonisasi masa Pleistosen.[20]