Tubagus Eman Sulaeman atau kerap dituliskan juga sebagai Eman Sulaiman adalah seorang budayawan, pengarang dan pemeran asal Indonesia keturunan Sunda-Banten. Ia dikenal luas sebagai salah satu sejarawan Bogor.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Eman Sulaeman | |
|---|---|
| Lahir | Tubagus Eman Sulaeman (1937-03-27)27 Maret 1937 Rangkasbitung, Hindia Belanda |
| Meninggal | 28 Juni 2021(2021-06-28) (umur 84) Kota Bogor, Jawa Barat, Indonesia |
| Pekerjaan | Sejarawan, budayawan |
Tubagus Eman Sulaeman atau kerap dituliskan juga sebagai Eman Sulaiman (27 Maret 1937 – 28 Juni 2021) adalah seorang budayawan, pengarang dan pemeran asal Indonesia keturunan Sunda-Banten. Ia dikenal luas sebagai salah satu sejarawan Bogor.[1][2]
Saat masih muda, Eman pernah bekerja sebagai aparatur sipil negara di Kantor Bapenda Kota Bogor dari tahun 1956–1966 dan kemudian dimutasikan ke Radio Republik Indonesia Regional II Bogor dari 1966–1993. Saat bekerja di RRI inilah, Eman banyak bersinggungan dengan para pekerja seni yang membuatnya tertarik untuk mendalami sejarah seni dan budaya lokal Sunda yang berada di Kota Bogor maupun Kabupaten Bogor.[3][4][5] Kecintaannya pada sejarah tidak lepas dari pengaruh gurunya Mas Ace Salmun Raksadikaria yang juga berasal dari Banten.[6]
Eman juga kerap tampil dalam beberapa peran untuk film, diantaranya sebagai petugas polisi dalam film Warkop DKI Sabar Dulu Dong...! yang mengambil lokasi syuting di Bogor.[7] Ia juga tampil dalam beberapa judul sinetron diantaranya Lorong Waktu[8] dan 3 Sempruuul Mengejar Surga. Ia juga sering tampil dalam pagelaran teater serta program sandiwara yang ditayangkan di TVRI bersama Umar Machdam.[9]
Eman meninggal dunia pada 28 Juni 2021 akibat penyakit asma yang sudah lama dideritanya.[10][11] Ia dimakamkan di Bantar Kemang, Bogor.[12]