Walabi esem adalah spesies marsupialia dalam famili Macropodidae. Hewan ini ditemukan di Pulau Papua dan beberapa pulau sekitarnya seperti Misool, Salawati, dan Kepulauan Yapen.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Walabi Esem Djief[1] | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Mammalia |
| Infrakelas: | Marsupialia |
| Ordo: | Diprotodontia |
| Famili: | Macropodidae |
| Genus: | Dorcopsis |
| Spesies: | D. muelleri |
| Nama binomial | |
| Dorcopsis muelleri (Schlegel, 1866) | |
| Sinonim | |
Walabi esem[3] (Dorcopsis mueller) adalah spesies marsupialia dalam famili Macropodidae. Hewan ini ditemukan di Pulau Papua dan beberapa pulau sekitarnya seperti Misool, Salawati, dan Kepulauan Yapen.[2]
Spesies ini awalnya disebut Kangurus veterum oleh Rene Lesson. Akan tetapi karna tidak adanya holotipe menyebabkan kebingungan apakah nama ini berlaku untuk spesies ini atau Unijo kelabu. Jean Quoy dan Joseph Gaimard berikutnya memberi nama: Kangurus brunii, akan tetapi nama ini telah terpakai. Berikutnya yang memberi nama adalah Hermann Schlegel dengan nama: Macropus muelleri, 25 tahun kemudian.[4]
Spesies ini sudah disebut Dorcopsis muelleri sejak 1866; walaupun begitu, banyak jurnal dan penulis lainnya masih menggunakan nama dari Lesson, walaupun muelleri tidak ada dalam publikasinya pada tahun 1827.[5] American Society of Mammalogists[4] mengakui Schlegel sebagai penulis awal, akan tetapi publikasi 2005 oleh Wilson & Reeder berjudul Mammal Species of the World[1] dan ITIS mencatat Lesson.
Nama ilmiah spesies berasal dari Salomon Muller, seorang naturalis dan taxidermist asal Belanda yang bekerja untuk Schlegel.[6]
Ada lima subspecies dari Dorcopsis muelleri yang diakui. Garis punggung (dorsal) berwarna coklat kusam, coklat kemerahan, atau coklat kekuningan, sedangkan bagian bawah berwarna putih, krim kekuningan, atau abu-abu. lengannya biasanya berwarna lebih muda dari bagian punggung dan ujung ekornya tidak berbulu.[7]
Walabi esem ini endemik di wilayah barah Pulau Papua (Papua Barat Daya, Papua Barat, Selatan, Tengah dan Papua) dan beberapa pulau sekitarnya seperti beberapa wilayah di Kepulauan Raja Ampat (Pulau Misool, Salawati, Batanta, dan Waigeo), serta Kepulauan Yapen.[7] Habitatnya berupa rawa tropis dan wilayah yang terendam air dalam musim hujan, selain itu dipercaya mereka bisa hidup di hutan sekunder seperti taman yang ditinggalkan.[2]
Beberapa tulang ditemukan di lantai gua yang digunakan pemburu masa lampau sekitar 26.000 tahun yang lalu. Dimana 75-80% berasal dari walabi esem atau dalam nama lokal berdasarkan penjelasan Elimas Kambuaya disebut Djief, sehingga penghuni gua tersebut disebut "pemburu djief".[8]
Hewan ini memiliki distribusi yang luas. Mereka bisa ditemukan di pesisir selatan walau jarang ditemui di tengah peninsula kepala burung. Secara garis besar populasinya stabil, karena kebanyakan wilayahnya tidak ditempati manusia. Akan tetapi beberapa wilayahnya yang dekat dengan manusia teracam oleh industri penebangan kayu sperti di Kepulauan Yapen, atau pembukaan lahan hutan untuk pertanian. Walaupun diburu sebagai sumber makanan, species ini tidak terancam, karena itu IUCN menetapkan sebagai "Spesies risiko rendah".[2]