<a href=\"./Wikipedia:Kebijakan_pelindungan#extended\" title=\"Artikel ini hanya dapat disunting oleh pengguna terkonfirmasi lanjutan.\" id=\"mwBA\"><img alt=\"Halaman yang hanya dapat disunting oleh pengguna terkonfirmasi lanjutan\" resource=\"./Berkas:Extended-protection-shackle.svg\" src=\"//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/8c/Extended-protection-shackle.svg/20px-Extended-protection-shackle.svg.png\" decoding=\"async\" data-file-width=\"512\" data-file-height=\"512\" data-file-type=\"drawing\" height=\"20\" width=\"20\" srcset=\"//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/8c/Extended-protection-shackle.svg/40px-Extended-protection-shackle.svg.png 2x\" class=\"mw-file-element\" id=\"mwBQ\"/></a></span>"}' id="mwBg"/>
Sebelumnya wilayah penduduk Lampung semula bercorak Hindu yang diperkirakan peradaban masyarakat telah ada pada abad ke-3—abad ke 7 yang didirikan oleh Suku Tumi. Pada tahun 535 M, terjadi ledakan besar Gunung Krakatau purba yang menyebabkan hancurnya kebudayaan Pasemah.[3] Pada saat itu terjadi langit yang gelap, suhu lingkungan menurun dan terbentuknya selat Sunda. Setelah itu peradaban ada kembali sekitar tahun 600 M dengan berdirinya Kerajaan Tulang Bawang yang telah tercatat pada catatan asing.
Pada abad ke 7, wilayah ini dikuasai oleh Sriwijaya dibuktikan dengan adanya prasasti Sriwijaya yang ditemukan di Lampung.
Pada abad ke 12, wilayah Ini dikuasai Singosari, dengan adanya Ekspedisi Pamalayu.
Pada abad Ke 13, dikuasai oleh Majapahit, lalu Majapahit mengutus Adityawarman sebagai pimpinan pulau Sumatra di bawah Komando Majapahit[4]
Pada abad ke 14, wilayah bekas vasal majapahit di Sumatra, didirikan Kerajaan Pagaruyung.
Pada abad ke-16, kerajaan ini mulai mengadopsi agama Islam yang dibawa oleh empat utusan Kerajaan Pagaruyung.[5][6] lalu Mendirikan Kepaksian Sekala Brak, dan akhirnya terbagi menjadi 4 wilayah kepaksian.
Pada abad ke 18, wilayah ini ditaklukkan oleh VOC.
Kepaksian Sekala Brak masih mewariskan keturunan sampai sekarang yang berusaha melestarikan adat dan budaya Sekala Brak kendati sudah tidak memiliki wewenang secara politik lagi.[7]
↑Abdurrachman, M., Widiyantoro, S., Priadi, B., dan Ismail, T. (2018). Geochemistry and Structure of Krakatoa Volcano in the Sunda Strait, Indonesia. Geosciences, 8(4), 111.https://www.mdpi.com/2076-3263/8/4/111