Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Teori penggentar

Teori penggentar atau deterensi mulai dikenal sebagai strategi militer pada masa Perang Dingin karena terkait dengan penggunaan senjata nuklir. Deterensi memiliki arti yang unik waktu itu karena berkat kekuatan nuklir yang menghancurkan, sebuah negara nuklir kecil dapat mencegah serangan musuhnya yang jauh lebih kuat asalkan mereka terlindungi dari kehancuran melalui serangan kejutan. Deterensi adalah strategi untuk mencegah musuh mengambil tindakan yang belum dimulai, atau mencegah musuh melakukan sesuatu yang diharapkan negara lain. Menurut Bernard Brodie pada tahun 1959, deteren nuklir yang tepat harus selalu disiagakan dan tidak pernah digunakan.

penologi
Diperbarui 21 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini berisi tentang teori perang dan senjata nuklir. Untuk teori keadilan, lihat Deterensi (hukum).
Bagian dari seri artikel mengenai
Perang
Sejarah
  • Prasejarah
  • Kuno
  • Abad pertengahan
  • Modern awal
  • Industri
  • Modern
  • Perang generasi keempat
Ruang pertempuran
  • Udara
  • Dunia maya
  • Informasi
  • Antariksa
  • Darat
    • Wilayah dingin
    • Gurun
    • Hutan
    • Gunung
    • Perkotaan
    • Bawah tanah
  • Laut
    • Amfibi
    • Biru
    • Cokelat
    • Hijau
    • Permukaan
    • Bawah air
  • Siber
  • Informasi
Senjata
  • Lapis baja
  • Artileri
  • Biologi
  • Kavaleri
  • Kimia
  • Konvensional
  • Dunia maya
  • Elektronik
  • Infanteri
  • Nuklir
  • Psikologi
  • Nonkonvensional
Taktik
  • Udara
  • Pertempuran
  • Kavaleri
  • Serbuan
  • Serangan balik
  • Kontrapemberontakan
  • Perlindungan
  • Lubang perlindungan
  • Perang gerilya
  • Semangat juang
  • Pengepungan
  • Berkerumun
  • Sasaran taktis
  • Perang parit
Operasional
  • Blitzkrieg
  • Operasi mendalam
  • Perang manuver
  • Kelompok manuver operasi
  • Penelitian operasi
Strategi
  • Atrisi
  • Serangan balasan
  • Muslihat
  • Defensif
  • Sasaran
  • Angkatan laut
  • Serangan
Strategi utama
  • Pembendungan
  • Perang ekonomi
  • Perang terbatas
  • Sains militer
  • Filosofi perang
  • Kajian strategis
  • Perang total
Organisasi
  • Komando dan kendali
  • Doktrin
  • Pendidikan dan pelatihan
  • Insinyur
  • Intelijen
  • Pangkat
  • Staf
  • Teknologi dan peralatan
Logistik
  • Industri senjata
  • Perlengkapan
  • Manajemen rantai pasokan
Terkait
  • Perang tidak seimbang
  • Broken-Backed War Theory
  • Pengadilan militer
  • Perang dingin
  • Teori deterensi
  • Perang tidak beraturan
  • Hukum perang
  • Tentara bayaran
  • Kampanye militer
  • Operasi militer
  • Perang sentrajaringan
  • Riset operasi
  • Prinsip perang
  • Perang proksi
  • Perang keagamaan
  • Perbudakan
  • Teater
  • Kejahatan perang
  • Film perang
  • Permainan perang
  • Novel perang
  • Kekerasan seksual di masa perang
  • Perang dunia
  • Perang kolonial
Daftar
  • Pertempuran
  • Pendudukan militer
  • Operasi
  • Pengepungan
  • Kejahatan perang
  • Perang
  • Senjata
  • Penulis
  • l
  • b
  • s

Teori penggentar atau deterensi mulai dikenal sebagai strategi militer pada masa Perang Dingin karena terkait dengan penggunaan senjata nuklir. Deterensi memiliki arti yang unik waktu itu karena berkat kekuatan nuklir yang menghancurkan, sebuah negara nuklir kecil dapat mencegah serangan musuhnya yang jauh lebih kuat asalkan mereka terlindungi dari kehancuran melalui serangan kejutan. Deterensi adalah strategi untuk mencegah musuh mengambil tindakan yang belum dimulai, atau mencegah musuh melakukan sesuatu yang diharapkan negara lain. Menurut Bernard Brodie pada tahun 1959, deteren nuklir yang tepat harus selalu disiagakan dan tidak pernah digunakan.[1]

Dalam tulisan klasik Thomas Schelling (1966) tentang deterensi, ia memaparkan konsep bahwa strategi militer tidak bisa lagi dijadikan standar kemenangan militer. Ia berpendapat bahwa strategi militer saat ini lebih mengarah ke seni koersi atau intimidasi dan deterensi.[2] Schelling mengatakan bahwa kemampuan untuk menghancurkan negara lain sudah dijadikan motivasi bagi negara lain untuk menghindarinya dan memengaruhi perilaku negara lain. Untuk bersikap koersif atau mencegah negara lain, kekerasan harus diantisipasi dan dihindari lewat akomodasi. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa penggunaan kekuasaan untuk melukai sebagai daya tawar adalah dasar dari teori deterensi, dan deterensi sangat berhasil bila tidak digunakan.[2]

Pada tahun 2004, Frank C. Zagrare mengutarakan pendapatnya bahwa teori deterensi tidak konsisten secara logis, tidak akurat secara empiris, dan banyak kelemahan. Sebagai pengganti deterensi klasik, para pakar pilihan rasional mengusulkan deterensi sempurna yang berasumsi bahwa setiap negara memiliki ciri khas internalnya masing-masing dan kredibilitas ancaman pembalasannya sendiri.[3]

Dalam artikel di Wall Street Journal bulan Januari 2007, para pembuat kebijakan era Perang Dingin, Henry Kissinger, Bill Perry, George Shultz, dan Sam Nunn, mencabut pernyataannya dan menegaskan bahwa bukannya menjadikan dunia ini lebih aman, senjata nuklir justru merupakan sumber risiko yang besar.[4] Pada tahun 2010, sejumlah negarawan senior dan tokoh wanita Eropa menuntut tindakan lebih lanjut dalam menangani masalah proliferasi senjata nuklir. Mereka mengatakan, "Deterensi nuklir bukanlah tanggapan strategis yang persuasif bagi dunia yang penuh perlombaan senjata nuklir regional dan terorisme nuklir, berbeda dengan era Perang Dingin".[5]

Lihat pula

  • Deterensi minimal
  • Dilema keamanan
  • Dilema tahanan
  • Doktrin Reagan
  • Essentials of Post–Cold War Deterrence
  • Etika nuklir
  • Hubungan internasional
  • Kepastian saling menghancurkan
  • Keseimbangan teror
  • N-deterensi
  • Paradoks waralaba
  • Pembalasan besar
  • Pemerasan nuklir
  • Perang Dingin
  • Perang nuklir
  • Perdamaian melalui kekuatan
  • Perdamaian nuklir
  • Peringatan peluncuran
  • Permainan perang
  • Serangan kedua
  • Serangan melumpuhkan
  • Strategi nuklir
  • Teori permainan
  • Terorisme nuklir
  • Tindakan kepercayaan diri
  • Triad nuklir

Referensi

  1. ↑ Brodie, Bernard (1959), "8", "The Anatomy of Deterrence" as found in Strategy in the Missile Age, Princeton: Princeton University Press, hlm. 264–304
  2. 1 2 Schelling, T. C. (1966), "2", The Diplomacy of Violence, New Haven: Yale University Press, hlm. 1–34
  3. ↑ Zagare, Frank C. (2004), "Reconciling Rationality with Deterrence: A Re-examination of the Logical Foundations of Deterrence Theory", Journal of Theoretical Politics, vol. 16, no. 2, hlm. 107–141
  4. ↑ "Nuclear endgame: The growing appeal of zero". The Economist. June 16, 2011.
  5. ↑ Kåre Willoch, Kjell Magne Bondevik, Gro Harlem Brundtland, Thorvald Stoltenberg, Wlodzimierz Cimoszewicz, Ruud Lubbers, Jean-Luc Dehaene, Guy Verhofstadt; et al. (14 April 2010). "Nuclear progress, but dangers ahead". The Guardian. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  • "U.S. Department of Defense's Deterrence Operations Joint Operating Concept". Diarsipkan dari asli (Word) tanggal 2012-01-18. Diakses tanggal 2011-10-11.

Bacaan lanjutan

Wikiversity memiliki bahan belajar tentang Survey research and design in psychology/Tutorials/Multiple linear regression/Exercises/Deterrence theory
  • Freedman, Lawrence. 2004. Deterrence. New York: Polity Press.
  • Jervis, Robert, Richard N. Lebow and Janice G. Stein. 1985. The Psychology of Deterrence. Baltimore: Johns Hopkins University Press. 270 pp.
  • Morgan, Patrick. 2003. Deterrence Now. New York: Cambridge University Press.
  • T.V. Paul, Patrick M. Morgan, James J. Wirtz, Complex Deterrence: Strategy In the Global Age (University of Chicago Press, 2009) ISBN 978-0-226-65002-9
  • Garcia Covarrubias, Jaime. The Significance of Conventional Deterrence in Latin America, March - April 2004
  • Waltz, Kenneth N. Nuclear Myths and Political Realities. The American Political Science Review. Vol. 84, No. 3 (Sep, 1990), pp. 731–746

Pranala luar

  • Nuclear Deterrence Theory and Nuclear Deterrence Myth Diarsipkan 2010-07-05 di Wayback Machine., streaming video of a lecture by Professor John Vasquez, Program in Arms Control, Disarmament, and International Security (ACDIS), University of Illinois, September 17, 2009.
  • Deterrence Today - Roles, Challenges, and Responses Diarsipkan 2011-12-07 di Wayback Machine., analysis by Lewis A. Dunn, IFRI Proliferation Papers n° 19, 2007
  • Revisiting Nuclear Deterrence Theory Diarsipkan 2013-01-10 di Archive.is by Donald C. Whitmore — March 1, 1998
  • Nuclear Deterrence, Missile Defenses, and Global Instability Diarsipkan 2004-06-26 di Wayback Machine. by David Krieger, April 2001
  • Bibliography Diarsipkan 2011-09-27 di Wayback Machine.
  • Maintaining Nuclear Deterrence in the 21st Century Diarsipkan 2005-08-14 di Wayback Machine. by the Senate Republican Policy Committee
  • Nuclear Files.org Description and analysis of the nuclear deterrence theory
  • Nuclear Files.org Speech by US General Lee Butler in 1998 on the Risks of Nuclear Deterrence
  • Nuclear Files.org Speech by Sir Joseph Rotblat, Nobel Peace Laureate, on the Ethical Dimensions of Deterrence
  • The Universal Formula for Successful Deterrence by Charles Sutherland, 2007. A predictive tool for deterrence strategies.
  • Will the Eagle strangle the Dragon? Diarsipkan 2008-04-10 di Wayback Machine., Analysis of how the Chinese nuclear deterrence is altered by the U.S. BMD system, Trends East Asia, No. 20, February 2008.
  • When is Deterrence Necessary? Gauging Adversary Intent Diarsipkan 2017-12-03 di Wayback Machine. by Gary Schaub,Jr., Strategic Studies Quarterly 3, 4 (Winter 2009) Diarsipkan 2017-02-10 di Wayback Machine.
  • The significance of conventional deterrence in Latin America
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Prancis
  • Data BnF
  • Republik Ceko
  • Israel
Lain-lain
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Lihat pula
  2. Referensi
  3. Bacaan lanjutan
  4. Pranala luar

Artikel Terkait

Penologi

nilai-nilai dari hak asasi manusia. Kata penologi berakar pada kata "penal" yang berarti "hukuman" dan dengan demikian penologi bermakna "ilmu hukuman". Salah satu

Penggentarjeraan

kaitannya dengan tindak pidana adalah gagasan atau teori bahwa ancaman hukuman akan menghalangi orang melakukan kejahatan dan mengurangi kemungkinan dan/atau tingkat pelanggaran dalam masyarakat.

Abad Pencerahan

gerakan kebudayaan di Eropa dari abad ke-17 hingga abad ke-18

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026