DLloyd adalah sebuah grup musik legendaris Indonesia. Dibentuk pada tahun 1969 oleh Bartje Van Houten, selaku Leader. Band ini awalnya merupakan band asuhan dari sebuah perusahaan pelayaran dan logistik milik negara, Djakarta Lloyd. D'lloyd merasakan puncak kariernya di era 1970-an dan memiliki banyak penggemar tidak hanya di tanah air tetapi hingga Malaysia dan Singapura. Lagu-lagu L'loyd hingga saat ini masih sering terdengar sebagai lagu nostalgia dan banyak diaransemen oleh penyanyi lain. Walaupun tidak setenar Koes Plus atau Panbers, D'lloyd memiliki ciri khas tersendiri yang membuat band ini mendapat tempat di hati para penggemarnya dengan lagu mendayu-dayu dan genre melayu pop-nya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

D'Lloyd | |
|---|---|
D'lloyd pada tahun 1972 | |
| Informasi latar belakang | |
| Asal | Jakarta, Indonesia |
| Genre | Pop |
| Tahun aktif | 1969–2017 |
| Label | Remaco Life |
| Mantan anggota | Amir Yusuf Sangkan Panggabean Andre Kasman Gultom Reshamal Denkel Budiman Pulungan Oetje F Tekol Syamsuar Hasyim Tono Chairoel Daud Bartje Van Houten |
DLloyd adalah sebuah grup musik legendaris Indonesia. Dibentuk pada tahun 1969 oleh Bartje Van Houten, selaku Leader. Band ini awalnya merupakan band asuhan dari sebuah perusahaan pelayaran dan logistik milik negara, Djakarta Lloyd. D'lloyd merasakan puncak kariernya di era 1970-an dan memiliki banyak penggemar tidak hanya di tanah air tetapi hingga Malaysia dan Singapura. Lagu-lagu L'loyd hingga saat ini masih sering terdengar sebagai lagu nostalgia dan banyak diaransemen oleh penyanyi lain. Walaupun tidak setenar Koes Plus atau Panbers, D'lloyd memiliki ciri khas tersendiri yang membuat band ini mendapat tempat di hati para penggemarnya dengan lagu mendayu-dayu dan genre melayu pop-nya.
Nama D'Lloyd merupakan akronim dari Djakarta Lloyd. Dan nama ini diadopsi dari nama perusahaan pelayaran, yakni PN Djakarta Lloyd yang didirikan oleh veteran TNI AL pada tahun 1950. Nama tersebut disematkan oleh Sudomo, yang menjadi Kepala Staf Angkatan Laut kala itu.
Pada tahun 1969, Bartje Van Houten tiba dari Ambon ke Jakarta. Dengan satu tujuan, yakni mengejar mimpi dalam bermusik. Hari-harinya dipenuhi dengan kerasnya hidup diibukota negara.
Berjalannya waktu, Bartje pun sudah memiliki teman. Teman-teman ini merupakan karyawan di PN Djakarta Lloyd. Kebetulan karyawan diperusahaan itu bisa main musik. Mungkin itulah, Bartje senang berbaur dengan mereka. Bartje bergabung dan bermain musik bersama karyawan Djakarta Lloyd. Karena sering terlihat bersama Bartje pun diangkat menjadi karyawan.
Dalam kebersamaan itu, direktur perusahaan mendaulat mereka menjadi band perusahaan. Direkturnya adalah Pak Sudomo, yang juga menjabat sebagai Kepala Staf TNI AL ke-6 (1969-1973). Yang kemudian menjadi Wakil Panglima Kopkamtib (1973-1974).
Lalu, Pak Sudomo memberikan nama grup mereka D'Lloyd dengan formasinya adalah Syamsuar Hasyim (Vokal), Bartje Van Houten (Gitar Utama), Amir Yusuf (Gitar Ritme), Sangkan Panggabean (Bas), Budiman Pulungan (Kibor), Chairoel Daud (Drum), dan Andre Kasman Gultom (Drum). Dulu masih main untuk perusahaan, misalnya acara ulang tahun perusahaan atau ada tamu dari perushaan.
Suatu hari, Bartje diajak rekaman oleh A. Riyanto dan Enteng Tanamal. Dari situlah Bartje mencoba untuk rekaman.
Pada tahun 1970/1971, D`Lloyd melakukan rekaman perdana di Remaco. Dan tahun 1971 dirilislah album mereka yang berjudul D,Lloyd atau lebih dikenal album Vol.1. Singelnya "Titik Noda" langsung meledak di pasaran.
Pada tahun-tahun berikutnya, D'lloyd mengeluarkan banyak album dengan genre pop dan melayu.
Sepanjang tahun 1970-an, D'lloyd banyak mengeluarkan singel hits. Lagu-lagu tersebut di antaranya "Apa Salah dan Dosaku", "Mengapa Harus Jumpa" dan "Semalam di Malaya". Kebanyakan lagu mereka ditulis oleh lead guitarist mereka, Bartje van Houten. Kepopuleran mereka merambah hingga negara tetangga. D'lloyd kemudian sering tampil di Singapura dan Malaysia. Mereka juga beberapa kali mengeluarkan album di sana.
Dalam perkembangannya, mereka mengalami beberapa kali pergantian formasi. Karena keluar dan wafatnya beberapa anggota asli grup ini. Para personel pengganti pun merupakan musisi handal pada masa itu yang dianggap bisa mengikuti pola musik D'Lloyd.
Pada tahun 1980, Amir Yusuf (Yustian) keluar ("dikeluarkan") dari Grup musik. Karena kepergiannya ke San Fransisco, Amerika Serikat.
Yustian diplot menjadi gitaris kedua sejak tahun pendirian grup musik, 1969. Dan sudah tampil di berbagai tempat dan ikut merilis beberapa album rekaman selama beberapa tahun pada era 1970-an. Formasi ini berhasil menaikkan kesuksesan group D'Lloyd dalam beberapa tahun.
Sejak 24 tahun lamanya bersama, grup ini mendapat cobaan dengan meninggalnya bassist mereka Sangkan Panggabean (Papang) dalam usia 50 tahun pada 31 Agustus 1993. Kematian Papang membuat tekanan yang cukup mendalam pada Band ini. Mereka sempat menyepikan diri dari dunia seni selepas kematian pemain basnya ini untuk beberapa waktu.
Kemudian, posisi bassist digantikan secara resmi oleh Reshamal Denkel (Kamal). Formasi ini bertahan cukup lama. Mereka tetap solid dan melaju dengan lagu-lagu hits berikutnya. Bersama D'LLoyd ia ikut dalam rekaman beberapa album dan banyak tour show ke berbagai daerah.
Baru saja bangkit dari cobaan, pada 1 Februari 1996 cobaan pun datang lagi karena berpulangnya Andre Kasiman Gultom sang peniup flute D'Lloyd dalam usia 60 tahun. Ia wafat karena penyakit kanker hati di usia tua yang dideritanya. Namun sebelum meninggal, Andre sempat berpesan agar tempatnya digantikan oleh Yuyun.
Nama lengkapnya Juhanny Fatmarida Susilo yang kemudian dikenal dengan Yuyun George adalah seorang pemain saxophone wanita yang direkrut pada tahun 1996 menggantikan Andre Kasiman Gultom. Yuyun ketika itu baru berusia 35 tahun. Yuyun merupakan kawan baik dari isteri kedua Andre, yaitu Rini Asmara.[1] Kehebatan Juhanny (Yuyun) bermain flute cukup memesona, selain itu ia juga mempunyai vokal yang merdu, sehingga kerap menjadi vocalist kedua dalam band ini. Kehadirannya mampu mempertahankan mutu musikalitas D'Lloyd di panggung maupun pada album-album rekaman.
Setelah sekitar 10 tahun bersama D'Lloyd, pada bulan Agustus 2003, Kamal juga meninggal dunia karana sakit jantung yang dideritanya. Kehilangan Kamal menjadikan kembali kekurangan personel bagi group band ini. Untuk kegiatan manggung mereka mengisinya dengan pemain tambahan (additional player) dengan tetap mempertahankan formasi awal enam orang. Posisi Bassist yang kosong diisi oleh Oetje F Tekol (Toto / Totok) mantan penggawa band legendaris The Rollies.[2]
Pada tahun 2008 kembali band ini kehilangan keyboardist mereka Budiman Pulungan yang wafat pada 30 November 2008. Dalam periode ini Bartje kembali tidak mencari pengganti tetap untuk mengisi posisi pemain keyboard yang kosong. Posisi keyboardist diisi dengan additional player keyboardist Chandra Chasmala yang juga seorang pemusik Jazz cukup ternama.
Karena kesibukan dengan bandnya, tak berselang lama kemudian Toto (Totok) memutuskan mundur di akhir 2010.
Posisi bassist kemudian diisi secara additional oleh Ade Aviantara (Ade) musisi Jazz ex BlackFantasi87 yang juga kerap bermain musik jazz bersama Ireng Maulana dalam Forever Star.
Posisi Bass juga pernah diisi oleh Budi pada konser mereka di Ambon tahun 2012. Formasi dengan para additional player ini cukup solid mempertahankan eksistensi D'Lloyd dalam dunia musik tanah air khususnya di arena panggung hiburan.
Pada hari Sabtu, 9 Juni 2012, sekitar pukul 07.15 WIB, Sam menghembuskan nafas terakhir. Sebelum meninggal, Sam sempat mengungkapkan kata-kata terakhir.
Sam yang meninggal karena penyakit kanker paru-paru dan jantung itu meyakini, D'Lloyd tidak akan pernah bubar, kecuali kematian yang memisahkan.[3].
Selasa (30/9) pukul 08.30 WIB, drummer grup band legendaris D'lloyd, Chaerul Daud tutup usia.[4]
Chairul meninggal dunia di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Menteng dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Selatan.
Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, diketahui Chaerul sudah lama mengalami penyempitan pada pembuluh darah di otak. Pertengahan tahun 2013, Chaerul juga dikabarkan dalam keadaan kritis karena penyakit tersebut.
Pada 5 Mei 2017, satu-satunya personil asli dan pendiri band D'Lloyd yang tersisa, Bartje van Houten meninggal dunia. Bartje van Houten meninggal dunia setelah dibawa ke rumah sakit di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat.
Kabar duka meninggalnya Bartje van Houten diinformasikan oleh seorang musisi senior Kadri Mohamad Sutan Bandaro melalui akun Facebooknya. "Berita duka: telah meninggal dunia Bartje Van Houten Jumat, 5 Mei 2017 jam 13.30," tulisnya.[5]
Selain banyak menciptakan lagu untuk grupnya sendiri, Bartje juga banyak menciptakan lagu yang dibawakan penyanyi lain. Pada pertengahan 1970-an, Bartje banyak menulis lagu untuk penyanyi solo antara lain Eddy Silitonga, Ade Manuhutu, Arie Koesmiran, dan Melky Goeslaw. Salah satu lagu Bartje, "Mengapa Ada Dia di Antara Kita" pernah dibawakan Rano Karno pada 1982. Di dunia industri musik, Bartje juga dikenal sebagai pembuka jalan bagi penyanyi muda. Salah satu di antara mereka ialah penyanyi pop Mayangsari.[6]
Nama anggota band D'Llyod pada awal debutnya, yaitu :
Serta tiga mantan personel Phillon Band, yaitu :
Setelah berjalannya waktu adanya anggota baru yang masuk, yaitu:
Lagunya yang sempat membuat kontroversi adalah "Hidup di Bui". Lagu tersebut sempat di sensor oleh pemerintah orde baru karena memuat lirik yang sensitif yaitu "penjara Tangerang". D'lloyd kemudian menggantinya dengan "penjara jaman perang" agar dapat diputar kembali di radio.[7] Penjara Tangerang dianggap sebagai saksi sejarah penumpasan G30S. Mereka yang dituduh PKI atau terlibat G30S mendekam di sana setelah 1965.[7]
Semua personel D'lloyd telah wafat. Terakhir, Bartje meninggal dunia menyusul rekan-rekannya yang lain pada tanggal 5 Mei 2017.[8]
Kepergian Sang Leader, Bartje van Houten membuat band D'Lloyd kini tinggal kenangan. Namun demikian, D'Lloyd tetap abadi di kancah musik Tanah Air.
Lagu-lagu D'lloyd masih sering diputar hingga sekarang. "Mengapa Harus Jumpa" dinyanyikan ulang oleh Andmesh, lagu "Tak Mungkin" dirilis ulang oleh Marshanda pada tahun 2017, untuk dijadikan OST sinetron "Tikus dan Kucing" yang ditayangkan di SCTV.
|
Anggota Terakhir
|
Anggota Sebelumnya
|
