Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Cokelat

Cokelat adalah produk pangan yang terbuat dari biji kakao yang dipanggang dan dihaluskan, yang dapat berbentuk cair, padat, atau pasta, baik dikonsumsi sendiri maupun digunakan sebagai pemberi rasa pada makanan lain. Biji kakao adalah biji dari pohon kakao yang telah diproses. Biji tersebut biasanya melalui proses fermentasi untuk mengembangkan rasanya, kemudian dikeringkan, dibersihkan, dan dipanggang. Kulit bijinya dipisahkan untuk mendapatkan inti biji (nibs), yang kemudian digiling menjadi massa cokelat. Massa cokelat ini dapat diproses lebih lanjut untuk memisahkan dua komponen utamanya, yaitu padatan kakao dan lemak kakao, atau dicetak dan dijual sebagai cokelat masak tanpa pemanis. Dengan menambahkan gula, dihasilkan cokelat manis yang dapat dijual sebagai cokelat hitam, atau dengan tambahan susu, dapat diolah menjadi cokelat susu. Pembuatan cokelat dengan lemak kakao tanpa padatan kakao menghasilkan cokelat putih.

makanan yang dihasilkan dari biji Theobroma cacao
Diperbarui 14 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Cokelat
Cokelat batangan dalam varian hitam, putih, dan susu (atas ke bawah).

Cokelat adalah produk pangan yang terbuat dari biji kakao yang dipanggang dan dihaluskan, yang dapat berbentuk cair, padat, atau pasta, baik dikonsumsi sendiri maupun digunakan sebagai pemberi rasa pada makanan lain. Biji kakao adalah biji dari pohon kakao (Theobroma cacao) yang telah diproses. Biji tersebut biasanya melalui proses fermentasi untuk mengembangkan rasanya, kemudian dikeringkan, dibersihkan, dan dipanggang. Kulit bijinya dipisahkan untuk mendapatkan inti biji (nibs), yang kemudian digiling menjadi massa cokelat (bentuk kasar dari cokelat murni). Massa cokelat ini dapat diproses lebih lanjut untuk memisahkan dua komponen utamanya, yaitu padatan kakao dan lemak kakao, atau dicetak dan dijual sebagai cokelat masak tanpa pemanis. Dengan menambahkan gula, dihasilkan cokelat manis yang dapat dijual sebagai cokelat hitam, atau dengan tambahan susu, dapat diolah menjadi cokelat susu. Pembuatan cokelat dengan lemak kakao tanpa padatan kakao menghasilkan cokelat putih.

Cokelat merupakan salah satu jenis makanan dan rasa paling populer di dunia. Terdapat berbagai produk pangan yang menggunakan cokelat, terutama hidangan penutup, termasuk es krim, kue cokelat, mousse, dan kue kering keping cokelat. Banyak permen yang diisi atau dilapisi dengan cokelat manis. Cokelat batangan, baik yang terbuat dari cokelat padat maupun bahan lain yang dilapisi cokelat, dikonsumsi sebagai camilan. Pemberian hadiah cokelat yang dicetak dalam berbagai bentuk (seperti telur, hati, dan koin) merupakan tradisi pada hari raya tertentu, termasuk Natal, Paskah, Hari Valentine, Hanukkah, dan Idulfitri. Cokelat juga digunakan dalam minuman dingin dan panas, seperti susu cokelat, cokelat panas, dan likuor cokelat.

Pohon kakao pertama kali digunakan sebagai sumber pangan di wilayah yang sekarang menjadi Ekuador setidaknya 5.300 tahun yang lalu. Peradaban Mesoamerika mengonsumsi minuman kakao secara luas, dan pada abad ke-16, salah satu minuman ini, cokelat, diperkenalkan ke Eropa. Hingga abad ke-19, cokelat merupakan minuman yang dikonsumsi oleh kalangan elite masyarakat. Setelah itu, perubahan teknologi dan produksi kakao menyebabkan cokelat menjadi makanan padat yang dikonsumsi secara massal. Pada abad ke-21, biji kakao untuk sebagian besar cokelat diproduksi di negara-negara Afrika Barat, terutama Pantai Gading dan Ghana, yang menyumbang sekitar 60% dari pasokan kakao dunia. Keberadaan pekerja anak, terutama perbudakan anak dan perdagangan manusia dalam produksi biji kakao di negara-negara tersebut, telah mendapat perhatian media yang signifikan.

Etimologi

Glif Maya untuk kakao

Chocolate adalah kata serapan dari bahasa Spanyol, yang pertama kali tercatat dalam bahasa Inggris pada tahun 1604,[1][a] dan dalam bahasa Spanyol pada tahun 1579.[2] Asal-usul kata ini lebih jauh dari itu masih diperdebatkan.[3] Meskipun ada kepercayaan populer bahwa chocolate berasal dari kata Nahuatl chocolatlcode: nci is deprecated , teks-teks awal yang mendokumentasikan kata Nahuatl untuk minuman cokelat menggunakan istilah yang berbeda, yaitu cacahuatlcode: nci is deprecated , yang berarti "air kakao". Oleh karena itu, beberapa alternatif telah diusulkan.[4]

Dalam satu teori, cokelat berasal dari kata hipotetis Nahuatl xocoatlcode: nci is deprecated , yang berarti "minuman pahit". Pakar Michael dan Sophie Coe menganggap hal ini tidak mungkin, dengan menyatakan bahwa tidak ada alasan jelas mengapa bunyi 'sh' yang dilambangkan dengan 'x' akan berubah menjadi 'ch', atau mengapa huruf 'l' ditambahkan.[4] Teori lain menunjukkan bahwa chocolate berasal dari chocolatl, yang berarti 'air panas' dalam salah satu bahasa Maya. Namun, tidak ada bukti bentuk 'chocol' digunakan untuk mengartikan panas.[4]

Meskipun ada ketidakpastian mengenai asal-usulnya dari Nahuatl, terdapat kesepakatan bahwa cokelat kemungkinan besar berasal dari kata Nawat chikola:tl.[5] Apakah chikola:tl berarti 'pengocok kakao', yang merujuk pada proses mengocok kakao untuk menghasilkan busa, masih diperdebatkan karena arti dari chico tidak diketahui.[6] Menurut antropolog Kathryn Sampeck, cokelat awalnya merujuk pada salah satu jenis minuman kakao di antara banyak jenis lainnya, yang mengandung kesumba keling dan dibuat di wilayah yang sekarang menjadi Guatemala. Menurut Sampeck, istilah ini menjadi kata umum untuk minuman kakao sekitar tahun ca 1580, ketika suku Izalcos dari daerah tersebut menjadi produsen kakao yang paling terkemuka.[7]

Sejarah

Artikel utama: Sejarah cokelat
Suku Meksika. Pria Membawa Buah Kakao, 1440–1521

Bukti domestikasi pohon kakao ditemukan sejak 5300 BP di Amerika Selatan, tepatnya di wilayah tenggara Ekuador saat ini oleh budaya Mayo-Chinchipe, sebelum akhirnya diperkenalkan ke Mesoamerika.[8] Tidak diketahui secara pasti kapan cokelat pertama kali dikonsumsi jika dibandingkan dengan minuman berbahan dasar kakao lainnya, namun terdapat bukti bahwa suku Olmek, peradaban besar Mesoamerika tertua yang diketahui, memfermentasi bubur manis yang menyelimuti biji kakao menjadi minuman beralkohol.[9][10]

Cokelat memiliki peran yang sangat penting bagi beberapa masyarakat Mesoamerika,[11] dan kakao dianggap sebagai hadiah dari para dewa oleh suku Maya dan suku Aztek.[12][13] Biji kakao digunakan sebagai mata uang di berbagai peradaban dan digunakan dalam upacara keagamaan, sebagai upeti bagi para pemimpin dan dewa, serta sebagai obat.[14][15][16][17][18][19] Cokelat di Mesoamerika merupakan minuman pahit yang diberi perasa tambahan seperti vanila, bunga telinga, dan cabai, serta memiliki lapisan busa cokelat tua yang dihasilkan dengan menuangkan cairan tersebut dari ketinggian di antara dua wadah.[20][21][22]

Konkuistador Spanyol Hernán Cortés mungkin merupakan orang Eropa pertama yang menjumpai cokelat ketika ia melihatnya di istana Moctezuma II pada tahun 1520.[23][24] Rasa cokelat ternyata memerlukan pembiasaan bagi lidah mereka,[25][26] dan baru pada tahun 1585 terdapat catatan resmi pertama mengenai pengiriman biji kakao ke Eropa.[27] Cokelat diyakini sebagai afrodisiak dan obat, lalu menyebar ke seluruh Eropa pada abad ke-17 dalam bentuk minuman manis yang disajikan hangat dan diberi rempah-rempah yang sudah dikenal.[28][29][30] Ordo-ordo keagamaan memainkan peran penting dalam penyebarannya.[31]

Pada awalnya, cokelat terutama dikonsumsi oleh kalangan elite, dengan pasokan kakao mahal yang berasal dari perkebunan kolonial di Amerika.[28] Pada abad ke-18, cokelat dianggap sebagai produk Eropa Selatan, bersifat aristokratis, dan identik dengan Gereja Katolik, serta masih diproduksi dengan cara yang serupa dengan cara suku Aztek.[32]

Salah satu cokelat batangan pertama yang diproduksi secara massal, Fry's Chocolate Cream, diproduksi oleh Fry's pada tahun 1866.[33][34]

Mulai abad ke-18, produksi cokelat terus ditingkatkan. Pada abad ke-19, dikembangkan teknik penggilingan bertenaga mesin.[35][36] Pada tahun 1828, Coenraad Johannes van Houten menerima paten untuk proses pembuatan kakao Belanda. Proses ini memisahkan lemak kakao dari massa cokelat (hasil penggilingan), dan memungkinkan produksi cokelat dalam skala besar.[37] Perkembangan lain pada abad ke-19, termasuk penggunaan melanger (mesin pencampur), cokelat susu modern, serta proses koncing untuk membuat tekstur cokelat lebih halus dan mengubah rasanya, membuat seorang pekerja pada tahun 1890 dapat memproduksi cokelat lima puluh kali lebih banyak dengan tenaga yang sama dibandingkan sebelum masa Revolusi Industri, sehingga cokelat beralih menjadi makanan padat alih-alih sekadar minuman.[38] Seiring dengan berpindahnya pusat produksi dari Amerika ke Asia dan Afrika, pasar massal cokelat di negara-negara Barat pun mulai terbuka.[39]

Pada awal abad ke-20, produsen cokelat Inggris termasuk Cadbury dan Fry's menghadapi kontroversi terkait kondisi kerja di industri kakao Portugis di Afrika. Sebuah laporan tahun 1908 oleh agen Cadbury menggambarkan kondisi tersebut sebagai "perbudakan de facto."[40] Meskipun kondisi tersebut sedikit membaik setelah adanya boikot oleh para pembuat cokelat,[36][41] praktik kerja paksa di antara petani kakao Afrika kembali mendapat perhatian publik pada awal abad ke-21.[42] Pada abad ke-20, produksi cokelat semakin berkembang dengan ditemukannya teknik temperisasi untuk meningkatkan kerenyahan dan kilau cokelat, serta penambahan lesitin untuk memperbaiki tekstur dan konsistensi.[43][44] Cokelat putih dan kuvertur mulai dikembangkan pada abad ke-20, dan model perdagangan bean-to-bar pun dimulai.[45][46][47]

Jenis-jenis

Artikel utama: Jenis-jenis cokelat
Lempengan yang terbuat dari berbagai varietas cokelat

Beberapa jenis cokelat dapat dibedakan berdasarkan kandungannya. Cokelat murni tanpa pemanis, yang sering disebut "cokelat masak", terutama mengandung padatan kakao dan lemak kakao dalam proporsi yang bervariasi. Sebagian besar cokelat yang dikonsumsi saat ini adalah cokelat manis, yang mencampurkan cokelat dengan gula.

Cokelat konsumsi

Jenis cokelat tradisional meliputi cokelat hitam, susu, dan putih. Semuanya mengandung lemak kakao, yaitu bahan yang menentukan sifat fisik cokelat (konsistensi dan suhu leleh). Cokelat polos (atau hitam), seperti namanya, adalah bentuk cokelat yang mirip dengan massa cokelat murni, meskipun biasanya dibuat dengan proporsi lemak kakao yang sedikit lebih tinggi.[48] Jenis ini secara sederhana ditentukan oleh persentase kakaonya. Dalam cokelat susu, padatan kakao non-lemak sebagian atau seluruhnya diganti dengan padatan susu.[49] Dalam cokelat putih, seluruh padatan kakao diganti dengan padatan susu, sehingga menghasilkan warna gading.[50]

Terdapat pula bentuk cokelat konsumsi lainnya, termasuk cokelat mentah (dibuat dari biji yang tidak dipanggang) dan cokelat rubi. Bentuk cokelat konsumsi populer lainnya, gianduja, dibuat dengan mencampurkan pasta kacang (biasanya hazelnut) ke dalam pasta cokelat.[51]

Jenis lainnya

Jenis cokelat lainnya digunakan dalam pembuatan kue dan kembang gula. Ini termasuk cokelat masak (sering kali tanpa pemanis), cokelat kuvertur (digunakan sebagai pelapis), cokelat kompon (alternatif dengan harga lebih terjangkau), dan cokelat modeling. Cokelat modeling adalah pasta cokelat yang dibuat dengan melelehkan cokelat dan mencampurnya dengan sirup jagung, sirup glukosa, atau sirup emas.[52]

Sejarah

Artikel utama: Sejarah cokelat
Suku Meksika. Pria Membawa Buah Kakao, 1440–1521

Bukti domestikasi pohon kakao ditemukan sejak 5300 BP di Amerika Selatan, tepatnya di wilayah tenggara Ekuador saat ini oleh budaya Mayo-Chinchipe, sebelum akhirnya diperkenalkan ke Mesoamerika.[53] Tidak diketahui secara pasti kapan cokelat pertama kali dikonsumsi jika dibandingkan dengan minuman berbahan dasar kakao lainnya, namun terdapat bukti bahwa suku Olmek, peradaban besar Mesoamerika tertua yang diketahui, memfermentasi bubur manis yang menyelimuti biji kakao menjadi minuman beralkohol.[9][10]

Cokelat memiliki peran yang sangat penting bagi beberapa masyarakat Mesoamerika,[11] dan kakao dianggap sebagai hadiah dari para dewa oleh suku Maya dan suku Aztek.[12][13] Biji kakao digunakan sebagai mata uang di berbagai peradaban dan digunakan dalam upacara keagamaan, sebagai upeti bagi para pemimpin dan dewa, serta sebagai obat.[14][15][16][17][18][19] Cokelat di Mesoamerika merupakan minuman pahit yang diberi perasa tambahan seperti vanila, bunga telinga, dan cabai, serta memiliki lapisan busa cokelat tua yang dihasilkan dengan menuangkan cairan tersebut dari ketinggian di antara dua wadah.[20][21][22]

Konkuistador Spanyol Hernán Cortés mungkin merupakan orang Eropa pertama yang menjumpai cokelat ketika ia melihatnya di istana Moctezuma II pada tahun 1520.[54][24] Rasa cokelat ternyata memerlukan pembiasaan bagi lidah mereka,[25][26] dan baru pada tahun 1585 terdapat catatan resmi pertama mengenai pengiriman biji kakao ke Eropa.[27] Cokelat diyakini sebagai afrodisiak dan obat, lalu menyebar ke seluruh Eropa pada abad ke-17 dalam bentuk minuman manis yang disajikan hangat dan diberi rempah-rempah yang sudah dikenal.[28][29][30] Ordo-ordo keagamaan memainkan peran penting dalam penyebarannya.[55]

Pada awalnya, cokelat terutama dikonsumsi oleh kalangan elite, dengan pasokan kakao mahal yang berasal dari perkebunan kolonial di Amerika.[28] Pada abad ke-18, cokelat dianggap sebagai produk Eropa Selatan, bersifat aristokratis, dan identik dengan Gereja Katolik, serta masih diproduksi dengan cara yang serupa dengan cara suku Aztek.[32]

Salah satu cokelat batangan pertama yang diproduksi secara massal, Fry's Chocolate Cream, diproduksi oleh Fry's pada tahun 1866.[33][56]

Mulai abad ke-18, produksi cokelat terus ditingkatkan. Pada abad ke-19, dikembangkan teknik penggilingan bertenaga mesin.[35][36] Pada tahun 1828, Coenraad Johannes van Houten menerima paten untuk proses pembuatan kakao Belanda. Proses ini memisahkan lemak kakao dari massa cokelat (hasil penggilingan), dan memungkinkan produksi cokelat dalam skala besar.[37] Perkembangan lain pada abad ke-19, termasuk penggunaan melanger (mesin pencampur), cokelat susu modern, serta proses pemurnian tekstur (conching) untuk membuat tekstur cokelat lebih halus dan mengubah rasanya, membuat seorang pekerja pada tahun 1890 dapat memproduksi cokelat lima puluh kali lebih banyak dengan tenaga yang sama dibandingkan sebelum masa Revolusi Industri, sehingga cokelat beralih menjadi makanan padat alih-alih sekadar minuman.[38] Seiring dengan berpindahnya pusat produksi dari Amerika ke Asia dan Afrika, pasar massal cokelat di negara-negara Barat pun mulai terbuka.[39]

Pada awal abad ke-20, produsen cokelat Inggris termasuk Cadbury dan Fry's menghadapi kontroversi terkait kondisi kerja di industri kakao Portugis di Afrika. Sebuah laporan tahun 1908 oleh agen Cadbury menggambarkan kondisi tersebut sebagai "perbudakan de facto."[40] Meskipun kondisi tersebut sedikit membaik setelah adanya boikot oleh para pembuat cokelat,[36][41] praktik kerja paksa di antara petani kakao Afrika kembali mendapat perhatian publik pada awal abad ke-21.[42] Pada abad ke-20, produksi cokelat semakin berkembang dengan ditemukannya teknik pengaturan suhu (tempering) untuk meningkatkan kerenyahan dan kilau cokelat, serta penambahan lesitin untuk memperbaiki tekstur dan konsistensi.[43][44] Cokelat putih dan kuvertur mulai dikembangkan pada abad ke-20, dan model perdagangan bean-to-bar pun dimulai.[45][46][47]

Pengolahan

Polong kakao dipanen dengan cara memotongnya dari pohon menggunakan parang, atau dengan menjatuhkannya dari pohon menggunakan galah. Polong dipanen saat sudah masak, karena biji pada polong yang belum masak memiliki kandungan lemak kakao yang rendah, atau kandungan gula yang rendah, yang memengaruhi rasa akhirnya.

Biji kakao

Biji kakao yang sedang difermentasi

Biji-biji tersebut, yang bersifat steril di dalam polongnya, beserta pulp di sekelilingnya dikeluarkan dari polong dan diletakkan dalam tumpukan atau wadah untuk difermentasi. Mikroorganisme yang ada secara alami di lingkungan memfermentasi biji tersebut. Khamir menghasilkan etanol, bakteri asam laktat menghasilkan asam laktat, dan bakteri asam asetat menghasilkan asam asetat. Proses fermentasi, yang memakan waktu hingga tujuh hari, menghasilkan beberapa prekursor rasa yang pada akhirnya memberikan cita rasa cokelat.[57]

Setelah fermentasi, biji dikeringkan untuk mencegah pertumbuhan jamur. Jika cuaca memungkinkan, hal ini dilakukan dengan menyebarkan biji di bawah sinar matahari selama lima hingga tujuh hari.[58]

Biji yang sudah kering kemudian diangkut ke fasilitas pembuatan cokelat. Biji dibersihkan (membuang ranting, batu, dan kotoran lainnya), dipanggang, dan disortir. Selanjutnya, kulit dari setiap biji dipisahkan untuk mengambil inti bijinya (nib).[59]

Dari inti biji menjadi cokelat

Penggiling cokelat (kanan) menggiling dan memanaskan inti kakao menjadi massa cokelat. Sebuah melanger (kiri) mencampurkan susu, gula, dan bahan lainnya ke dalam massa tersebut.

Selanjutnya, inti biji tersebut digiling untuk menghasilkan massa cokelat.[59] Massa tersebut dapat diproses lebih lanjut menjadi padatan kakao dan lemak kakao.[60]

Mesin pemurnian memanjang

Proses kedua terakhir disebut pemurnian (conching). Alat pemurnian adalah wadah yang diisi dengan manik-manik logam yang berfungsi sebagai penggiling. Massa cokelat yang telah dimurnikan dan dicampur dijaga dalam keadaan cair oleh panas gesekan. Sebelum dimurnikan, cokelat memiliki tekstur yang tidak rata dan berpasir. Proses pemurnian menghasilkan partikel kakao dan gula yang lebih kecil daripada yang dapat dideteksi oleh lidah (biasanya sekitar 20 μm) dan mengurangi tepian yang kasar, sehingga menghasilkan rasa halus di mulut. Durasi proses pemurnian menentukan kehalusan dan kualitas akhir cokelat. Setelah proses selesai, massa cokelat disimpan dalam tangki yang dipanaskan hingga sekitar 45–50 °C (113–122 °F) sampai proses akhir.[61]

Setelah dimurnikan, cokelat diatur suhunya (tempering) untuk mengkristalkan sejumlah kecil lemak kakao. Lemak kakao adalah lemak polimorfik dengan enam bentuk kristal yang berbeda, tetapi hanya satu di antaranya—Bentuk V—yang memberikan cokelat kerenyahan (snap), kilau, dan tekstur stabil yang khas. Pengaturan suhu ini menghilangkan bentuk kristal yang tidak diinginkan dan mendorong pembentukan Bentuk V.[62][63][64]

Setelah cokelat selesai diatur suhunya, cokelat dicetak ke dalam berbagai bentuk, termasuk cokelat batangan dan keping cokelat.[65]

Penyimpanan

Cokelat sangat sensitif terhadap suhu dan kelembapan. Suhu penyimpanan yang ideal berkisar antara 15 dan 17 °C (59 dan 63 °F), dengan kelembapan relatif kurang dari 50%. Jika disimpan di lemari es atau dibekukan tanpa wadah kedap udara, cokelat dapat menyerap kelembapan yang cukup untuk menyebabkan perubahan warna keputihan, yang merupakan hasil dari kristal lemak atau gula yang naik ke permukaan. Berbagai jenis efek "bercak putih" (bloom) dapat terjadi jika cokelat disimpan atau disajikan dengan cara yang tidak tepat.[66]

Bercak lemak disebabkan oleh suhu penyimpanan yang berfluktuasi atau melebihi 24 °C (75 °F), sedangkan bercak gula disebabkan oleh suhu di bawah 15 °C (59 °F) atau kelembapan berlebih. Bercak lemak dapat dibedakan melalui sentuhan; bercak tersebut akan hilang jika permukaan cokelat yang terdampak diusap dengan lembut. Meskipun secara visual kurang menarik, cokelat yang mengalami bercak putih tetap aman untuk dikonsumsi dan rasanya tidak terpengaruh.[67][68][69] Efek bercak ini dapat dihilangkan dengan cara mengatur ulang suhu cokelat atau menggunakannya untuk keperluan lain yang memerlukan pelelehan cokelat.[70]

Cokelat umumnya disimpan jauh dari makanan lain karena dapat menyerap aroma di sekitarnya. Untuk menghindari hal ini, cokelat dikemas atau dibungkus, kemudian disimpan di tempat gelap dengan kondisi kelembapan dan suhu yang ideal.[71]

Efek kesehatan

Artikel ini membutuhkan lebih banyak referensi medis untuk pemastian atau hanya bergantung pada sumber primer, khususnya: Penelitian usang, misalnya bagian pembuka mengutip penelitian tahun 2005. Silakan tinjau isi artikel ini dan tambahkan referensi yang sesuai jika Anda dapat. Materi tanpa sumber atau sumber yang buruk dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu.
Cari sumber: "Cokelat" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(September 2024)
Permen, cokelat susu
Nilai nutrisi per 100 g (3,5 oz)
Energi2.240 kJ (540 kcal)
Karbohidrat
59.4
Gula51.5 g
Serat pangan3.4 g
Lemak
29.7
Protein
7.6 g
VitaminKuantitas
%AKG†
Vitamin A195 SI
Tiamina (B1)
9%
0.1 mg
Riboflavin (B2)
25%
0.3 mg
Niasin (B3)
3%
0.4 mg
Asam pantotenat (B5)
10%
0.5 mg
Vitamin B6
0%
0.0 mg
Folat (B9)
3%
11 μg
Vitamin B12
29%
0.7 μg
Kolina
9%
46.1 mg
Vitamin C
0%
0 mg
Vitamin E
3%
0.5 mg
Vitamin K
5%
5.7 μg
MineralKuantitas
%AKG†
Kalsium
19%
189 mg
Zat besi
18%
2.4 mg
Magnesium
18%
63 mg
Mangan
24%
0.5 mg
Fosfor
30%
208 mg
Potasium
8%
372 mg
Selenium
6%
4.5 μg
Sodium
5%
79 mg
Seng
24%
2.3 mg
Komponen lainnyaKuantitas
Air1.5 g
Kafeina20 mg
Kolesterol23 mg
Teobromina205 mg

Tautan ke entri Basis Data USDA
  • Satuan
  • μg = mikrogram • mg = miligram
  • SI = Satuan internasional
†Persen AKG berdasarkan rekomendasi Amerika Serikat untuk orang dewasa.
Sumber: USDA FoodData Central

Nutrisi

Seratus gram cokelat susu mengandung 540 kalori. Kandungannya terdiri dari 59% karbohidrat (52% sebagai gula dan 3% sebagai serat pangan), 30% lemak, dan 8% protein (lihat tabel). Sekitar 65% lemak dalam cokelat susu adalah lemak jenuh, terutama asam palmitat dan asam stearat, sementara lemak tak jenuh yang dominan adalah asam oleat (lihat tabel).

Seratus gram cokelat susu merupakan "sumber yang sangat baik" (lebih dari 19% dari Nilai Harian, DV) untuk riboflavin, vitamin B12, serta mineral makanan seperti mangan, fosfor, dan seng. Cokelat juga merupakan "sumber yang baik" (10–19% DV) untuk kalsium, magnesium, dan zat besi.

Fitokimia

Lihat pula: Polifenol § Penelitian

Cokelat mengandung polifenol, terutama flavan-3-ol (katekin) dan sejumlah kecil flavonoid lainnya.[72][73] Cokelat juga mengandung alkaloid, seperti teobromina, fenetilamina, dan kafeina,[74] yang sedang dipelajari potensi efeknya di dalam tubuh.[75]

Logam berat

Sebuah cokelat batangan di dalam mangkuk berisi cokelat leleh

Konsumsi cokelat dalam jumlah kecil kecil kemungkinannya menyebabkan keracunan timbal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa timbal dapat mengikat kulit kakao, dan kontaminasi mungkin terjadi selama proses pembuatan.[76] Salah satu studi menunjukkan tingkat timbal rata-rata dalam permen cokelat susu batangan adalah 0,027 μg timbal per gram permen.[76] Studi lain menemukan bahwa beberapa cokelat yang dibeli di supermarket Amerika Serikat mengandung hingga 0,965 μg per gram, mendekati batas standar internasional (sukarela) untuk timbal dalam bubuk atau biji kakao, yaitu 1 μg timbal per gram.[77]

Pada tahun 2006, FDA Amerika Serikat menurunkan batas jumlah timbal yang diizinkan dalam permen sebanyak seperlima, namun kepatuhannya hanya bersifat sukarela.[78] Berbagai studi menyimpulkan bahwa "anak-anak, yang merupakan konsumen besar cokelat, mungkin berisiko melampaui batas harian timbal, [karena] satu kubus cokelat hitam seberat 10 g mungkin mengandung sebanyak 20% dari batas asupan timbal harian. Selain itu, cokelat mungkin bukan satu-satunya sumber timbal dalam nutrisi mereka"[79] dan "cokelat mungkin menjadi sumber asupan kadmium dan timbal yang signifikan, terutama bagi anak-anak."[80]

Menurut sebuah studi tahun 2005, konsentrasi rata-rata timbal pada biji kakao adalah ≤ 0,5 ng/g, yang merupakan salah satu nilai terendah yang dilaporkan untuk makanan alami.[76] Namun, selama budidaya dan produksi, cokelat dapat menyerap timbal dari lingkungan (seperti emisi atmosfer dari bensin bertimbal yang sekarang sudah tidak digunakan).[76][81]

Otoritas Keamanan Pangan Eropa merekomendasikan asupan mingguan kadmium yang dapat ditoleransi sebesar 2,5 mikrogram per kg berat badan bagi orang Eropa, yang menunjukkan bahwa konsumsi produk cokelat menyumbang paparan sekitar 4% dari seluruh makanan yang dikonsumsi.[82][83] Kadar maksimum untuk makanan bayi dan produk cokelat/kakao ditetapkan berdasarkan Peraturan Komisi (UE) No 488/2014.[84] Proposisi 65 California 1986 mewajibkan label peringatan pada produk cokelat yang memiliki lebih dari 4,1 mg kadmium per porsi harian dari satu produk.[85][86][87]

Kafeina

Satu sendok makan (5 gram) bubuk kakao kering tanpa pemanis mengandung 12,1 mg kafeina,[88] dan satu porsi porsi tunggal cokelat hitam seberat 25 g mengandung 22,4 mg kafeina.[89] Jumlah ini jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah yang ditemukan dalam kopi, yang dalam satu porsi 7 oz. (200 ml) dapat mengandung 80–175 mg kafeina,[90] meskipun penelitian telah menunjukkan adanya efek psikoaktif pada dosis kafeina serendah 9 mg, dan dosis serendah 12,5 mg terbukti memiliki efek pada kinerja kognitif.[91]

Teobromina dan oksalat

Cokelat dapat menjadi faktor penyebab nyeri ulu hati pada beberapa orang karena salah satu konstituennya, teobromina, dapat memengaruhi otot sfingter esofagus sedemikian rupa sehingga memungkinkan asam lambung masuk ke dalam esofagus.[92] Keracunan teobromina adalah reaksi overdosis terhadap alkaloid pahit tersebut, yang lebih sering terjadi pada hewan peliharaan daripada manusia. Namun, asupan harian 50–100 g kakao (0,8–1,5 g teobromina) oleh manusia telah dikaitkan dengan keringat berlebih, gemetar, dan sakit kepala parah.[93]

Cokelat dan kakao mengandung jumlah oksalat yang moderat hingga tinggi,[94][95] yang dapat meningkatkan risiko batu ginjal.[96]

Hewan non-manusia

Artikel utama: Keracunan teobromina

Dalam jumlah yang cukup, teobromina yang ditemukan dalam cokelat bersifat beracun bagi hewan seperti kucing, anjing, kuda, burung beo, dan hewan pengerat kecil karena mereka tidak mampu memetabolisme senyawa kimia tersebut secara efektif.[97] Jika hewan diberi makan cokelat, teobromina dapat bertahan dalam sirkulasi darah hingga 20 jam, yang berpotensi menyebabkan kejang epilepsi, serangan jantung, pendarahan internal, dan akhirnya kematian. Perawatan medis yang dilakukan oleh dokter hewan melibatkan induksi muntah dalam waktu dua jam setelah tertelan dan pemberian benzodiazepin atau barbiturat untuk kejang, antiaritmia untuk aritmia jantung, serta diuresis cairan.

Anjing dengan berat khas 20-kilogram (44 pon) biasanya akan mengalami gangguan usus yang parah setelah memakan kurang dari 240 gram (8,5 oz) cokelat hitam, tetapi tidak selalu mengalami bradikardia atau takikardia kecuali jika ia memakan setidaknya setengah kilogram (1,1 lb) cokelat susu. Cokelat hitam memiliki teobromina 2 hingga 5 kali lebih banyak sehingga lebih berbahaya bagi anjing. Menurut Manual Veteriner Merck, sekitar 1,3 gram cokelat masak per kilogram berat badan anjing (0,02 oz/lb) sudah cukup untuk menyebabkan gejala toksisitas. Sebagai contoh, satu batang cokelat masak khas seberat 25-gram (0,88 oz) sudah cukup untuk menimbulkan gejala pada anjing seberat 20-kilogram (44 pon). Pada abad ke-20, terdapat laporan bahwa mulsa yang terbuat dari kulit biji kakao berbahaya bagi anjing dan hewan ternak.[98][99]

Penelitian

Cokelat yang umum dikonsumsi mengandung kadar lemak dan gula yang tinggi, yang dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas apabila cokelat dikonsumsi secara berlebihan.[100]

Bukti secara keseluruhan tidak memadai untuk menentukan hubungan antara konsumsi cokelat dan munculnya jerawat.[101][102] Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penyebab potensial jerawat bukanlah cokelat, melainkan sifat glikemik tinggi dari makanan tertentu, seperti gula, sirup jagung, dan karbohidrat sederhana lainnya,[101][102][103][104] serta faktor makanan lain yang mungkin berpengaruh.[101][105]

Makanan, termasuk cokelat, biasanya tidak dipandang sebagai sesuatu yang menyebabkan kecanduan.[106] Namun, beberapa orang mungkin sangat menginginkan atau mengidamkan cokelat,[106] sehingga muncul istilah yang diciptakan sendiri, yakni chocoholic (pecandu cokelat).[106][107]

Menurut beberapa mitos populer, cokelat dianggap sebagai peningkat suasana hati, seperti meningkatkan gairah seksual atau menstimulasi kognisi, tetapi hanya ada sedikit bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa efek tersebut konsisten di antara semua konsumen cokelat.[108][109] Jika terjadi perbaikan suasana hati setelah memakan cokelat, belum ada cukup penelitian untuk menunjukkan apakah hal itu berasal dari rasa yang enak atau dari efek stimulan dari konstituennya, seperti kafeina, teobromina, atau molekul induknya, metilxantina.[109] Sebuah ulasan tahun 2019 melaporkan bahwa konsumsi cokelat tidak memperbaiki suasana hati depresi.[110]

Beberapa ulasan mendukung efek jangka pendek penurunan tekanan darah dengan mengonsumsi produk kakao, tetapi terdapat bukti terbatas mengenai manfaat kesehatan kardiovaskular jangka panjang.[111][112] Cokelat dan kakao sedang dalam penelitian awal untuk menentukan apakah konsumsinya memengaruhi risiko penyakit kardiovaskular tertentu.[113] Konsumsi harian flavanol kakao (dosis minimum 200 mg) tampaknya bermanfaat bagi fungsi trombosit dan pembuluh darah.[114][115][116]

Pelabelan

Sejumlah produsen menyertakan persentase cokelat pada produk konfeksi cokelat jadi dengan label yang mencantumkan persentase "kakao" atau "cokelat". Hal ini mengacu pada gabungan persentase padatan kakao dan lemak kakao dalam batangan tersebut, bukan sekadar persentase padatan kakao saja.[117] Tanda sertifikasi AMBAO Belgia menunjukkan bahwa tidak ada lemak nabati non-kakao yang digunakan dalam pembuatan cokelat tersebut.[118][119] Perselisihan berkepanjangan antara Britania Raya di satu sisi dengan Belgia dan Prancis mengenai penggunaan lemak nabati dalam cokelat oleh Britania berakhir pada tahun 2000 dengan diadopsinya standar baru yang mengizinkan penggunaan lemak nabati hingga lima persen pada produk yang diberi label dengan jelas.[120]

Cokelat yang bersifat organik[121] atau memiliki sertifikasi perdagangan adil[122] membawa label yang sesuai.

Definisi hukum

Di Amerika Serikat, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) tidak mengizinkan suatu produk disebut sebagai "cokelat" jika produk tersebut mengandung salah satu dari bahan-bahan berikut.[123][124]

Di Uni Eropa, suatu produk dapat dijual sebagai cokelat jika mengandung hingga 5% minyak nabati, dan harus diberi label sebagai "cokelat susu keluarga" alih-alih "cokelat susu" jika mengandung 20% susu.[125]

Berdasarkan Peraturan Makanan dan Obat-obatan Kanada, sebuah "produk cokelat" adalah produk pangan yang bersumber dari setidaknya satu "produk kakao" dan mengandung setidaknya salah satu dari berikut ini: "cokelat, cokelat pahit manis (bittersweet), cokelat semi-manis, cokelat hitam, cokelat manis, cokelat susu, atau cokelat putih". "Produk kakao" didefinisikan sebagai produk pangan yang bersumber dari biji kakao dan mengandung "inti biji kakao (nibs), likuor kakao, massa kakao, cokelat tanpa pemanis, cokelat pahit, likuor cokelat, kakao, kakao rendah lemak, bubuk kakao, atau bubuk kakao rendah lemak".[126]

Industri

Artikel utama: Industri cokelat
Cokelat kemasan di Ghirardelli Chocolate Company

Cokelat merupakan bisnis bernilai US$50 miliar per tahun di seluruh dunia yang terus berkembang pesat hingga tahun 2009.[127] Hingga tahun 2006, Eropa menyumbang 45% dari pendapatan cokelat dunia,[128] dan Amerika Serikat menghabiskan $20 miliar pada tahun 2013.[129] Big Chocolate adalah pengelompokan perusahaan cokelat internasional utama di Eropa dan Amerika Serikat. Pada tahun 2004, Mars dan Hershey's saja menyumbang dua pertiga dari produksi Amerika Serikat.[130]

Pada awal abad ke-21, sekitar dua pertiga kakao dunia diproduksi di Afrika Barat, dengan 43% bersumber dari Pantai Gading, yang umum menggunakan pekerja anak.[131] Pada tahun tersebut, sekitar 50 juta orang di seluruh dunia bergantung pada kakao sebagai sumber penghidupan.[132] Hingga 2007[update] di Britania Raya, sebagian besar pembuat cokelat membeli cokelat dari mereka untuk dilelehkan, dicetak, dan dikemas sesuai desain mereka sendiri.[133]

Dua profesi utama yang terkait dengan pembuatan permen cokelat adalah pembuat cokelat (chocolate makers) dan pengrajin cokelat (chocolatiers). Pembuat cokelat menggunakan biji kakao yang dipanen dan bahan-bahan lain untuk menghasilkan cokelat kuvertur (pelapis). Pengrajin cokelat menggunakan kuvertur jadi untuk membuat permen cokelat (batangan dan truffle cokelat).

Biaya produksi dapat dikurangi dengan menurunkan kandungan padatan kakao atau dengan mengganti lemak kakao dengan lemak lain. Para petani kakao menolak penggunaan nama "cokelat" untuk produk yang dihasilkan tersebut, karena adanya risiko penurunan permintaan terhadap hasil panen mereka.[132]

Produsen

Lihat pula: Daftar produsen cokelat biji-ke-batangan
Cokelat dengan berbagai isian

Produsen cokelat menghasilkan berbagai macam produk, mulai dari cokelat batangan hingga fudge. Produsen besar produk cokelat meliputi Cadbury, Ferrero, Guylian, The Hershey Company, Lindt & Sprüngli, Mars, Incorporated, Milka, Neuhaus, dan Suchard.

Guylian paling dikenal dengan cokelat berbentuk kerang lautnya; Cadbury dengan Dairy Milk dan Creme Egg. The Hershey Company, produsen cokelat terbesar di Amerika Utara, memproduksi Hershey Bar dan Hershey's Kisses.[134] Mars Incorporated, sebuah perusahaan swasta besar di Amerika Serikat, memproduksi Mars Bar, Milky Way, M&M's, Twix, dan Snickers. Lindt dikenal dengan bola truffle dan kelinci Paskah berbalut foil emas.

Konglomerat makanan Nestlé SA dan Mondelēz sama-sama memiliki merek cokelat. Nestlé mengakuisisi Rowntree's pada tahun 1988 dan kini memasarkan cokelat di bawah merek mereka, termasuk Smarties (permen cokelat) dan Kit Kat (cokelat batangan); Kraft Foods melalui akuisisi Jacobs Suchard pada tahun 1990 kini memiliki Milka dan Suchard. Fry's, Trebor Basset, dan merek perdagangan adil Green & Black's juga termasuk dalam grup tersebut.

Pekerja anak dalam pemanenan kakao

Artikel utama: Pekerja anak dalam produksi kakao
Lihat pula: Produksi kakao di Pantai Gading dan Produksi kakao di Ghana
Anak yang sedang menjemur kakao di Chuao, Venezuela

Penggunaan anak-anak secara luas dalam produksi kakao merupakan hal yang kontroversial, tidak hanya karena kekhawatiran mengenai pekerja anak dan eksploitasi, tetapi juga karena menurut perkiraan tahun 2002, hingga 12.000 dari 200.000 anak yang saat itu bekerja di industri kakao Pantai Gading[135] mungkin telah menjadi korban perdagangan manusia atau perbudakan.[136] Sebagian besar perhatian pada masalah ini terfokus pada Afrika Barat, yang secara kolektif memasok 69 persen kakao dunia,[137] dan khususnya Pantai Gading yang memasok 35 persen kakao dunia.[137] Tiga puluh persen anak di bawah usia 15 tahun di Afrika sub-Sahara adalah pekerja anak, sebagian besar dalam kegiatan pertanian termasuk budi daya kakao.[138] Produsen cokelat utama, seperti Nestlé, membeli kakao di bursa komoditas tempat kakao Pantai Gading dicampur dengan kakao lainnya.[139]

Hingga tahun 2017, sekitar 2,1 juta anak di Ghana dan Pantai Gading terlibat dalam pertanian kakao, memikul beban berat, menebang hutan, dan terpapar pestisida.[140] Hingga tahun 2018, sebuah program rintisan 3 tahun – yang dilakukan oleh Nestlé dengan 26.000 petani yang sebagian besar berlokasi di Pantai Gading – mencatat penurunan sebesar 51% dalam jumlah anak yang melakukan pekerjaan berbahaya di pertanian kakao.[141]

Departemen Tenaga Kerja AS membentuk Grup Koordinasi Pekerja Anak Kakao sebagai kemitraan publik-swasta dengan pemerintah Ghana dan Pantai Gading untuk menangani praktik pekerja anak di industri kakao.[142] Inisiatif Kakao Internasional yang melibatkan produsen kakao besar mendirikan Sistem Pemantauan dan Remediasi Pekerja Anak untuk memantau ribuan pertanian di Ghana dan Pantai Gading terkait kondisi pekerja anak,[141][140] namun program tersebut hanya menjangkau kurang dari 20% pekerja anak.[143]

Pada April 2018, laporan Barometer Kakao menyatakan: "Tidak ada satu pun perusahaan atau pemerintah yang mendekati pencapaian tujuan sektor luas untuk penghapusan pekerja anak, dan bahkan tidak mendekati komitmen mereka untuk pengurangan pekerja anak sebesar 70% pada tahun 2020". Mereka mengutip kemiskinan yang terus berlanjut, ketiadaan sekolah, meningkatnya permintaan kakao dunia, pertanian kakao yang lebih intensif, dan eksploitasi pekerja anak yang terus berlanjut.[141][144]

Perdagangan adil

Artikel utama: Kakao perdagangan adil

Pada tahun 2000-an, beberapa produsen cokelat mulai terlibat dalam inisiatif perdagangan adil, untuk menanggapi kekhawatiran tentang rendahnya upah buruh kakao di negara-negara berkembang. Secara tradisional, Afrika dan negara-negara berkembang lainnya menerima harga rendah untuk komoditas ekspor mereka seperti kakao, yang menyebabkan kemiskinan. Perdagangan adil berupaya membentuk sistem perdagangan langsung dari negara berkembang untuk mengimbangi sistem ini.[145] Salah satu solusi untuk praktik perburuhan yang adil adalah dengan petani menjadi bagian dari koperasi pertanian. Koperasi membayar petani dengan harga yang wajar untuk kakao mereka sehingga petani memiliki cukup uang untuk makanan, pakaian, dan biaya sekolah.[146]

Salah satu prinsip utama perdagangan adil adalah petani menerima harga yang wajar, tetapi ini tidak berarti bahwa jumlah uang yang lebih besar yang dibayarkan untuk kakao perdagangan adil langsung diberikan kepada para petani. Efektivitas perdagangan adil telah dipertanyakan. Dalam sebuah artikel tahun 2014, The Economist menyatakan bahwa pekerja di pertanian perdagangan adil memiliki standar hidup yang lebih rendah daripada di pertanian serupa di luar sistem perdagangan adil[147] berdasarkan studi terhadap petani teh dan kopi di Uganda dan Etiopia.[148]

Penggunaan dan konsumsi

Cokelat batangan Cadbury

Cokelat dijual dalam bentuk cokelat batangan, yang hadir dalam varian cokelat hitam, cokelat susu, dan cokelat putih. Beberapa batangan yang sebagian besar terdiri dari cokelat memiliki bahan lain yang dicampurkan ke dalamnya, seperti kacang-kacangan, kismis, atau beras krispi. Cokelat digunakan sebagai bahan dalam berbagai macam bar, yang biasanya berisi berbagai bahan konfeksi (misalnya nougat, wafer, karamel, kacang-kacangan) yang disalut dengan cokelat.

Kue cokelat dengan frosting cokelat

Cokelat digunakan sebagai produk pemberi rasa dalam banyak hidangan penutup, seperti kue cokelat, brownie cokelat, mousse cokelat, dan kue kering keping cokelat. Berbagai jenis permen dan camilan mengandung cokelat, baik sebagai isian (misalnya M&M's) maupun sebagai lapisan salut (misalnya kismis bersalut cokelat atau kacang tanah bersalut cokelat).

Beberapa minuman non-alkohol mengandung cokelat, seperti susu cokelat, cokelat panas, susu kocok cokelat, dan tejate. Beberapa likuor beralkohol diberi rasa cokelat, seperti likuor cokelat dan crème de cacao. Cokelat adalah rasa es krim dan puding yang populer, dan saus cokelat biasanya ditambahkan sebagai jenama (topping) pada sundae es krim. Caffè mocha adalah minuman espresso yang mengandung cokelat.

Pengalaman konsumsi

Pengalaman saat mengonsumsi cokelat bervariasi tergantung pada bahan yang digunakan. Cokelat yang lebih banyak mengandung gula memiliki rasa yang lebih cepat terasa, sementara cokelat dengan persentase kakao yang lebih tinggi memiliki rasa yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dirasakan tetapi bertahan lebih lama di langit-langit mulut. Cokelat dengan lebih banyak kakao ini memiliki rasa yang semakin pahit.[149]

Masyarakat dan budaya

Cokelat dipersepsikan sebagai hal yang berbeda-beda pada waktu yang berbeda, termasuk sebagai camilan manis, produk mewah, barang konsumsi, dan peningkat suasana hati,[150] reputasi terakhir ini sebagian didorong oleh pemasaran.[151] Cokelat merupakan metafora populer untuk kategori ras kulit hitam.[152] Cokelat memiliki konotasi transgresi dan seksualitas[153][154] dan dikaitkan dengan gender feminin.[155] Di AS, terdapat praktik budaya di mana perempuan mengonsumsi cokelat secara sembunyi-sembunyi; baik sendirian maupun bersama perempuan lain.[156] Anak-anak menggunakan kata cokelat sebagai eufemisme untuk tinja.[157] Cokelat secara populer dipahami memiliki asal-usul yang "eksotis".[158] Di Tiongkok, cokelat dianggap menimbulkan "panas dalam" (shanghuo), dan dihindari saat cuaca panas.[159]

Gelt Hanukkah
Kotak hadiah berisi cokelat, yang merupakan hadiah umum untuk Hari Valentine

Cokelat dikaitkan dengan festival seperti Paskah, ketika cetakan kelinci dan telur cokelat secara tradisional diberikan dalam komunitas Kristen, dan Hanukkah, ketika koin cokelat diberikan dalam komunitas Yahudi. Hati cokelat dan cokelat dalam kotak berbentuk hati populer pada Hari Valentine dan sering kali diberikan bersama bunga dan kartu ucapan.[33][160] Kotak berisi cokelat dengan aneka isian dengan cepat dikaitkan dengan hari raya tersebut.[33] Cokelat adalah hadiah yang lazim pada hari raya lain dan pada acara-acara seperti ulang tahun. Banyak produsen kembang gula membuat permen cokelat khusus hari raya. Telur atau kelinci Paskah cokelat dan figur Sinterklas adalah dua contohnya. Konfeksi semacam itu dapat berupa cokelat padat, berongga, atau berisi permen atau fondant.

Pada tahun 1964, Roald Dahl menerbitkan novel anak-anak berjudul Charlie dan Pabrik Cokelat. Novel ini berpusat pada seorang anak laki-laki miskin bernama Charlie Bucket yang melakukan tur melalui pabrik cokelat terbesar di dunia, milik seorang eksentrik bernama Willy Wonka.[161] Dua adaptasi film dari novel tersebut telah diproduksi: Willy Wonka & the Chocolate Factory (1971) dan Charlie and the Chocolate Factory (2005). Adaptasi ketiga, sebuah film prekuel asal-usul berjudul Wonka, dirilis pada tahun 2023.[162] Chocolat, sebuah novel tahun 1999 karya Joanne Harris, diadaptasi menjadi film dalam Chocolat yang dirilis setahun kemudian.[163]

Beberapa seniman telah menggunakan cokelat dalam karya seni mereka; Dieter Roth sangat berpengaruh dalam hal ini dimulai dengan karya-karyanya pada tahun 1960-an yang mencetak figur manusia dan hewan dalam cokelat, yang memanfaatkan pembusukan cokelat yang tak terelakkan untuk mengomentari sikap kontemporer terhadap kepermanenan pajangan museum. Karya-karya lain memanfaatkan kemampuan audiens untuk mengonsumsi cokelat yang dipamerkan, yang didorong dalam Exhibition Basics (2001) karya Sonja Alhäuser dan dilarang secara menyakitkan dalam Ruang Cokelat (1970) karya Edward Ruscha. Pada tahun 1980-an dan 90-an, seniman pertunjukan Karen Finley dan Janine Antoni masing-masing menggunakan asosiasi budaya populer cokelat tentang kotoran dan konsumsi, serta keinginan, untuk mengomentari status perempuan dalam masyarakat.[164]

Rasa

Cokelat mint adalah rasa cokelat tersendiri yang dibuat dengan menambahkan perasa mentol, seperti pepermin, spearmint, atau crème de menthe, ke dalam cokelat. Cokelat mint dapat ditemukan dalam berbagai macam produk kembang gula, seperti permen, mint, kue kering, es krim keping cokelat mint, cokelat panas, dan lainnya. Produk ini juga dipasarkan dalam format non-makanan dalam kosmetik dengan aroma mint yang khas. Komponen cokelatnya dapat berupa cokelat susu, cokelat hitam biasa, atau cokelat putih; karena hal ini, cokelat mint tidak memiliki satu rasa yang spesifik, sehingga setiap kombinasi cokelat dan rasa bisa menjadi unik. National Confectioners Association AS mencantumkan 19 Februari sebagai "Hari Cokelat Mint".[165]

Lihat pula

  • iconPortal Makanan
  • Portal Nutrisi
Artikel utama: Garis besar cokelat
  • Pembuatan permen
  • Glosarium istilah cokelat
  • Daftar makanan bersalut cokelat
  • Daftar minuman cokelat
  • Daftar perusahaan cokelat

Catatan

  1. ↑ Dalam: José de Acosta (1604). The naturall and morall historie of the East and West Indies. Vol. 1. Diterjemahkan oleh Edward Grimeston (Edisi 1st). Edward Blount dan William Aspley.
    The chiefe vse of this Cacao is in a drinke which they call Chocolate [Kegunaan utama Cacao ini adalah dalam minuman yang mereka sebut Chocolate]

Referensi

  1. ↑ "chocolate". Oxford English Dictionary (Edisi Online). Oxford University Press. Diakses tanggal 16 Juli 2024. (Subscription or participating institution membership required.) Diarsipkan 17 Oktober 2025 di Wayback Machine.
  2. ↑ Swanton, de Ávila & van Doesburg (2010), hlm. 435.
  3. ↑ Swanton (2024), hlm. 23.
  4. 1 2 3 Coe & Coe (2013), Crossing the Language Barrier.
  5. ↑ Kaufman & Justeson (2007), hlm. 193.
  6. ↑ Kaufman & Justeson (2007), hlm. 218; Dakin & Wichmann (2000), hlm. 63.
  7. ↑ Sampeck & Thayn (2017), hlm. 78–79.
  8. ↑ (Lanaud et al. 2024, hlm. 8)
  9. 1 2 Coe & Coe (2013), The Tree of the Food of the Gods.
  10. 1 2 Collins (2022), hlm. 301–302.
  11. 1 2 MacLeod (2000), hlm. 636.
  12. 1 2 Vail (2008), hlm. 10.
  13. 1 2 Collins (2022), hlm. 160-162.
  14. 1 2 Coe & Coe (2013), The Maya on the Eve of the Conquest.
  15. 1 2 Leissle (2018), hlm. 34.
  16. 1 2 Coe & Coe (2013), hlm. 95.
  17. 1 2 Presilla (2009), hlm. 12, 16, 22.
  18. 1 2 Aguilar-Moreno (2006), hlm. 274.
  19. 1 2 Grivetti (2008b), hlm. 68.
  20. 1 2 Coe & Coe (2013), Flavorings, Spices, and Other Additions.
  21. 1 2 Coe & Coe (2013), Cacao Preparation among the Late Maya.
  22. 1 2 Coe & Coe (2013), Lords of the Forest: The Classic Maya.
  23. ↑ (Dillinger et al. 2000, hlm. 2058S-2059S)
  24. 1 2 Grivetti (2008a), hlm. 100.
  25. 1 2 Collins (2022), hlm. 285–288.
  26. 1 2 Norton (2004), hlm. 15.
  27. 1 2 Coe & Coe (2013), Cacao in Spain: "Chocolate Brought to Perfection".
  28. 1 2 3 4 Coe & Coe (2013), Chocolate and the English.
  29. 1 2 Coe & Coe (2013), New Spain and Central America.
  30. 1 2 Coe & Coe (2013), Crossing the Taste Barrier.
  31. ↑ Pierre Cormon (20 Desember 2023). "Le péché mignon des élites catholiques". Entreprise romande (dalam bahasa Prancis). Diakses tanggal 5 Desember 2025.
  32. 1 2 Coe & Coe (2013), Chapter 7.
  33. 1 2 3 4 Mintz, Sidney (2015). The Oxford Companion to Sugar and Sweets. Oxford University Press. hlm. 157.
  34. ↑ Khodorowsky, Katherine (2009). Tout sur le chocolat. Odile Jacob. hlm. 47. ISBN 978-2-7381-9390-2. (oubliant celle de Menier en 1836) [(melupakan buatan Menier pada tahun 1836)]
  35. 1 2 Snyder, Olsen & Brindle (2008), hlm. 612.
  36. 1 2 3 4 Coe & Coe (2013), Quaker Capitalists.
  37. 1 2 Coe & Coe (2013), A Break with the Past: Van Houten's Inventions.
  38. 1 2 Coe & Coe (2013), Switzerland: Land of Cows and Chocolate.
  39. 1 2 Clarence-Smith (2000), hlm. 48.
  40. 1 2 Walker (2008), hlm. 553.
  41. 1 2 Leissle (2018), hlm. 41.
  42. 1 2 Leissle (2018), hlm. 28.
  43. 1 2 Snyder, Olsen & Brindle (2008), hlm. 620.
  44. 1 2 Moss & Badenoch (2009), hlm. 63.
  45. 1 2 Beckett (2019), hlm. 10.
  46. 1 2 Garrone, Pieters & Swinnen (2016), hlm. 91.
  47. 1 2 Leissle (2018), hlm. 39.
  48. ↑ Afoakwa, Emmanuel Ohene (2011). "7.3 Materials and Methods". Chocolate Science and Technology. John Wiley & Sons. ISBN 978-1-4443-5733-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Mei 2023. Diakses tanggal 27 Mei 2023. Recipes used for the formulation of the dark chocolate
  49. ↑ Spyropoulos, Fotis (2019). Handbook of Food Structure Development. Royal Society of Chemistry. hlm. 136. ISBN 978-1-78801-216-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Maret 2023. Diakses tanggal 16 April 2023.
  50. ↑ Beckett, Steve T. (2017). Beckett's Industrial Chocolate Manufacture and Use. John Wiley & Sons. hlm. 498. ISBN 978-1-118-78014-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Mei 2023. Diakses tanggal 16 April 2023. Typical recipes for white bar chocolate
  51. ↑ Medrich, Alice (2015). Pure Dessert: True Flavors, Inspiring Ingredients, and Simple Recipes. Artisan Books. hlm. 157. ISBN 978-1-57965-685-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Maret 2023. Diakses tanggal 16 April 2023. gianduja resembles a bar of chocolate. It is softer on the tooth than a plain chocolate bar (because of the oil from the hazelnuts)
  52. ↑ Peters, Colette (6 Desember 2013). "Modeling Chocolate". Food & Wine. Diarsipkan dari asli tanggal 3 Februari 2022. Diakses tanggal 7 Januari 2026.
  53. ↑ (Lanaud et al. 2024, hlm. 8)
  54. ↑ (Dillinger et al. 2000, hlm. 2058S-2059S)
  55. ↑ Pierre Cormon (20 Desember 2023). "Le péché mignon des élites catholiques". Entreprise romande (dalam bahasa Prancis). Diakses tanggal 5 Desember 2025.
  56. ↑ Khodorowsky, Katherine (2009). Tout sur le chocolat. Odile Jacob. hlm. 47. ISBN 978-2-7381-9390-2. (oubliant celle de Menier en 1836) [(melupakan buatan Menier pada tahun 1836)]
  57. ↑ Schwan, R.; Wheals, A. (2004). "The Microbiology of Cocoa Fermentation and its Role in Chocolate Quality". Critical Reviews in Food Science and Nutrition. 44 (4): 205–221. doi:10.1080/10408690490464104. PMID 15462126. S2CID 34523445.
  58. ↑ "Harvesting the seeds". Xocoatl. Diarsipkan dari asli tanggal 21 May 2008. Diakses tanggal 20 May 2008.
  59. 1 2 "Making Chocolate from Scratch" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 31 March 2010. Diakses tanggal 2 August 2011.
  60. ↑ "At the chocolate factory". The Cocoa Tree. Diarsipkan dari asli tanggal 14 January 2007. Diakses tanggal 20 May 2008.
  61. ↑ Zonis, Stephanie. "Conching: Crucial Step in Chocolate's Flavor and Texture?". Sally's Place. Diarsipkan dari asli tanggal 17 June 2008. Diakses tanggal 20 May 2008.
  62. ↑ Beckett (2019), hlm. 95.
  63. ↑ Beckett (2019), hlm. 81.
  64. ↑ Apa yang Diberitahukan Fisika kepada Kita Tentang Membuat Cokelat yang Sempurna
  65. ↑ Lawandi, Janice (20 November 2018). "Everything you need to know about the different types of chocolate". The Bake School (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 July 2021. Diakses tanggal 19 July 2021.
  66. ↑ DeMarco, E. (7 Mei 2015). "X-rays reveal how chocolate turns white". Science. doi:10.1126/science.aac4563. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Mei 2015. Diakses tanggal 8 Mei 2015.
  67. ↑ "Tips for Chocolate Care". Ghirardelli. Diarsipkan dari asli tanggal 6 Februari 2007. Diakses tanggal 16 April 2007.
  68. ↑ Miller, Teresa. "Milkfat Fractions Help Beat Blooming Chocolate". College of Agricultural Life and Sciences, University of Wisconsin-Madison. Diarsipkan dari asli tanggal 9 Juni 2007. Diakses tanggal 16 April 2007.
  69. ↑ "How to Store Chocolate". CocoaBella. Diarsipkan dari asli tanggal 8 Februari 2007. Diakses tanggal 16 April 2007.
  70. ↑ Bau, Frederic, ed. (2011). Cooking With Chocolate: Essential Recipes and Techniques. Paris: Flammarion, S.A. hlm. 147. ISBN 978-2-08-020081-5.
  71. ↑ "Chocolate: Types (Unsweetened, Bittersweet, Semisweet, Milk), Selection, and Storage". Better Homes & Gardens (dalam bahasa Inggris). 9 Juni 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Oktober 2018. Diakses tanggal 10 Mei 2018.
  72. ↑ Zięba K, Makarewicz-Wujec M, Kozłowska-Wojciechowska (2019). "Cardioprotective mechanisms of cocoa". Journal of the American College of Nutrition. 38 (6): 564–575. doi:10.1080/07315724.2018.1557087. PMID 30620683. S2CID 58582304.
  73. ↑ Miller, K. B.; Hurst, W. J.; Payne, M. J.; Stuart, D. A.; Apgar, J.; Sweigart, D. S.; Ou, B. (2008). "Impact of Alkalization on the Antioxidant and Flavanol Content of Commercial Cocoa Powders". Journal of Agricultural and Food Chemistry. 56 (18): 8527–33, 8527. Bibcode:2008JAFC...56.8527M. doi:10.1021/jf801670p. PMID 18710243.
  74. ↑ "Caffeine". New South Wales Government. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 September 2015. Diakses tanggal 8 September 2015.
  75. ↑ Miller, Kenneth B.; Hurst, W. Jeffrey; Flannigan, Nancy; Ou, Boxin; Lee, C. Y.; Smith, Nancy; Stuart, David A. (2009). "Survey of Commercially Available Chocolate- and Cocoa-Containing Products in the United States. 2. Comparison of Flavan-3-ol Content with Nonfat Cocoa Solids, Total Polyphenols, and Percent Cacao". Journal of Agricultural and Food Chemistry. 57 (19): 9169–80. Bibcode:2009JAFC...57.9169M. doi:10.1021/jf901821x. PMID 19754118.
  76. 1 2 3 4 Rankin, CW; Nriagu, JO; Aggarwal, JK; Arowolo, TA; Adebayo, K; Flegal, AR (Oktober 2005). "Lead contamination in cocoa and cocoa products: isotopic evidence of global contamination". Environmental Health Perspectives. 113 (10): 1344–1348. Bibcode:2005EnvHP.113.1344R. doi:10.1289/ehp.8009 (tidak aktif 10 Januari 2026). PMC 1281277. PMID 16203244. Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per 2026 (link)
  77. ↑ Heneman, Karrie; Zidenberg-Cherr, Sheri (2006). "Is lead toxicity still a risk to U.S. children?". California Agriculture. 60 (4): 180–4. doi:10.3733/ca.v060n04p180.
  78. ↑ Heller, Lorraine (29 November 2006). "FDA issues new guidance on lead in candy". FoodNavigator.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Maret 2010. Diakses tanggal 15 Februari 2007.
  79. ↑ Yanus, Rinat Levi; Sela, Hagit; Borojovich, Eitan J.C.; Zakon, Yevgeni; Saphier, Magal; Nikolski, Andrey; Gutflais, Efi; Lorber, Avraham; Karpas, Zeev (2014). "Trace elements in cocoa solids and chocolate: An ICPMS study". Talanta. 119: 1–4. Bibcode:2014Talan.119....1Y. doi:10.1016/j.talanta.2013.10.048. PMID 24401377.
  80. ↑ Villa, Javier E. L.; Peixoto, Rafaella R. A.; Cadore, Solange (2014). "Cadmium and Lead in Chocolates Commercialized in Brazil". Journal of Agricultural and Food Chemistry. 62 (34): 8759–63. Bibcode:2014JAFC...62.8759V. doi:10.1021/jf5026604. PMID 25123980.
  81. ↑ Domonoske C (30 Agustus 2021). "The World Has Finally Stopped Using Leaded Gasoline". NPR. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 November 2023.
  82. ↑ Whitworth, Joe (13 Agustus 2021). "EU lowers lead and cadmium limits for food products". Food Safety News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Maret 2023. Diakses tanggal 15 Maret 2023.
  83. ↑ Templat:CELEX. (Secara implisit digantikan oleh Templat:CELEX.)
  84. ↑ Templat:CELEX. (Secara implisit digantikan oleh Templat:CELEX.)
  85. ↑ Nieburg, Oliver (15 September 2016). "Killing at source: How to avoid cadmium and lead in chocolate". Confectionery News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Februari 2023. Diakses tanggal 14 Maret 2023. Terakhir diperbarui pada 13-Agu-2019
  86. ↑ "Lead and Cadmium Could Be in Your Dark Chocolate". Consumer Reports. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Januari 2023. Diakses tanggal 14 Maret 2023.
  87. ↑ Abt, Eileen; Fong Sam, Jennifer; Gray, Patrick; Robin, Lauren Posnick (3 April 2018). "Cadmium and lead in cocoa powder and chocolate products in the US Market". Food Additives & Contaminants: Part B. 11 (2): 92–102. doi:10.1080/19393210.2017.1420700. PMID 29310543. S2CID 13677509.
  88. ↑ "Cocoa, dry powder, unsweetened Nutrition Facts & Calories". nutritiondata.self.com (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 August 2018. Diakses tanggal 24 August 2018.
  89. ↑ "Candies, chocolate, dark, 70–85% cocoa solids Nutrition Facts & Calories". nutritiondata.self.com (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 August 2018. Diakses tanggal 24 August 2018.
  90. ↑ Bunker, M. L.; McWilliams, M. (1979). "Caffeine content of common beverages". Journal of the American Dietetic Association. 74 (1): 28–32. doi:10.1016/S0002-8223(21)39775-9. PMID 762339. S2CID 10192823.
  91. ↑ Smit, H. J.; Rogers, P. J. (October 2010). "Effects of low doses of caffeine on cognitive performance, mood and thirst in low and higher caffeine consumers". Psychopharmacology. 152 (2): 167–173. doi:10.1007/s002130000506. ISSN 0033-3158. PMID 11057520. S2CID 7176784.
  92. ↑ Latif, R (March 2013). "Chocolate/cocoa and human health: a review". Neth J Med. 71 (2): 63–8. PMID 23462053. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 March 2018. Diakses tanggal 7 January 2019.
  93. ↑ "Theobromine: Toxicity summary". PubChem, U.S. National Library of Medicine. 25 November 2023. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 November 2023. Diakses tanggal 26 November 2023.
  94. ↑ Schroder, Theresa; Vanhanen, Leo; Savage, Geoffrey P. (2011). "Oxalate content in commercially produced cocoa and dark chocolate". Journal of Food Composition and Analysis. 24 (7): 916–922. doi:10.1016/j.jfca.2011.03.008.
  95. ↑ Aremu, CY; Agiang, MA; Ayatse, JO (1995). "Nutrient and antinutrient profiles of raw and fermented cocoa beans". Plant Foods for Human Nutrition (Dordrecht, Netherlands). 48 (3): 217–23. Bibcode:1995PFHN...48..217A. doi:10.1007/bf01088443. PMID 8833428. S2CID 21376588.
  96. ↑ "Kidney Stones: Overview from the Nephrology Department". Cleveland Clinic. Diarsipkan dari asli tanggal 5 July 2013.
  97. ↑ Smit HJ (2011). "Theobromine and the Pharmacology of Cocoa". Methylxanthines. Handbook of Experimental Pharmacology. Vol. 200. hlm. 201–34. doi:10.1007/978-3-642-13443-2_7. ISBN 978-3-642-13442-5. PMID 20859797.
  98. ↑ Drolet, R; Arendt, TD; Stowe, CM (1984). "Cacao bean shell poisoning in a dog". Journal of the American Veterinary Medical Association. 185 (8): 902. doi:10.2460/javma.1984.185.08.902. PMID 6501051.
  99. ↑ Blakemore, F; Shearer, GD (1943). "The poisoning of livestock by cacao products". Veterinary Record. 55 (15): 165.
  100. ↑ Powell-Wiley, Tiffany M.; Poirier, Paul; Burke, Lora E.; Després, Jean-Pierre; Gordon-Larsen, Penny; Lavie, Carl J.; Lear, Scott A.; Ndumele, Chiadi E.; Neeland, Ian J.; Sanders, Prashanthan; St-Onge, Marie-Pierre (25 May 2021). "Obesity and Cardiovascular Disease: A Scientific Statement From the American Heart Association". Circulation. 143 (21): e984 – e1010. Bibcode:2021Circu.14300973P. doi:10.1161/CIR.0000000000000973. PMC 8493650. PMID 33882682.
  101. 1 2 3 Bhate, K; Williams, H. C. (2013). "Epidemiology of acne vulgaris". British Journal of Dermatology. 168 (3): 474–85. doi:10.1111/bjd.12149. PMID 23210645. S2CID 24002879.
  102. 1 2 Ferdowsian HR, Levin S (March 2010). "Does diet really affect acne?". Skin Therapy Letter. 15 (3): 1–2, 5. PMID 20361171. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 February 2015. Diakses tanggal 8 August 2023.
  103. ↑ Melnik, BC; John, SM; Plewig, G (November 2013). "Acne: risk indicator for increased body mass index and insulin resistance". Acta Dermato-Venereologica. 93 (6): 644–9. doi:10.2340/00015555-1677. PMID 23975508.
  104. ↑ Mahmood SN, Bowe WP (April 2014). "Diet and acne update: carbohydrates emerge as the main culprit". Journal of Drugs in Dermatology. 13 (4): 428–35. PMID 24719062.
  105. ↑ Magin P, Pond D, Smith W, Watson A (February 2005). "A systematic review of the evidence for 'myths and misconceptions' in acne management: diet, face-washing and sunlight". Family Practice. 22 (1): 62–70. doi:10.1093/fampra/cmh715. PMID 15644386.
  106. 1 2 3 Rogers, Peter J; Smit, Hendrik J (2000). "Food Craving and Food 'Addiction'". Pharmacology Biochemistry and Behavior. 66 (1): 3–14. doi:10.1016/s0091-3057(00)00197-0. PMID 10837838. S2CID 34391710.
  107. ↑ Skarnulis, Leanna. "The Chocoholic's Survival Guide". webmd.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 March 2018. Diakses tanggal 14 April 2013.
  108. ↑ Parker, G; Parker, I; Brotchie, H (June 2006). "Mood state effects of chocolate". Journal of Affective Disorders. 92 (2–3): 149–59. doi:10.1016/j.jad.2006.02.007. PMID 16546266. S2CID 13297332.
  109. 1 2 Scholey, Andrew; Owen, Lauren (2013). "Effects of chocolate on cognitive function and mood: a systematic review". Nutrition Reviews. 71 (10): 665–681. doi:10.1111/nure.12065. ISSN 0029-6643. PMID 24117885.
  110. ↑ Veronese N, Demurtas J, Celotto S, Caruso MG, Maggi S, Bolzetta F, Firth J, Smith L, Schofield P, Koyanagi A, Yang L, Solmi M, Stubbs B (2019). "Is chocolate consumption associated with health outcomes? An umbrella review of systematic reviews and meta-analyses". Clinical Nutrition. 38 (3): 1101–08. doi:10.1016/j.clnu.2018.05.019. PMID 29903472. S2CID 49208983. Diarsipkan dari asli tanggal 6 March 2023. Diakses tanggal 8 August 2023.
  111. ↑ Milliron, Tara; Kelsberg, Gary; St Anna, Leilani (2010). "Clinical inquiries. Does chocolate have cardiovascular benefits?". The Journal of Family Practice. 59 (6): 351–2. PMID 20544068. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 December 2018. Diakses tanggal 8 August 2023.
  112. ↑ Ried, Karin; Stocks, Nigel P; Fakler, Peter (April 2017). "Effect of cocoa on blood pressure". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 81 (9): 1121–6. doi:10.1002/14651858.CD008893.pub3. PMC 6478304. PMID 28439881.
  113. ↑ Buitrago-Lopez, A.; Sanderson, J.; Johnson, L.; Warnakula, S.; Wood, A.; Di Angelantonio, E.; Franco, O. H. (2011). "Chocolate consumption and cardiometabolic disorders: Systematic review and meta-analysis". BMJ. 343 d4488. doi:10.1136/bmj.d4488. PMC 3163382. PMID 21875885.
  114. ↑ Arranz, S; Valderas-Martinez, P; Chiva-Blanch, G; Casas, R; Urpi-Sarda, M; Lamuela-Raventos, RM; Estruch, R (June 2013). "Cardioprotective effects of cocoa: clinical evidence from randomized clinical intervention trials in humans". Molecular Nutrition & Food Research. 57 (6): 936–47. doi:10.1002/mnfr.201200595. PMID 23650217.
  115. ↑ Sudano I, Flammer AJ, Roas S, et al. (August 2012). "Cocoa, blood pressure, and vascular function". Curr. Hypertens. Rep. 14 (4): 279–84. doi:10.1007/s11906-012-0281-8. PMC 5539137. PMID 22684995.
  116. ↑ EFSA Panel on Dietetic Products, Nutrition and Allergies (NDA) (2010). "Scientific Opinion on the substantiation of health claims related to cocoa flavanols and protection of lipids from oxidative damage (ID 652, 1372, 1506, 3143), and maintenance of normal blood pressure (ID 1507) pursuant to Article 13(1) of Regulation (EC): Cocoa flavanols related health claims". EFSA Journal. 8 (10): 1792. doi:10.2903/j.efsa.2010.1792.
  117. ↑ Stevens, Molly. "Sorting Out Chocolate". Taunton. Diarsipkan dari asli tanggal 21 April 2008. Diakses tanggal 17 Mei 2008.
  118. ↑ Mollet, Olivia (2006). "Chocolate Country". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Mei 2014. Diakses tanggal 20 Mei 2014.
  119. ↑ Beckman, Karel (21 Desember 2000). "BELGIUM: Government encourages chocolate producers to support international quality label". just-food.com. Diarsipkan dari asli tanggal 19 Mei 2014. Diakses tanggal 20 Mei 2014.
  120. ↑ Blane, Colin (25 Mei 2000). "EUROPE | Euro chocolate war ends". BBC News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Juli 2020. Diakses tanggal 16 Mei 2020.
  121. ↑ "National Organic Program". USDA Agricultural Marketing Service. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 April 2008. Diakses tanggal 7 Juni 2008.
  122. ↑ "Selling Labelled Products". Fairtrade Labelling Organizations International. Diarsipkan dari asli tanggal 2 Juni 2008. Diakses tanggal 7 Juni 2008.
  123. ↑ "Adopt Regulations of General Applicability to all Food Standards that would Permit, within Stated Boundaries, Deviations from the Requirements of the Individual Food Standards of Identity". U.S. Food and Drug Administration. Diarsipkan dari asli tanggal 22 May 2007. Diakses tanggal 9 June 2007.
  124. ↑ "2007P-0085 Appendix C Changes Allowed to Modernize Food Standards While Retaining The Basic Nature and Essential Characteristics of Standardized Food" (PDF). U.S. Food and Drug Administration. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 4 June 2007. Diakses tanggal 9 June 2007.
  125. ↑ Sweet victory for UK chocolate Diarsipkan 3 August 2017 di Wayback Machine. BBC News (15 Maret 2000)
  126. ↑ "Division 4: Cocoa and Chocolate Products". Government of Canada: Food and Drug Regulations (C.R.C., c. 870). 13 June 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 July 2017. Diakses tanggal 20 July 2017.
  127. ↑ "About Chocolate- History". Chocolatesource.com. Diarsipkan dari asli tanggal 27 February 2009. Diakses tanggal 22 January 2010.
  128. ↑ "Report: The Global Market for Chocolate to 2006". The-infoshop.com. Diarsipkan dari asli tanggal 16 July 2011. Diakses tanggal 22 January 2010.
  129. ↑ Griswold, Alison (24 November 2014). "Are We Actually Facing a Chocolate Shortfall?". Slate. The Slate Group. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 November 2014. Diakses tanggal 24 November 2014.
  130. ↑ "The Chocolate Industry: Abusive Child Labor and Poverty Behind the Sweetness". Globalexchange.org. 7 December 2004. Diarsipkan dari asli tanggal 10 February 2005.
  131. ↑ Hawksley, Humphrey (13 June 2002). "Meeting the 'chocolate slaves'". BBC News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 September 2009. Diakses tanggal 22 January 2010.
  132. 1 2 Bridges, Andrew (7 August 2007). "Sides square off in chocolate fight". Pantagraph. Diarsipkan dari asli tanggal 12 April 2009. Diakses tanggal 17 May 2008.
  133. ↑ Dillon, Sheila (23 Desember 2007). "The Food Programme" (RealAudio). BBC Radio 4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 November 2014.
  134. ↑ Duncan, Andrew. "Hershey Kisses Potential Buyers Goodbye". Book Sense. Diarsipkan dari asli tanggal 20 April 2006. Diakses tanggal 30 June 2006.
  135. ↑ Hawksley, Humphrey (4 May 2001). "Pantai Gading menuduh perusahaan cokelat". BBC News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 January 2009. Diakses tanggal 4 August 2010.
  136. ↑ O'Keefe, Brian (1 March 2016). "Inside Big Chocolate's Child Labor Problem". Fortune. Diarsipkan dari asli tanggal 12 January 2019. Diakses tanggal 7 January 2018. Selama satu setengah dekade, para pembuat cokelat besar telah berjanji untuk mengakhiri pekerja anak di industri mereka – dan telah menghabiskan puluhan juta dolar dalam upaya tersebut. Namun menurut perkiraan terbaru, 2,1 juta anak Afrika Barat masih melakukan pekerjaan memanen kakao yang berbahaya dan menguras fisik. Apa yang diperlukan untuk memperbaiki masalah ini?
  137. 1 2 "Cocoa Market Update" (PDF). World Cocoa Foundation. May 2010. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 13 October 2011. Diakses tanggal 11 December 2011.
  138. ↑ "Rooting out child labour from cocoa farms: Paper No. 4 Child labour monitoring – A partnership of communities and government". Organisasi Perburuhan Internasional. 2007. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 April 2016.
  139. ↑ "The cocoa market: A background study" (PDF). Oxfam. 2002. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 10 September 2008.
  140. 1 2 Kieran Guilbert (12 June 2017). "Falling cocoa prices threaten child labor spike in Ghana, Ivory Coast". Reuters. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 October 2021. Diakses tanggal 7 January 2019.
  141. 1 2 3 Oliver Balch (20 June 2018). "Child labour: the true cost of chocolate production". Raconteur. Diarsipkan dari asli tanggal 27 July 2020. Diakses tanggal 7 January 2019.
  142. ↑ "Child Labor in the Production of Cocoa". Bureau of International Labor Affairs, United States Department of Labor, Washington, DC. 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 December 2018. Diakses tanggal 7 January 2019.
  143. ↑ "Cocoa has a poverty problem. You can help by eating more dark chocolate". New Food Economy. 7 July 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 23 October 2019. Diakses tanggal 7 July 2018.
  144. ↑ "2018 Cocoa Barometer Report". The Cocoa Barometer. 19 April 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 January 2019. Diakses tanggal 8 January 2019.
  145. ↑ Brown, Michael Barratt (2007). "'Fair Trade' with Africa". Review of African Political Economy. 34 (112): 267–77. doi:10.1080/03056240701449653. hdl:10.1080/03056240701449653. JSTOR 20406397. S2CID 219715395.
  146. ↑ Goodman, Michael K (2004). "Reading fairtrade: political ecological imaginary and the moral economy of fairtrade foods". Political Geography. 23 (7): 891–915. doi:10.1016/j.polgeo.2004.05.013.
  147. ↑ "Pertanian di Etiopia dan Uganda: Perdagangan yang tidak begitu adil". The Economist. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 July 2014. Diakses tanggal 3 July 2014.
  148. ↑ Cramera C, Johnstonb D, Oyaa C, Senderb J (2014). "Fairtrade cooperatives in Ethiopia and Uganda: Uncensored". Review of African Political Economy. 41 (143): S115 – S127. JSTOR 24858301.
  149. ↑ Segnit (2010), hlm. 13.
  150. ↑ Hackenesch (2017), hlm. 18.
  151. ↑ Martin & Sampeck (2021).
  152. ↑ Hackenesch (2017), hlm. 10.
  153. ↑ Hackenesch (2017), hlm. 15.
  154. ↑ Scarpellini (2016), hlm. 125.
  155. ↑ Mathias (2022), hlm. 530.
  156. ↑ McCabe & de Waal Malefyt (2020), hlm. 28.
  157. ↑ Moore (2005), hlm. 53.
  158. ↑ Martin & Sampeck (2021), hlm. 48–49.
  159. ↑ Allen (2010), hlm. 24.
  160. ↑ Guinness World Records 2017. Guinness World Records. 8 September 2016. hlm. 90. ISBN 978-1-910561-34-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 January 2023. Diakses tanggal 18 July 2022. Richard Cadbury, putra sulung John Cadbury yang mendirikan merek ikonik tersebut, adalah pembuat cokelat pertama yang mengomersialkan hubungan antara kembang gula dan romansa, memproduksi kotak cokelat berbentuk hati untuk Hari Valentine pada tahun 1868
  161. ↑ "Charlie and the Chocolate Factory". Britannica. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 October 2021. Diakses tanggal 30 September 2021. Kelima anak tersebut disambut di luar pabrik oleh sang visioner eksentrik Willy Wonka.
  162. ↑ "Timothée Chalamet to Play Young Willy Wonka in Warner Bros. Movie". Variety. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 May 2021. Diakses tanggal 27 June 2021.
  163. ↑ "Chocolat (2000)". BBFC. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 July 2021. Diakses tanggal 18 July 2021.
  164. ↑ Jandl (2015), hlm. 28–29.
  165. ↑ "Candy Holidays". National Confectioners Association. Diarsipkan dari asli tanggal 2 December 2014. Diakses tanggal 1 December 2014.

Sumber

Buku

  • Aguilar-Moreno, Manuel (2006). "The Good and Evil of Chocolate in Colonial Mexico". Dalam McNeil, Cameron L. (ed.). Chocolate in Mesoamerica: A Cultural History of Cacao. Maya studies. Gainesville: University Press of Florida. ISBN 978-0-8130-2953-5. OCLC 940651076.
  • Allen, Lawrence L (2010). Chocolate Fortunes: The Battle for the Hearts, Minds, and Wallets of China's Consumers. Amacom. ISBN 978-0-8144-1432-3.
  • Beckett, Stephen T (2019). The Science of Chocolate (Edisi 3rd). Croydon, United Kingdom: Royal Society of Chemistry. ISBN 978-1-78801-235-5.
  • Clarence-Smith, William Gervase (2000). Cocoa and Chocolate, 1765-1914. New York: Routledge. ISBN 978-1-134-60778-5.
  • Collins, Ross F. (2022). Chocolate: A Cultural Encyclopedia. Santa Barbara, California: ABC-Clio. ISBN 978-1-4408-7607-3.
  • Coe, Sophie D; Coe, Michael D (2013). The True History of Chocolate (Edisi 3rd). London: Thames & Hudson. ISBN 978-0-500-77093-1. OCLC 1085907808.
  • Garrone, Maria; Pieters, Hannah; Swinnen, Johan (2016). "From Pralines to Multinationals: The Economic History of Belgian Chocolates". Dalam Squicciarini, Mara P.; Swinnen, Johan (ed.). The Economics of Chocolate. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-872644-9. OCLC 939547061.
  • Grivetti, Louis Evan (2008a). "From Bean to Beverage: Historical Chocolate Recipes". Dalam Grivetti, Louis Evan; Shapiro, Howard-Yana (ed.). Chocolate: History, Culture, and Heritage. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc. ISBN 978-0-470-41131-5.
  • Grivetti, Louis Evan (2008b). "Medicinal Chocolate in New Spain, Western Europe, and North America". Dalam Grivetti, Louis Evan; Shapiro, Howard-Yana (ed.). Chocolate: History, Culture, and Heritage. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc. ISBN 978-0-470-41131-5.
  • Leissle, Kristy (2018). Cocoa. Polity. ISBN 978-1-5095-1320-8. OCLC 988580966.
  • Hackenesch, Silke (2017). Chocolate and Blackness: A Cultural History. University of Chicago Press. ISBN 978-3-593-50776-7.
  • MacLeod, Murdo J. (2000). "Cacao". Dalam Kiple, Kenneth F.; Coneè Oyurnelas, Kriemhild (ed.). Cambridge World History of Food. Vol. 1. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-40214-9.
  • McCabe, Maryann; de Waal Malefyt, Timothy (2020). "Women and chocolate: identity narratives of sensory and sensual enjoyment". Dalam de Waal Malefyt, Timothy; McCabe, Maryann (ed.). Women, Consumption and Paradox. Anthropology and Business: Crossing boundaries, innovating praxis. Oxford: Routledge. ISBN 978-0-367-46314-4.
  • Moore, Alison (2005). "Kakao and Kaka: Chocolate and the Excretory Imagination of Nineteenth-Century Europe". Dalam Forth, Christopher E; Carden-Coyne, Ana (ed.). Cultures of the Abdomen: Diet, Digestion, and Fat in the Modern World. Palgrave Macmillan. doi:10.1057/9781403981387. ISBN 978-1-349-52880-6.
  • Moss, Sarah; Badenoch, Alexander (2009). Chocolate: A Global History. London: Reaktion Books. ISBN 978-1-86189-524-0.
  • Presilla, Maricel E. (2009). The New Taste of Chocolate, Revised: A Cultural and Natural History of Cacao with Recipes. New York: Ten Speed Press. ISBN 978-1-58008-950-0.
  • Scarpellini, Emanuela (2016). Food and Foodways in Italy from 1861 to the Present. Diterjemahkan oleh Mazhar, Noor Giovanni. Washington, DC: Palgrave Macmillan. ISBN 978-1-349-56098-1.
  • Segnit, Niki (2010). The Flavour Thesaurus. London, England: Bloomsbury Publishing. ISBN 978-0-7475-9977-7.
  • Snyder; Olsen, Bradley Foliart; Brindle, Laura Pallas (2008). "From Stone Metates to Steel Mills: The Evolution of Chocolate Manufacturing". Dalam Grivetti, Louis Evan; Shapiro, Howard-Yana (ed.). Chocolate: History, Culture, and Heritage. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc. ISBN 978-0-470-41131-5.
  • Vail, Gabrielle (2008). "Cacao Use in Yucatán Among the Pre-Hispanic Maya". Dalam Grivetti, Louis Evan; Shapiro, Howard-Yana (ed.). Chocolate: History, Culture, and Heritage. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc. ISBN 978-0-470-41131-5.
  • Walker, Timothy (2008). "Establishing Cacao Plantation Culture in the Atlantic World". Dalam Grivetti, Louis Evan; Shapiro, Howard-Yana (ed.). Chocolate: History, Culture, and Heritage. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc. ISBN 978-0-470-41131-5.

Artikel jurnal

  • Dakin, Karen; Wichmann, Søren (2000). "Cacao and Chocolate: A Uto-Aztecan perspective". Ancient Mesoamerica. 11 (1): 55–75. doi:10.1017/S0956536100111058. ISSN 0956-5361. S2CID 162616811. Diakses tanggal 10 January 2018.
  • Dillinger, Teresa L.; Barriga, Patricia; Escárcega, Sylvia; Jimenez, Martha; Lowe, Diana Salazar; Grivetti, Louis E. (2000-08-01). "Food of the Gods: Cure for Humanity? A Cultural History of the Medicinal and Ritual Use of Chocolate". The Journal of Nutrition. 130 (8): 2057S – 2072S. doi:10.1093/jn/130.8.2057S. ISSN 0022-3166. PMID 10917925.
  • Fouet, Olivier; Loor Solórzano, Rey Gastón; Rhoné, Bénédicte; Subía, Cristian; Calderón, Darío; Fernández, Fabián; Sotomayor, Ignacio; Rivallan, Ronan; Colonges, Kelly; Vignes, Hélène; Angamarca, Freddy; Yaguana, Byron; Costet, Pierre; Argout, Xavier; Lanaud, Claire (October 27, 2022). "Collection of native Theobroma cacao L. accessions from the Ecuadorian Amazon highlights a hotspot of cocoa diversity". Plants, People, Planet. 4 (6): 605–617. Bibcode:2022PlPP....4..605F. doi:10.1002/ppp3.10282.
  • Kaufman, Terrence; Justeson, John (2007). "The history of the word for cacao in Ancient Mesoamerica". Ancient Mesoamerica. 18 (2): 193–237. doi:10.1017/S0956536107000211.
  • Lanaud, Claire; Vignes, Hélène; Utge, José; Valette, Gilles; Rhoné, Bénédicte; Garcia Caputi, Mariella; Angarita Nieto, Natalia Sofía; Fouet, Olivier; Gaikwad, Nilesh; Zarrillo, Sonia; Powis, Terry G.; Cyphers, Ann; Valdez, Francisco; Olivera Nunez, S. Quirino; Speller, Camilla (2024-03-07). "A revisited history of cacao domestication in pre-Columbian times revealed by archaeogenomic approaches". Scientific Reports (dalam bahasa Inggris). 14 (1): 2972. Bibcode:2024NatSR..14.2972L. doi:10.1038/s41598-024-53010-6. ISSN 2045-2322. PMC 10920634. PMID 38453955.
  • Mathias, Manon (December 1, 2022). "Chocolate and the French novel: modernity, language, nature". Modern & Contemporary France. 31 (4): 529–544. doi:10.1080/09639489.2022.2134324.
  • Norton, Marcy (April 2004). "Conquests of Chocolate". OAH Magazine of History. 18 (3): 16. doi:10.1093/maghis/18.3.14. JSTOR 25163677.
  • Sampeck, Kathryn E; Thayn, Jonathan (2017). "Translating Tastes: A Cartography of Chocolate Colonialism". Dalam Schwartzkopf, Stacey; Sampeck, Kathryn E (ed.). Substance and Seduction: Ingested Commodities in Early Modern Mesoamerica. University of Texas Press. doi:10.7560/313862-006. ISBN 978-1-4773-1388-6.
  • Swanton, Michael (9 May 2024). "Mesoamerican mantic names as an etymological source of Mixtec vocabulary". Ancient Mesoamerica. 35 (2). Cambridge University Press: 619–644. doi:10.1017/S0956536124000026.
  • Swanton, Michael; de Ávila, Alejandro; van Doesburg, Bas (2010). "Comments on Kaufman and Justeson: "The History of the Word for Cacao in Ancient Mesoamerica"". Ancient Mesoamerica. 21 (2): 415–441. doi:10.1017/S0956536111000186.

Halaman web

  • Martin, Carla D; Sampeck, Kathryn (January 8, 2021). "From Cocoa Farms to Candy Chutes". Anthropology News. Diakses tanggal September 14, 2024.

Bacaan lanjutan

  • Norton, Marcy. Sacred Gifts, Profane Pleasures: A History of Tobacco and Chocolate in the Atlantic World (Cornell UP, 2008)
  • Off, Carol (2008). Bitter Chocolate: The Dark Side of the World's Most Seductive Sweet. The New Press. ISBN 978-1-59558-330-7.
  • Presilla, Maricel (2004). "Chocolate". Dalam Smith, Andrew F (ed.). The Oxford encyclopedia of food and drink in America, Volume 1. New York: Oxford University Press. ISBN 0-19-517551-4.
  • Ryan, Órla (2011). Chocolate Nations: Living and Dying for Cocoa in West Africa. Zed Books. ISBN 978-1-84813-005-0
  • Young, Allen M. (2007). The Chocolate Tree: A Natural History of Cacao (Rev. and expanded ed.). University Press of Florida. ISBN 978-0-8130-3044-9

Pranala luar

  • Media terkait Chocolate di Wikimedia Commons
  • Kutipan tentang Cokelat di Wikikutip
  • Definisi kamus cokelat di Wikikamus
  • Wikisource logo Karya yang berkaitan dengan Portal:Cokelat di Wikisource
  • Panduan perjalanan Cokelat di Wikiwisata
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • GND
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Prancis
  • Data BnF
  • Jepang
  • Republik Ceko
  • Spanyol
  • Israel
Lain-lain
  • NARA
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Etimologi
  2. Sejarah
  3. Jenis-jenis
  4. Cokelat konsumsi
  5. Jenis lainnya
  6. Sejarah
  7. Pengolahan
  8. Biji kakao
  9. Dari inti biji menjadi cokelat
  10. Penyimpanan
  11. Efek kesehatan
  12. Nutrisi
  13. Fitokimia
  14. Logam berat
  15. Kafeina
  16. Teobromina dan oksalat

Artikel Terkait

Kakao

spesies tumbuhan Meksiko

Biji kakao

Biji kakao atau biji cokelat adalah biji buah pohon kakao (Theobroma cacao) yang telah melalui proses fermentasi dan pengeringan dan siap diolah. Biji

Makanan pokok

makanan yang dimakan rutin dan dianggap porsi dominan dari makanan utama

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026