Serangkaian bentrok di negara bagian Rakhine, Myanmar antara para pemberontak Tentara Penyelamat Rohingya Arakan dan pasukan keamanan Myanmar dimulai pada Oktober 2016 dan berlanjut sampai sekarang Minoritas Muslim Rohingya di kawasan tersebut sepanjang masa mengalami penindasan dari mayoritas Buddhis di negara tersebut. Kekerasan terkini dipicu oleh sebuah pertikaian antara keamanan perbatasan Myanmar dan para pemberontak ARSA pada 9 Oktober 2016. Pertikaian antara para pemberontak dan militer berlanjut sampai tahun 2017. 520 kombatan dan lebih dari 1000 warga sipil diperkirakan tewas dalam kekerasan tersebut pada pertengahan 2017. Antara 75,000 dan 90,000 pengungsi lari dari negara tersebut, sementara 23,000 orang lainnya masih menjadi orang terusir secara internal. Setelah serangan Oktober 2016, laporan menyebut beberapa pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pasukan keamanan Burma terhadap warga sipil dalam pertikaian mereka terhadap para terduga pemberontak Rohingya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bentrok Negara Bagian Rakhine Utara 2016–17 | |||
|---|---|---|---|
| Tanggal | 9 Oktober 2016 – sekarang (9 tahun, 6 bulan, 2 minggu dan 1 hari) | ||
| Lokasi | Utara Negara Bagian Rakhine, Perbatasan Myanmar-Bangladesh | ||
| Status | Sedang berlangsung | ||
| Pihak terlibat | |||
| Jumlah korban | |||
| |||
| 520 kombatan tewas secara keseluruhan[1][2] 1,000+ warga sipil tewas[5][6] | |||
Serangkaian bentrok di negara bagian Rakhine, Myanmar antara para pemberontak Tentara Penyelamat Rohingya Arakan (bahasa Inggris: Arakan Rohingya Salvation Army, ARSAcode: en is deprecated ) dan pasukan keamanan Myanmar dimulai pada Oktober 2016 dan berlanjut sampai sekarang Minoritas Muslim Rohingya di kawasan tersebut sepanjang masa mengalami penindasan dari mayoritas Buddhis di negara tersebut. Kekerasan terkini dipicu oleh sebuah pertikaian antara keamanan perbatasan Myanmar dan para pemberontak ARSA pada 9 Oktober 2016. Pertikaian antara para pemberontak dan militer berlanjut sampai tahun 2017. 520 kombatan dan lebih dari 1000 warga sipil diperkirakan tewas dalam kekerasan tersebut pada pertengahan 2017.[1][2][5] Antara 75,000[8] dan 90,000[12] pengungsi lari dari negara tersebut, sementara 23,000 orang lainnya masih menjadi orang terusir secara internal.[7] Setelah serangan Oktober 2016, laporan menyebut beberapa pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pasukan keamanan Burma terhadap warga sipil dalam pertikaian mereka terhadap para terduga pemberontak Rohingya.[13]