Belian Bawo adalah ritual yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Dayak khususnya yang masih menganut agama Kaharingan seperti Suku Dayak Lawangan, Dayak Ma'anyan ,Dayak Meratus, Dayak Benuaq, Dayak Dusun dan suku Dayak lainnya yang bertujuan untuk menyembuhkan penyakit seseorang dengan bantuan roh leluhur, untuk menolak bala, serta membayar hajat. Nama lain dari ritual ini adalah Belian Sentiu, Basangiang atau Nyangiang, dan juga ritual Badewa.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Belian Bawo adalah ritual yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Dayak khususnya yang masih menganut agama Kaharingan seperti Suku Dayak Lawangan, Dayak Ma'anyan ,Dayak Meratus, Dayak Benuaq, Dayak Dusun dan suku Dayak lainnya yang bertujuan untuk menyembuhkan penyakit seseorang dengan bantuan roh leluhur, untuk menolak bala, serta membayar hajat. Nama lain dari ritual ini adalah Belian Sentiu, Basangiang atau Nyangiang, dan juga ritual Badewa.[1] [2]
Ritual Belian Bawo[3] dimulai dari sebuh mitologi Dayak Benuaq. Konon ada sepasang suami istri yang memiliki sikap Pengewoyuq yang artinya cemburuan atau posesif , sehingga mereka memutuskan tinggal menjauh dari masyarakat. Mereka memilih tinggal di hutan yang tidak pernah atau jarang dikunjungi orang, dengan alasan supaya tidak ada seorang pun yang bisa mengganggu hubungan mereka. Hingga pada suatu saat, sang istri terserang penyakit dan akhirnya meninggal. Sudah menjadi kebiasaan kalau orang yang sudah mati dikuburkan. Kala itu ada kelompok makhluk gaib pemakan manusia atau dikenal dengan sebutan uwok. makhluk ini biasanya memakan mayat orang. Sang suami tahu keberadaan makhluk uwok, sehingga ia sengaja mengubur jenazah sang istri di dalam teluk sungai dengan maksud agar tidak bisa genegauuwok (diganggu atau diamakan hantu). Menurut kelaziman, uwok berpantangan dengan air. Setelah menaruh jenazah istrinya, segera ia naik ke atas pohon untuk memantau jenazah sang istri. Tidak lama kemudian datanglah makhluk pemakan mayat, tetapi mereka kesulitan karena jenazah itu ditaruh di dalam teluk sungai.
Maka dipanggillah Kakah Uwok yang artinya kakek hantu atau pemimpin makhluk pemakan manusia. Ketika Kakah Uwok datang, tidak sulit baginya untuk mengangkat peti jenazah (Lungun) dari dalam teluk dengan hanya menunjuk saja ke arah teluk, maka timbullah peti jenazah tersebut. Seketika itu juga mahkluk-makhluk itu berebut hendak memakan jenazah, tetapi hal tersebut dihentikan oleh Kakah Uwok karena baginya mayat tersebut harus dihidupkan terlebih dahulu, kemudian baru mereka memakannya hidup-hidup.
Maka Kakah Uwok menghidupkan kembali jenazah tersebut. Melihat istrinya hidup kembali, sang suami segera turun dan menyerang makhluk uwok untuk merebut istrinya sehingga banyak makhluk "uwok" yang mati. Melihat banyak makhluk uwok yang mati, maka Kakah Uwok mengambil jalan damai kepada sang lelaki pemberani tersebut, dan menyerahkan istrinya yang sudah hidup kembali. Selain itu Kakah Uwok juga memberikan ilmu menghidupkan orang yang sudah mati. Ilmu itulah yang dinamakan Belian Bawo.
Namun ilmu itu hanya berlaku bagi Turu Bungan Lou yang artinya tujuh rumah panjang (rumah adat Dayak). Pada mulanya ritual Belian Bawo dapat untuk menghidupkan orang mati, tapi sekarang Belian Bawo hanya dipergunakan sebagai usaha mendapatkan kesembuhan dari penyakit.
Pada ritual Belian Bawo, pemimpin ritual mengenakan rok yang dihias khusus, berwarna-warni (sempet) dengan pola bunga atau tokoh roh, ikat pinggang bersulam manik, kain kepala, dan menggunakan gelang pada pergelangan tangan yang terbuat dari kuningan berat (getakng), dua atau lebih tiga di masing-masing pergelangan tangan, yang diguncangkan sehingga getakng saling berbenturan menghasilkan suara berderak untuk mengiringi tariannya. Nyanyiannya (tinga) dalam bahasa setempat.
Adapun yang hadir dalam ritual itu adalah relawan yang terlibat sebagai penitik tuukng yang artinya penabuh gendang, memukul tuukng tuhu atau gendang panjang yang digantung dengan tali rotan, bersandar pada sudut, ditabuh dengan keras dan cepat dengan dua rotan atau dua tongkat bambu. Sampai pada satu saat di mana pemimpin ritual masuk (bekawat) maka tabuhan gendang semakin cepat. Ketika pemimpin ritual sedang mencari penyebab penyakit, dalam posisi ini pemimpin ritual sedang senuan yang artinya dimasuki roh-roh. Ritual Belian Bawo lazimnya hanya berlangsung selama satu malam, tetapi bila penyakitnya belum ditemukan dan belum disembuhkan maka dapat dilanjutkan beberapa malam lagi.
Tari Balian Bawo hanya boleh dibawakan oleh laki-laki. Seorang penari Balian berperan sebagai penghubung antara manusia dengan roh leluhur. Untuk menjadi penari, seseorang harus melalui proses tertentu, seperti menguasai mantra, memahami gerakan, serta berkomitmen menjalankan ritual.[4]
Selain penari laki-laki juga terdapat pendamping penari perempuan yang bertugas menyiapkan kebutuhan ritual, seperti perlengkapan dan sesajian.[4]
Untuk irama dan ritme musik ada aturannya tersendiri, jika salah satu memainkan musik dengan tidak tepat maka ritual akan gagal dan si penari akan mengalami kesurupan yang tidak wajar. Jika hal tersebut terjadi, maka musik harus di netralkan kembali atau dibuat kembali seperti biasa.
Tari Belian Bawo ini diiringi dengan alat musik gong (gening) dan lagu Belian Bawo (Kiring Kinco).[5]
Tari belian bawo menggunakan topeng dan kostum-kostum khas suku Dayak. Dalam tradisi Suku Benuaq, busana yang dikenakan memiliki ciri khas tersendiri. Penari tidak mengenakan pakaian atasan, melainkan mencoreng tubuh dengan kapur sirih. Pakaian bawahan yang digunakan berupa kain yang menyerupai rok panjang wanita, tersusun dari potongan kain berwarna-warni yang disusun rapi, semakin ke bawah semakin melebar diameternya.[5]
Pada pergelangan tangan, dikenakan gelang dari besi atau kuningan yang sengaja dibunyikan mengikuti irama musik pengiring, sementara tangan biasanya memegang daun tumbuhan. Kadang-kadang, mereka juga menambahkan gelang kaki yang terbuat dari logam sebagai pelengkap penampilan. Pada bagian kepala penari memakai destar atau topi yang dibuat dari daun muda, biasanya janur atau daun kelapa muda.[5] Pada leher penari, terdapat aksesoris kalung dari taring hewan.[4]
Penari belian bawo turut membawa perlengkapan berupa senjata tradisional seperti mandau, tombak, dan tameng (talabang). Tameng yang digunakan dibuat dari kayu besi atau kayu liat, dihiasi ukiran bermotif pakis yang melambangkan keabadian hidup. Warna merah, kuning, dan putih pada ukiran masing-masing bermakna semangat, keagungan, dan kesucian.[4]
Selain properti tari, sebelum acara dimulai, masyarakat membangun balai dari bambu atau kayu sebagai pusat kegiatan. Balai dihias dengan daun kelapa, dan di tengahnya terdapat tiang lawut longan tempat sesajian, termasuk kepala kerbau yang disembelih sebagai persembahan.[4]
Wajah penari dihias dengan coreng-coreng menggunakan kapur sirih, menyerupai wajah roh halus yang mereka sebut tadi.[5]
Tari Belian Bawo dipentaskan pada berbagai upacara, seperti kematian, tolak bala, pengobatan, maupun pelaksanaan nazar. Khusus pada komunitas Dayak Deah, tari Balian Bawo ditampilkan dalam upacara adat Buntang, yang terbagi menjadi tiga jenis: Buntang Hajat atau nazar, Buntang Memali, dan Buntang Taotn (tahun).[4]