Bebek Peking adalah hidangan tradisional khas Beijing, Tiongkok berupa bebek yang dipanggang dengan teknik khusus sehingga menghasilkan kulit yang kering dan daging yang lembut. Hidangan ini awalnya hanya disajikan untuk kalangan istana sebelum mulai dihidangkan di restoran kelas atas di Beijing.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Bebek Peking (bahasa Mandarin: 北京烤鸭, pinyin: beijing kaoya) adalah hidangan tradisional khas Beijing, Tiongkok berupa bebek yang dipanggang dengan teknik khusus sehingga menghasilkan kulit yang kering dan daging yang lembut.[1] Hidangan ini awalnya hanya disajikan untuk kalangan istana sebelum mulai dihidangkan di restoran kelas atas di Beijing.[2]
Makanan bebek Peking ini juga ditemui di Taiwan, dibawa oleh pemerintahan nasionalis Kuomintang yang kalah perang saudara dan mundur ke Taiwan tahun 1949.
Bebek Peking dibuat menggunakan daging bebek khusus diternakkan untuk makanan ini. Bebek-bebek digemukkan dengan cara memberikan makanan bergizi, pada saat bebek-bebek kekenyangan, peternak-peternak mungkin saja memasukkan makanan ke dalam kerongkongan sang bebek secara paksa. Ini yang kemudian menjadikan bebek Peking juga dikenal dengan nama bebek isi. Bebek tadi disajikan setelah dipanggang dengan kayu-kayu bakar khusus yang akan menambah wangi daging bebek yang dipanggang.[2]
Hidangan bebek panggang ini dapat dilacak sejak era Dinasti Yuan (1271-1368) di mana makanan ini tercatat dalam daftar hidangan kekaisaran yang ditulis oleh Hu Sihui, seorang inspektur dapur kekaisaran, pada 1330. Di era tersebut, hidangan ini hanya disuguhkan untuk kalangan istana dan bangsawan.[2] Hidangan bebek ini hanya disantap oleh kalangan atas dan disajikan pada waktu-waktu tertentu. Hal itu pula yang membuat banyak orang menganggap menu ini spesial. Dalam sastra dan puisi klasik Tiongkok, bebek Peking sempat disebutkan beberapa kali. Misalnya, pada salah satu koleksi puisi Beijing kuno berjudul "Dūmén zhúzhīcí" tercantum sebuah bait: "Isilah piringmu dengan bebek panggang dan babi guling."[2][3]
Konon, bebek panggang berasal dari Hangzhou, tetapi kemudian lebih dikenal di Nanjing. Hidangan ini awalnya dijajakan dalam keadaan matang oleh pedagang kaki lima yang berkeliling.[4] Ketika ibu kota Tiongkok pindah dari Nanjing ke Beijing pada era Kaisar Yongle dari Dinasti Ming (1368-1644), bebek panggang yang awalnya dikenal sebagai 'bebek Jinling' (Jinling nama kuno Nanjing) berubah nama menjadi 'bebek Peking.'[4] Menurut sejarah, restoran yang pertama kali menyajikan bebek Peking untuk publik adalah Bianyifang (lama) (便宜坊) di daerah Hutong yang berdiri pada masa pemerintahan Kaisar Jiajing. Bianyifang menggunakan metode oven tertutup (menlu) untuk mematangkan bagian dalam bebek dengan sempurna.[2][4]
Namun, kepopuleran bebek Peking baru meluas di era Dinasti Qing (1644-1912). Di era Dinasti Qing, bermunculan restoran yang mengkhususkan diri pada menu bebek Peking, di antaranya Quanjude (全聚德) yang berdiri sejak 1864 dan Bianyifang (baru) yang berdiri sejak 1885. Kedua restoran ini menjadi pionir teknik memasak bebek Peking dengan penggunaan oven yang berbeda.[4]
Pada abad ke-20, bebek Peking resmi menjadi hidangan nasional Tiongkok berkat kepopulerannya. Restoran Quanjude di Beijing menjadi saksi sejarah bagaimana pemimpin dunia seperti Fidel Castro, Yasser Arafat, George H.W. Bush, hingga Kim Jong-il menikmati hidangan ini. Bebek Peking juga berperan penting dalam normalisasi hubungan diplomatik Tiongkok dan Amerika Serikat pada awal 1970-an. Zhou Enlai, Perdana Menteri Tiongkok pada masa itu, secara khusus mengundang Henry Kissinger, Penasihat Keamanan Nasional AS untuk makan siang dengan menu utama bebek Peking. Pada 1972, Presiden AS, Richard Nixon, secara personal mengunjungi Tiongkok dan disuguhkan bebek Peking yang menjadi makanan favoritnya selama kunjungan.[5][6]