Pada awal Juli 2013, sebagian besar bagian barat Republik Rakyat Tiongkok dilanda hujan lebat yang mengakibatkan banjir besar. Sichuan mengalami dampak terparah. Sekurang-kurangnya 46 orang tewas dan 166 orang hilang. Diperkirakan 6 juta jiwa terkena dampak banjir ini.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Tanggal | 6 Juli 2013 (2013-07-06) sampai sekarang |
|---|---|
| Lokasi | Sichuan, Yunnan |
| Tewas | 46 tewas, 166 hilang |
Pada awal Juli 2013, sebagian besar bagian barat Republik Rakyat Tiongkok dilanda hujan lebat yang mengakibatkan banjir besar. Sichuan mengalami dampak terparah. Sekurang-kurangnya 46 orang tewas dan 166 orang hilang.[1] Diperkirakan 6 juta jiwa terkena dampak banjir ini.[2]
Dimulai pada akhir pekan, yaitu pada 6 dan 7 Juli, Tiongkok dilanda hujan deras yang mengguyur setidaknya 20 provinsi dan mengancam 6 juta orang.[2] Provinsi-provinsi barat daya terkena dampak paling parah, mengalami bencana yang disebut-sebut sebagai hujan paling lebat dalam kurun setengah abad. Di Dujiangyan, Sichuan 37 inci (94 cm) hujan turun selama 8-9 Juli, curah hujan terbesar sejak pencatatan dimulai pada 1954.[1] Hujan ini menyebabkan banjir bandang yang menghancurkan jembatan dan rumah-rumah, serta tugu peringatan bagi korban gempa bumi Sichuan 2008. Hujan juga memicu tanah longsor yang mengubur beberapa puluh orang.[3]
Daerah pegunungan Sichuan menderita kerusakan terberat. Qushan, bekas ibu kota kabupaten Beichuan yang ditinggalkan penduduknya setelah gempa 2008, tenggelam dalam air sedalam 23 kaki (7,0 m). Area ini telah dijadikan sebagai situs peringatan atas korban gempa dan tempat bagi Museum Gempa Beichuan. Pada tanggal 9 Juli, sebuah jembatan yang melintasi Sungai Tongkou roboh, menjatuhkan enam mobil ke perairan yang bergejolak. Setidaknya dua belas orang hilang sebagai akibatnya dan diperkirakan tewas.[3] Jembatan ini baru bisa dilalui beberapa hari sebelumnya setelah menjalani perbaikan karena kerusakan yang diakibatkan oleh gempa. Banjir di daerah ini diukur sebesar 6.600 meter kubik per detik, laju aliran tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1954.[2][4] Dua jembatan lainnya ambruk di Sichuan, tanpa memakan korban.[2]
Di Dujiangyan City, Sichuan, tanah longsor mengubur 11 rumah dan beberapa pondok liburan pada 10 Juli.[1][3] 18 orang tewas karena dihantam longsor yang menutupi area seluas 2 kilometer persegi (0,77 sq mi), dan 117 orang dilaporkan hilang pada 11 Juli.[1][4] Kabel-kabel telepon terputus, jadi korban yang selamat harus berjalan menuju kantor pemerintah terdekat untuk meminta bantuan.[1] Belakangan pada 10 Juli, tanah longsor kembali memerangkap sekitar dua ribu orang di sebuah terowongan antara Dujiangyan dan Wenchuan. Para korban dievakuasi pada sore harinya.[2] Di Aba, tiga orang tewas dan 12 orang lain hilang setelah tertimbun lumpur di daerah tersebut.[1]
Di Sichuan, lebih dari 220.000 orang dievakuasi akibat badai dan sekitar 300 rumah hancur oleh banjir[1][5] Pada 11 Juli ada 31 orang dikonfirmasi tewas di Sichuan dan 166 orang hilang.[1]
Di Suijiang, Yunnan, empat orang tewas karena banjir tersebut.[2] Sebuah badai memusnahkan 5,280 rumah di provinsi tersebut dan memaksa pemerintah menutup sekolah-sekolah di pedesaan.[5] Di Shouyang, Shanxi, dua belas buruh terbunuh saat sebuah bangunan tambang yang belum selesai dibangun runtuh pada 9 Juli.[2][3] Di luar Beijing, tiga orang tenggelam dalam sebuah mobil. Korban jiwa juga dikabarkan jatuh di perkotaan, di Inner Mongolia, dan di Gansu.[1]
Pada 11 Juli, badai telah membunuh total 46 orang, menurut data resmi, dengan ratusan lain dilaporkan hilang.[1] Laporan selanjutnya menyatakan bahwa 60 orang hilang di Sichuan.[4] Badai selanjutnya diperkirakan akan datang melanda pada 11 Juli.[2]