Arya Aditya Ramadhya atau yang lebih dikenal dengan panggilan Lale adalah seorang gitaris dan musikus asal Indonesia. Dia dikenal sebagai salah satu anggota dari grup musik Maliq & D'Essentials. Lale juga tergabung dengan grup pencipta lagu dan produser musik Laleilmanino.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|
| Arya Aditya Ramadhya | |
|---|---|
| Lahir | Arya Aditya Ramadhya 29 April 1987 Jakarta, Indonesia |
| Nama lain | Lale |
| Pekerjaan | Gitaris, Pencipta lagu, Komposer, Produser musik, Pengusaha |
| Tahun aktif | 2002–sekarang |
| Suami/istri | Fikha Effendi |
| Situs web | www |
Arya Aditya Ramadhya atau yang lebih dikenal dengan panggilan Lale (lahir 29 April 1987) adalah seorang gitaris dan musikus asal Indonesia. Dia dikenal sebagai salah satu anggota dari grup musik Maliq & D'Essentials. Lale juga tergabung dengan grup pencipta lagu dan produser musik Laleilmanino.[1][2]
Ketertarikan dan bakat bermusik Lale dimulai sejak dini. Dia mulai mempelajari piano klasik saat masih duduk di bangku kelas 4 SD sewaktu dia masih tinggal di Semarang. Namun Lale akhirnya lebih memilih untuk fokus mempelajari gitar karena setiap dia bertemu dengan kakeknya, sang kakek selalu bermain gitar untuk Lale. Di kelas 5 SD Lale pindah ke Jakarta dan dia mulai ikut les musik gitar klasik di Yamaha, tetapi itu tidak berlangsung lama. Lale lebih memilih untuk belajar sendiri secara otodidak dan mulai membentuk band saat duduk di bangku kelas 2 SMP.[1]
Sewaktu SMA Lale pindah ke Makassar, disana dia membentuk sebuah band dan sering bermain di beberapa cafe. Pada saat kelas 2 SMA Lale kembali pindah ke Jakarta. Disaat inilah dia mendapat nama panggilan Lale, karena sewaktu teman-teman barunya di Jakarta bertanya-tanya apa saja bahasa Makassar, ‘lale’ adalah salah satunya. Semenjak itulah dia memakai nama panggilan itu hingga saat ini. Di sekolah barunya Lale membentuk sebuah band dengan nama Smosyu dan sering mengikuti berbagai kompetisi musik.
Disaat Lale memasuki jenjang kuliah di Bina Nusantara International University, dia bertemu dengan Astono Andoko (Asta) yang saat ini tergabung dengan grup musik RAN. Lale pun bergabung dengan band Asta yaitu FRD. FRD adalah cikal bakal dari grup musik RAN. Lale ikut mengisi gitar di album pertama RAN, ‘For Your Life’. Solo gitar di akhir lagu ‘Pandangan Pertama’ adalah hasil buah tangan Lale. Tidak lama dari itu di tahun 2006 Lale keluar dari RAN dan bergabung dengan grup musik thrash metal, MARCH. Bersama MARCH Lale sempat merilis 2 album, POLYMATH (2010) dan Reconcile (2018).
Di waktu yang sama Lale juga sering menjadi session gitaris untuk berbagai talent musik, salah satunya JFlow dan lain-lain.
Pada tahun 2007 akhir Lale berkenalan dengan grup band Maliq & D’Essentials, grup musik yang beraliran musik soul, funk, pop, genre yang sangat jauh berbeda dengan MARCH. Perkenalan itu membuahkan hasil dimana akhirnya dia bergabung secara resmi dengan Maliq & D’Essentials di bulan Januari tahun 2008. Lale menggantikan gitaris sebelumnya, Satrio, yang kini tergabung dengan grup musik Alexa. Dengan referensi genre yang jauh berbeda, Lale memberi warna baru bagi Maliq & D'Essentials. Hal ini membuat lingkup musik dari Maliq & D'Essentials semakin luas.[3][1]
Bersama Maliq & D'Essentials Lale sudah merilis tujuh album, Mata Hati Telinga (2009), The Beginning Of A Beautiful Life (2010), Sriwedari (2013), Musik Pop (2014), Senandung Senandika (2017), Raya (2020) dan Can Machines Fall in Love (2024). Bersama Maliq & D’Essentials Lale juga turut berkontribusi di tujuh album kompilasi, LCLM "Lomba Cipta Lagu Muslim" (2008), A Tribute To KLa Project (2011), Radio Killed the TV Star (2012), Fariz RM & Dian PP In Collaboration With (2014), Pop Hari Ini (2016), 25 Tahun Mcdonald’s Indonesia (2017), dan Detik Waktu: Perjalanan Karya Cipta Candra Darusman (2018).
Pada tahun 2009, Lale bersama rekan-rekannya di Maliq & D'Essentials mendirikan Organic Records, sebuah indie record label yang bermarkas di Bintaro. Adapun artis yang sempat berada di bawah naungan Organic Records antara lain Twentyfirst Night, Soulvibe, Rock n'Roll Mafia, Sir Dandy dan The Upstairs.
Pada tahun 2017 Lale bersama Maliq & D’Essentials mendirikan Pop Hari Ini, sebuah media online yang membahas lengkap musik lokal. Pop Hari Ini bisa dibilang sebagai salah satu wadah dari kultur pop Indonesia di era digital saat ini.
Di tahun 2023 Maliq & D’Essentials dan Lale mendirikan MAD HAUS, yang merupakan rumah dan juga menjadi perusahaan holding untuk berbagai perusahaan yang mereka jalankan.[4]
Lale memulai karier sebagai produser pada tahun 2014 bersama Ilman (Maliq & D'Essentials) dan Nino (RAN). Mereka menamakan kolaborasi antara mereka bertiga dengan nama mereka sendiri, Laleilmanino. Adapun beberapa artis yg pernah mereka produseri antara lain Tiara Andini, Lyodra Ginting, Ziva Magnolya, Salma Salsabil, JKT48, Diskoria, Angel Pieters, Vidi Aldiano, HIVI!, Armand Maulana, Bilal Indrajaya, Ruth Sahanaya, Krisdayanti, Rio Febrian, Marion Jola, Bastian Bintang Simbolon (ex Coboy Junior) dan banyak lainnya.[1]
Pada tahun 2016 lagu ciptaan laleilmanino untuk Armand Maulana yang berjudul "Hanya Engkau Yang Bisa", berhasil meraih piala Anugerah Musik Indonesia 2016 untuk kategori Artis Solo Terbaik Soul/RnB/Urban. Lagu itu juga mendapatkan nominasi Artis Lelaki Terbaik di ajang Anugerah Planet Muzik 2016.
Bersama Laleilmanino, Lale memproduseri dan menciptakan semua lagu di album ketiga Vidi Aldiano, Persona. Di album ketiga nya ini, Vidi berkolaborasi dengan beberapa musisi tanah air seperti Andien, Be3 dan musisi senior, Candra Darusman. Album Persona berhasil meraih penjualan triple platinum.
Laleilmanino juga adalah produser untuk album kedua HiVi!, "Kereta Kencan". Mereka turut menciptakan hampir semua lagu di album yang rilis di awal tahun 2017 itu.
Dari banyaknya karya Laleilmanino ciptakan, beberapa lagu yang sangat sukses adalah ‘Remaja’, ‘Pelangi’ dan ‘Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi’ yang dipopulerkan oleh HIVI!. ‘C.H.R.I.S.Y.E’, ‘Badai Telah Berlalu’ dan ‘Serenata Jiwa Lara’ yang dipopulerkan oleh Diskoria. ‘Rayu’, ‘Tak Ingin Pisah Lagi’ dan ‘Jangan’ yang dipopulerkan oleh Marion Jola. Dan masih banyak lagi. Sampai saat ini Lale bersama Laleilmanino telah menciptakan lebih dari 170 lagu dan memproduseri 4 album penuh.
Pada tahun 2021 Laleilmanino turut andil dalam serial dokumenter ‘Svara: Perjalanan Makna Dibalik Nada’ yang dimana mereka berkeliling ke beberapa daerah di Indonesia untuk membedah musik tradisional. Dari setiap daerah yang mereka datangi ini mereka membuat sebuah lagu. Total ada empat buah lagu yang dirilis dengan empat penyanyi berbeda, HIVI!, Rizky Febian, Diskoria dan Baila Fauri. Lagu paling ikonik yang tercipta dari serial dokumenter ini adalah ‘Djakarta’.[3]
Laleilmanino di tahun 2023 membuat sebuah film pendek ‘Rapsodi: Fragments of Happiness’ dengan mengandeng Aco Tenriyageli sebagai sutradara. Film ini dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo, Rachel Amanda, Yoriko Angeline hingga Dustin Tiffani. Lagu tema yang menjadi elemen penting dari film ini adalah ‘Rapsodi’, yang diciptakan oleh Laleilmanino pada tahun 2020 dan dipopulerkan oleh JKT48.
Di tahun 2025, dalam rangka merayakan tahun ke-11 berkarya, Lale bersama Laleilmanino menggelar konser pertama mereka di Istora Senayan. Laleilmanino membawakan 32 lagu dengan menggaet 18 kolaborator yang pernah terlibat dalam banyak karya mereka selama ini. Konser ini diberi tajuk ‘Laleilmanino & Friends: Live in Concert’. Konser ini sukses dihadiri oleh lebih dari 6000 penonton dan pecinta karya Laleilmanino.[5]
Pada 11 Mei 2017, Lale mempersunting Fikha Effendi, seorang aktris pemeran film asal Indonesia.[6]
Single
Album / EP
Theme Song Produk / Jingle
Album
Jingle, TVC dan Iklan
Album