Abuya KH. Muhammad Dimyathi bin Syeikh Muhammad Amin Al-Bantani , atau yang lebih dikenal dengan Abuya Dimyathi adalah seorang ulama asal Banten. Dia merupakan ayah dari Abuya KH. Ahmad Muhtadi Dimyathi. Dia juga merupakan guru dari Abuya KH. Uci Turthusi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Abuya | |
|---|---|
| Nama | Muhammad Dimyathi |
| Nasab | bin Muhammad Amin |
| Nisbah | Al-Bantani |
| Lahir | Muhammad Dimyathi 7 Februari 1926 Kalahang, Cadasari, Pandeglang, Banten, Hindia Belanda |
| Meninggal | 3 Oktober 2003(2003-10-03) (umur 77) Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten, Indonesia |
| Nama lain | Abuya Dimyathi Cidahu Abuya Dimyathi Cadasari Mbah Dim |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Etnis | Sunda Banten |
| Pekerjaan | Ulama, Mursyid Thoriqoh Syadziliyyah |
| Denominasi | Sunni |
| Mazhab Fikih | Syafi'i |
| Murid dari | Abuya Abdul Halim Abuya Muqri Abdul Hamid Mama Bakri Sempur Mbah Dalhar Mbah Nawawi Jejeran Jogja Mbah Khozin Bendo Pare Mbah Baidlowi Lasem Mbah Ruqyat Kaliwungu dan lain-lainnya. |
Mempengaruhi
| |
| Istri | Hj. Asmah (Istri Pertama) Hj. Dallalah (Istri Kedua) |
| Keturunan | Ahmad Muhtadi (Abah Muh)
Muhammad Murtadho (Abah Mur) Abdul Aziz Fakhruddin (Abah Ade) Ahmad Muntaqo (Abah Mun) Ahmad Muqotil (Abah Aceng) Ahmad Mujtaba (Abah Taba) |
| Orang tua | KH. Muhammad Amin (ayah) Hj. Ruqoyyah (ibu) |
Abuya KH. Muhammad Dimyathi bin Syeikh Muhammad Amin Al-Bantani (bahasa Arab: أبويا كياهى الحاج محمد دمياطى بن الشيخ محمد أمين البنتنيcode: ar is deprecated ), atau yang lebih dikenal dengan Abuya Dimyathi (7 Februari 1926 – 3 Oktober 2003) adalah seorang ulama asal Banten.[1] Dia merupakan ayah dari Abuya KH. Ahmad Muhtadi Dimyathi (أبويا كياهى الحاج أحمد مهتدى دمياطى).[2] Dia (Abuya Dimyathi) juga merupakan guru dari Abuya KH. Uci Turthusi (Cilongok - Pasar Kemis - Tangerang).
Abuya Dimyathi lahir di Banten. Dia merupakan putra dari pasangan KH. Muhammad Amin dan Hj. Ruqayyah.[3]
Sejak kecil Abuya Dimyathi sudah menampakan kecerdasan dan keshalihannya. Dia belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya, menjelajah tanah Jawa hingga ke pulau Lombok untuk menuntut ilmu.
Abuya Dimyathi menikah dengan Hj. Asma. Buah hati dari pernikahannya, Dia dikaruniai beberapa anak. Di antaranya Abuya Ahmad Muhtadi.[4]
Abuya Dimyathi merintis pesantren di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten sekitar tahun 1965, dan telah banyak melahirkan ulama-ulama ternama seperti Habib Hasan bin Ja'far Assegaf yang sekarang memimpin Majelis Nurul Musthofa di Jakarta dan (alm) Abuya Uci Turtusi yang memimpin Pondok Pesantren Al-Istiqlaliyah di Cilongok Sukamantri, Pasar Kemis, Tangerang yang wafat pada tahun 2021.
Dalam perilaku sehari-hari dia tampak tawadhu, zuhud dan ikhlas. Banyak dari beberapa pihak maupun wartawan yang coba untuk memublikasikan kegiatannya dipesantren selalu ditolak dengan halus oleh Abuya Dimyathi, begitu pun ketika dia diberi sumbangan oleh para pejabat selalu ditolak dan dikembalikan sumbangan tersebut. Hal ini pernah menimpa Siti Hardijanti Rukmana yang memberi sumbangan sebesar 1 miliar. Namun, oleh Abuya Dimyathi ditolak.
Bab atau bagian ini sebagian besar atau seluruhnya berasal dari satu sumber. (Desember 2022) |
Abuya Dimyathi dikenal sebagai salah satu orang yang sangat teguh pendiriannya.[5] Sampai-sampai karena keteguhannya ini,[yang mana?][kenetralan diragukan] Ia pernah dipenjara pada zaman Orde Baru. Pada tahun 1977 Abuya Dimyathi sempat difitnah dan dimasukkan ke dalam penjara.[5] Hal ini disebabkan Abuya Dimyathi sangat berbeda prinsip[yang mana?][diragukan ] dengan pemerintah ketika terjadi pemilu pada tahun tersebut. Abuya Dimyathi dituduh menghasut dan anti pemerintah. Abuya Dimyathi pun dijatuhi vonis selama 6 bulan. Namun 4 bulan kemudian dia keluar dari penjara.[5]
Beberapa kitab yang dikarang oleh Abuya Dimyathi. Di antaranya adalah:[6]
Abuya Dimyathi meninggal dunia pada 3 Oktober 2003 pukul 03.00 wib di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten.[7]