Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Abu an-Nasr dari Banten

Sultan Abu Nashar Abdul Qahar atau Sayyidi Syeikh Maulana Mansyuruddin R.A., lebih dikenal dengan sebutan Sultan Haji atau warga Banten akrab memanggilnya Syeikh Buyut Mansyuruddin merupakan seorang sultan Banten, yang berkuasa di Banten dalam rentang waktu antara tahun 1683 sampai 1687. Sultan Haji dikenal sebagai sultan yang pro terhadap aktivitas kolonial Belanda.

Sultan Banten ketujuh
Diperbarui 12 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Sultan Abu Nashar Abdul Qahar atau Sayyidi Syeikh Maulana Mansyuruddin R.A., lebih dikenal dengan sebutan Sultan Haji atau warga Banten akrab memanggilnya Syeikh Buyut Mansyuruddin merupakan seorang sultan Banten, yang berkuasa di Banten dalam rentang waktu antara tahun 1683 sampai 1687. Sultan Haji dikenal sebagai sultan yang pro terhadap aktivitas kolonial Belanda.

Biografi

Sultan Haji merupakan salah seorang putra dari Sultan Abu al-Fath Abdul Fattah atau Sultan Ageng Tirtayasa. Ia naik takhta menggantikan ayahnya setelah terjadi konflik di antara mereka berdua dan mengakibatkan perang saudara di Banten, di mana pihak Sultan Haji mendapat bantuan tentara dan persenjataan dari VOC atau Kompeni.

Sultan Haji juga sempat mengirimkan 2 orang utusannya, untuk menemui Raja Inggris saat itu yaitu Charles II di London tahun 1682 untuk mendapatkan dukungan serta bantuan persenjataan.[1]

Perjanjian Sultan Haji dengan Belanda

Sejarawan Untoro (2007) menyebutkan, sejak ditandatanganinya perjanjian antara Kesultanan Banten dengan Belanda pada tanggal 17 April 1684, praktis kekuasaan Kesultanan Banten dianggap runtuh. Perjanjian yang ditandatangani di Keraton Surasowan ini dibuat dalam versi Bahasa Belanda, Jawa dan Melayu. Penandatanganan dari pihak Kompeni dilakukan oleh komandan dan presiden komisaris Kapten François Tack, Kapten Herman Dirkse Wendepoel, Evenhart van der Schuere serta seorang kapten bangsa Melayu, Wan Abdul Kahar, sedangkan dari pihak Banten dilakukan oleh Sultan Haji, Pangeran Dipaningrat, Kyai Suko Tadjudin, Pangeran Natanegara, dan Pangeran Natawijaya. Semenjak perjanjian tersebut berlaku, Kompeni secara aktif menentukan berjalannya monopoli perdagangan di Banten.[2]

Rujukan

  1. ↑ Titik Pudjiastuti, (2007), Perang, dagang, persahabatan: surat-surat Sultan Banten, Yayasan Obor Indonesia, ISBN 979-461-650-8
  2. ↑ Tjandrasasmita, (1967), Sultan Ageng Tirtajasa: Musuh Besar Kompeni Belanda, hal.54
Didahului oleh:
Sultan Ageng Tirtayasa
Sultan Banten
1683-1687
Diteruskan oleh:
Sultan Abu al-Fadhl Muhammad Yahya


Artikel bertopik biografi Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Biografi
  2. Perjanjian Sultan Haji dengan Belanda
  3. Rujukan

Artikel Terkait

Kesultanan Banten

kesultanan yang berlokasi di Jawa barat laut, yang berfungsi sebagai salah satu pusat perdagangan rempah-rempah modern awal

Banten

provinsi di Pulau Jawa, Indonesia

Kesultanan Cirebon

kerajaan di Asia Tenggara

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026