Menjaga work-life balance sering terasa seperti hal mewah di tengah ritme hidup yang serba cepat. Tuntutan pekerjaan, tekanan finansial, hingga ekspek...
Source: View Original Article
Menjaga work-life balance sering terasa seperti hal mewah di tengah ritme hidup yang serba cepat. Tuntutan pekerjaan, tekanan finansial, hingga ekspektasi sosial sering kali membuat batas antara kehidupan pribadi dan profesional jadi kabur. Padahal, keseimbangan ini merupakan kebutuhan penting untuk menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup.
Beruntungnya, ada satu negara yang telah lama dikenal memiliki standar kebahagiaan dan work-life balance terbaik di dunia melalui filosofi yang sangat membumi, yaitu Swedia. Melansir Your Tango, berikut 6 kebiasaan harian masyarakat Swedia yang bisa langsung kamu sontek untuk mendapatkan hari-hari yang lebih berkualitas dan bermakna.
Di Swedia, hidup tidak diukur dari seberapa cepat kamu bergerak, tapi seberapa seimbang kamu menjalani hari. Filosofi Lagom yang berarti secukupnya menjadi dasar dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Konsep ini membantu menjaga work-life balance karena menghindarkan kamu dari kebiasaan overworking atau terlalu memaksakan diri.
Masyarakat Swedia selalu menikmati alam untuk menjaga work-life balance. Swedia punya aturan unik bernama Allemansrätten atau hak untuk berkeliaran di alam, yang memperbolehkan siapa pun menikmati hutan, gunung, atau danau asalkan tetap menjaga kelestariannya. Hal ini menjadi pelarian yang sangat efektif untuk melepaskan penat setelah seharian berurusan dengan layar komputer dan tenggat waktu yang padat.
Gaya hidup minimalis di Swedia merupakan bagian dari filosofi Lagom. Memiliki barang secukupnya membantu mengurangi distraksi dan tekanan sosial, sehingga lebih mudah mencapai work-life balance. Hidup jadi lebih ringan karena tidak dibebani oleh hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Masyarakat Swedia dikenal cukup baik dalam menjaga energi emosional. Budaya di sana cenderung menghindari konflik yang tidak perlu, serta lebih memilih komunikasi yang tenang dan rasional, yang masih sejalan dengan prinsip Lagom. Mengurangi drama berarti kamu tidak menghabiskan waktu dan energi untuk hal yang tidak produktif.
Masyarakat Swedia selalu bijak dalam berbelanja. Kebiasaan berbelanja masyarakat Swedia sangat dipengaruhi oleh pemikiran jangka panjang dan fungsionalitas produk yang dibeli. Alih-alih mengikuti tren sesaat yang cepat berganti, masyarakat Swedia menjatuhkan pilihan pada barang-barang berkualitas tinggi yang tahan lama dan memiliki dampak lingkungan yang minim.
Keseimbangan dalam hidup juga tercermin dari hubungan sosial. Masyarakat Swedia percaya bahwa memberi dan menerima harus berjalan seimbang, baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Ini penting untuk menjaga work-life balance agar tidak merasa terbebani atau dimanfaatkan.
Dari kebiasaan kecil seperti tidak terburu-buru hingga lebih mindful dalam mengambil keputusan, kamu bisa mulai menciptakan hidup yang seimbang dari langkah yang sederhana. Jadi, cara mana yang paling ingin kamu coba dulu?
Baca juga:
- Hustle Culture dan Work-Life Balance, Mana yang Lebih Worth It untuk Gen Z?
- Mengenal Fenomena Task Masking di Kalangan Gen Z dan Cara Mengatasinya
- Idaman Kaum Pekerja, Simak 5 Tanda Kamu Sudah Mencapai Work Life Balance
HaiBunda bekerja sama dengan rumah sakit terbesar di Indonesia untuk memberikan manfaat besar bagi para Bunda dan keluarga. Kerja sama ini memungkinka...
4 Ciri Khas Orang yang Lebih Memilih Membaca Buku Fisik Daripada Digital Setiap pembaca memiliki cara membaca favoritnya sendiri, ada yang lebih suka ...
Jurusan kuliah masih memainkan peran penting dalam menentukan peluang kerja. Banyak calon mahasiswa yang mempertimbangkan faktor apakah jurusan terseb...