Jakarta Aktual – 25 Juli 2026 | Pakar: Iran tak sekadar membalas, tapi ingin singkirkan dominasi pangkalan militer AS di Timteng, hal ini menjadi perhatian utama dalam konflik AS-Iran yang terus memanas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa seluruh kerusakan yang dialami kapal, kargo, maupun aset lain di Selat Hormuz akan dibayar menggunakan dana Iran yang dibekukan dan berada di bawah kendali pemerintah AS.
Menurut Trump, kebijakan tersebut berlaku mulai sekarang hingga pemberitahuan lebih lanjut. Namun, Trump belum menjelaskan aset Iran mana yang akan digunakan maupun mekanisme penyaluran kompensasi kepada pihak yang mengalami kerugian. Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah memicu gangguan terhadap jalur pelayaran internasional.
Pakar: Iran tak sekadar membalas, tapi ingin singkirkan dominasi pangkalan militer AS di Timteng, ini membuktikan bahwa Iran memiliki agenda yang lebih besar daripada sekadar membalas serangan Washington. Dosen International Institute for Islamic Studies, Qasem Muhammadi, menilai bahwa Iran kini memiliki agenda yang lebih besar daripada sekadar membalas serangan Washington.
Menurut Qasem, langkah pertama yang ditempuh Iran adalah menjalankan strategi “debasification”, yakni menghapus eksistensi pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah. Debasification artinya penghapusan keberadaan pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di kawasan ini. Qasem menilai, sejumlah pangkalan Amerika kini sudah mengalami kerusakan berat atau setidaknya tidak lagi dapat beroperasi secara optimal akibat rentetan serangan.
Pakar: Iran tak sekadar membalas, tapi ingin singkirkan dominasi pangkalan militer AS di Timteng, hal ini juga tercermin dari strategi Iran untuk menekan Washington agar menghentikan serangan. Iran juga mengubah kebijakan atas Selat Hormuz dan menyatakan kesiapan menghadapi perang jangka panjang hingga 10 tahun. Strategi tekanan Iran mencakup ekonomi lewat lonjakan harga energi, korban militer AS, serta dukungan sekutu regional untuk memperbesar biaya politik dan militer Washington.
Pakar: Iran tak sekadar membalas, tapi ingin singkirkan dominasi pangkalan militer AS di Timteng, ini menunjukkan bahwa Iran memiliki strategi yang lebih luas dalam menghadapi konflik dengan AS. Iran juga menargetkan serangan ke negara-negara tetangganya, seperti Kuwait dan Bahrain, sebagai bentuk balasan atas serangan AS. Menurut analis, terdapat sebuah alasan logis di balik strategi Iran ini.
Kesimpulan dari konflik AS-Iran ini adalah bahwa Pakar: Iran tak sekadar membalas, tapi ingin singkirkan dominasi pangkalan militer AS di Timteng, ini membuktikan bahwa Iran memiliki agenda yang lebih besar daripada sekadar membalas serangan Washington. Iran juga memiliki strategi yang lebih luas dalam menghadapi konflik dengan AS, termasuk mengubah kebijakan atas Selat Hormuz dan menyatakan kesiapan menghadapi perang jangka panjang hingga 10 tahun.