Jakarta Aktual – 23 Juli 2026 | Menlu Iran Aragchi cerita detik-detik hampir terbunuh bersama Khamenei saat dibom AS merupakan salah satu momen paling menegangkan dalam sejarah konflik Iran-AS. Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, menceritakan bagaimana ia diselamatkan dari reruntuhan kompleks kepemimpinan setelah serangan udara AS-Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi negara itu, Ali Khamenei.
Araghchi sedang melapor ke wakil kepala staf Khamenei ketika gedung diguncang bom. Ia menceritakan bahwa Israel dan AS memiliki informasi intelijen yang akurat tentang lokasi Khamenei dan pejabat lainnya, yang memungkinkan mereka untuk menargetkan kepemimpinan senior Iran.
Menlu Iran Aragchi cerita detik-detik hampir terbunuh bersama Khamenei saat dibom AS juga membahas tentang pengangkatan putra Khamenei, Mojtaba, sebagai pemimpin baru tertinggi negara itu. Araghchi mengatakan bahwa pengangkatannya mengirimkan pesan sangat penting kepada dunia bahwa tidak akan ada perubahan dalam kebijakan dan cita-cita rezim Iran.
Menlu Iran Aragchi cerita detik-detik hampir terbunuh bersama Khamenei saat dibom AS menunjukkan bahwa konflik Iran-AS masih sangat panas. Araghchi juga mengaku belum bertemu dengan pemimpin baru tertinggi negara itu, Mojtaba. Namun, ia mengatakan bahwa negosiasi dengan AS awal tahun ini diperlukan, meskipun hanya ada peluang keberhasilan 10%.
Menlu Iran Aragchi cerita detik-detik hampir terbunuh bersama Khamenei saat dibom AS merupakan contoh nyata betapa kompleksnya situasi di Timur Tengah. Dalam konteks ini, pembentukan Lembaga Universitas Republik Indonesia dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam mencetak calon-calon pemimpin bangsa. Lembaga ini akan menjadi sekolah bagi calon pejabat dan mengadopsi model lembaga pendidikan kepemimpinan yang diterapkan di sejumlah negara, seperti Prancis yang memiliki École nationale d’administration (ENA), yang kini telah berubah menjadi Institut National du Service Public (INSP).
Kesimpulan dari Menlu Iran Aragchi cerita detik-detik hampir terbunuh bersama Khamenei saat dibom AS adalah bahwa konflik Iran-AS masih sangat panas dan kompleks. Namun, dengan adanya lembaga pendidikan kepemimpinan seperti Lembaga Universitas Republik Indonesia, diharapkan dapat mencetak calon-calon pemimpin bangsa yang lebih baik dan bijak dalam menghadapi konflik-konflik internasional.