Jakarta Aktual – 17 Juli 2026 | Pinjaman baru China tembus Rp 28.600 triliun pada semester I 2026, menandakan peningkatan yang signifikan dalam penyaluran kredit di negara tersebut. Data yang dirilis oleh Bank Rakyat China (People’s Bank of China/PBOC) menunjukkan bahwa total pinjaman yuan yang masih beredar hingga akhir Juni mencapai 282,63 triliun yuan atau sekitar Rp 753.900 triliun. Nilai tersebut meningkat 5,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penyaluran pinjaman baru dalam mata uang yuan di China mencapai 10,72 triliun yuan sepanjang semester pertama 2026 atau setara sekitar Rp 28.600 triliun. Ini merupakan bukti bahwa kebijakan moneter China masih akomodatif, terutama dalam upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Selain kredit, jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) juga terus meningkat. Pada akhir Juni 2026, M2 tercatat mencapai 356,71 triliun yuan atau sekitar Rp 951.000 triliun, naik 8 persen secara tahunan. M2 mencakup uang kartal yang beredar serta seluruh simpanan masyarakat di perbankan, sehingga sering digunakan sebagai indikator tingkat likuiditas dalam perekonomian.
Jumlah uang beredar dalam arti sempit (M1) mencapai 118,48 triliun yuan atau setara sekitar Rp 315.800 triliun, meningkat 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. M1 meliputi uang tunai yang beredar, simpanan giro, serta dana cadangan milik nasabah pada lembaga pembayaran nonbank.
Peningkatan penyaluran kredit dan pertumbuhan jumlah uang beredar mencerminkan kebijakan moneter yang masih akomodatif di tengah upaya Beijing menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah China terus mendorong perbankan meningkatkan penyaluran kredit guna menopang investasi, konsumsi, serta membantu sektor properti dan pemerintah daerah yang masih menghadapi tekanan akibat perlambatan ekonomi.
Pinjaman baru China tembus Rp 28.600 triliun pada semester I 2026, menunjukkan bahwa strategi besar di balik lonjakan penyaluran pinjaman dan meningkatnya jumlah uang beredar sedang dijalankan Bank Rakyat China (People’s Bank of China/PBOC). Bank sentral tersebut berupaya memastikan likuiditas tetap melimpah agar aktivitas ekonomi tidak kehilangan momentum di tengah berbagai tantangan, mulai dari lemahnya konsumsi rumah tangga hingga perlambatan investasi sektor swasta.
Pinjaman baru China tembus Rp 28.600 triliun pada semester I 2026, dan ini merupakan bukti bahwa kebijakan moneter China masih fokus pada peningkatan penyaluran kredit untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Melalui peningkatan penyaluran kredit, PBOC berharap biaya pinjaman bagi dunia usaha dan masyarakat menjadi lebih murah, sehingga perusahaan dapat melakukan ekspansi dan membuka lapangan pekerjaan, serta rumah tangga lebih terdorong untuk melakukan konsumsi.
Pinjaman baru China tembus Rp 28.600 triliun pada semester I 2026, menandakan bahwa China masih berkomitmen untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global. Dengan kebijakan moneter yang akomodatif, China berupaya untuk memastikan bahwa ekonominya tetap kompetitif dan dapat menghadapi berbagai tantangan yang muncul.