Jakarta Aktual – 05 Juli 2026 | Viral petisi boikot Sarwendah, belasan ribu orang ikut tanda tangan, dinilai tak pantas jadi panutan, menjadi sorotan publik setelah muncul petisi online yang berisi seruan aksi cancel terhadap mantan istri Ruben Onsu tersebut. Petisi tersebut dibuat melalui platform online dengan judul “Cancel Sarwendah Dari Media Sosial” dan telah ditandatangani oleh lebih dari 57 ribu orang.
Hal ini bermula dari perseteruan antara Ruben Onsu dan Sarwendah yang semakin melebar, di mana Sarwendah menjadi sasaran hujatan dari sejumlah netizen. Tak hanya komentar pedas, kini muncul pula petisi daring yang menyerukan aksi boikot terhadap Sarwendah. Aktris Emma Warokka juga ikut menyoroti fenomena ini dengan mengunggah seruan cancel culture terhadap Sarwendah, menyebut lebih dari 20 ribu orang sudah menandatangani petisi tersebut.
Viral petisi boikot Sarwendah, belasan ribu orang ikut tanda tangan, dinilai tak pantas jadi panutan, karena dianggap tidak bisa menjadi contoh baik untuk anak-anaknya. Sarwendah dikritik karena mengumbar kemesraan dengan sang kekasih di depan anak, serta memaki dan menyepelekan mantan suami di media sosial. Ia juga dinilai tidak pantas karena menjadikan laki-laki lain sebagai ayah anak-anaknya, padahal si ayah kandung masih hidup.
Petisi boikot Sarwendah ini merupakan bentuk aspirasi konsumen yang menginginkan praktik promosi yang lebih bertanggung jawab dan memperhatikan nilai-nilai integritas serta etika. Dalam petisinya, akun tersebut menegaskan, agar Sarwendah tak diberi ruang, apalagi diglorifikasi di media sosial. Akun itu juga mengimbau agar brand tak lagi menjalin kerjasama dengan sang artis dalam kegiatan pemasaran, khususnya Live streaming.
Viral petisi boikot Sarwendah, belasan ribu orang ikut tanda tangan, dinilai tak pantas jadi panutan, menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi memandang Sarwendah sebagai panutan yang baik. Hal ini juga menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kesadaran yang tinggi dalam memilih role model yang baik untuk anak-anaknya. Dengan demikian, petisi boikot Sarwendah ini dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak untuk lebih bijak dalam memilih dan menghadirkan konten yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat.
Viral petisi boikot Sarwendah, belasan ribu orang ikut tanda tangan, dinilai tak pantas jadi panutan, merupakan contoh nyata bahwa kekuatan masyarakat dalam menentukan apa yang baik dan tidak baik. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk memperhatikan aspirasi masyarakat dan menghadirkan konten yang sesuai dengan nilai-nilai yang diinginkan.