Beranda » Eurofighter Si Preman atau F-35 Si Pembunuh? Krisis FCAS Paksa Jerman Memilih Masa Depan Angkatan Udara
Posted in

Eurofighter Si Preman atau F-35 Si Pembunuh? Krisis FCAS Paksa Jerman Memilih Masa Depan Angkatan Udara

Jakarta Aktual – 01 Juli 2026 | Jerman kini dihadapkan pada pilihan sulit setelah program jet tempur generasi keenam FCAS dengan Prancis runtuh. Di satu sisi ada Eurofighter Typhoon, jet tempur Eropa yang dalam dinas Angkatan Udara Kerajaan Inggris dijuluki sebagai “preman”. Di sisi lain ada F-35, pesawat siluman Amerika Serikat yang dijuluki “pembunuh”. Dua julukan itu menggambarkan dilema besar Berlin. Eurofighter penting untuk menjaga industri pertahanan Jerman tetap hidup. F-35 dibutuhkan untuk mengisi celah kemampuan tempur modern, termasuk misi nuklir NATO, setelah armada Tornado yang sudah tua harus dipensiunkan.

Krisis ini muncul setelah Jerman dilaporkan secara resmi mengakhiri program Future Combat Air System atau FCAS yang selama bertahun-tahun digarap bersama Prancis dan Spanyol. Program itu awalnya dimaksudkan sebagai simbol kedaulatan teknologi Eropa, tetapi akhirnya justru memperlihatkan rapuhnya kerja sama industri pertahanan di benua tersebut. Perselisihan utama muncul ketika Dassault Prancis dilaporkan menuntut pembagian kerja sebesar 80 persen dan kendali besar atas program tersebut. Airbus Jerman menilai tuntutan itu tidak dapat diterima.

Dari sudut pandang Berlin, Jerman berisiko hanya menjadi pendukung dan penyandang dana bagi jet tempur yang pada akhirnya terlalu didominasi Prancis. Ketegangan itu membuat kepercayaan antara Dassault dan Airbus runtuh. Selama lebih dari setahun, hampir tidak ada pekerjaan nyata yang dilakukan pada jet tersebut. Pemerintah nasional sempat mencoba mendamaikan industri kedua negara, tetapi Jerman akhirnya menilai FCAS justru menunda kebutuhan mendesak mereka untuk mendapatkan jet tempur generasi berikutnya.

Runtuhnya FCAS membuat opsi F-35 semakin menggoda bagi Jerman. Berlin sudah memiliki pesanan tetap untuk 35 unit F-35A. Ada laporan bahwa Jerman akan menambah 15 unit lagi. Namun, Reuters melaporkan pada Februari 2026 bahwa Jerman bahkan sedang mempertimbangkan untuk menggandakan pesanan itu menjadi 70 unit F-35A, meski belum ada keputusan akhir. F-35 dipandang sebagai “pesawat jembatan”. Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius mengonfirmasi bahwa rencana tersebut kini sudah berada di atas meja, seraya mengatakan bahwa itu dapat menjadi solusi “jembatan”, atau apa pun sebutannya, menuju sistem persenjataan generasi berikutnya bagi Jerman.

📖 Baca juga:
Gelombang Panas Tewaskan Lebih dari 1000 Orang di Spanyol, Eropa Menghadapi Krisis Cuaca Ekstrem

Jet ini dapat mengisi celah antara armada lama Jerman dan jet generasi keenam Eropa yang diharapkan baru hadir pada 2040-an. Dengan kemampuan siluman, sensor canggih, dan jaringan tempur modern, F-35 juga dapat memperkuat kinerja Eurofighter serta jet tempur generasi keempat lain. Dalam bocoran kompetisi Kanada, F-35A disebut mencetak skor 95 persen, jauh di atas kombinasi Saab Gripen dan GlobalEye yang memperoleh 33 persen.

Krisis FCAS memaksa Jerman untuk memilih antara Eurofighter si preman atau F-35 si pembunuh? Krisis FCAS paksa Jerman memilih masa depan angkatan udara mereka. Eurofighter si preman atau F-35 si pembunuh? Krisis FCAS paksa Jerman memilih untuk memperkuat keamanan nasional mereka. Dalam situasi ini, Jerman harus membuat keputusan yang tepat untuk memastikan keamanan dan pertahanan negara mereka.

Kesimpulan dari krisis ini adalah bahwa Jerman harus segera membuat keputusan tentang masa depan angkatan udara mereka. Eurofighter si preman atau F-35 si pembunuh? Krisis FCAS paksa Jerman memilih untuk memperkuat keamanan nasional mereka. Dengan demikian, Jerman dapat memastikan keamanan dan pertahanan negara mereka di masa depan.

📖 Baca juga:
Rafael Jodar, Bintang Muda yang Bersinar di French Open

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *