Jakarta Aktual – 27 Juni 2026 | J-20 Mighty Dragon jet siluman pesaing F-35 beraksi, Washington kelabakan tak bisa dideteksi radar, menjadi fenomena yang menarik perhatian dalam beberapa tahun terakhir. Persaingan antara pesawat tempur siluman Chengdu J-20 Mighty Dragon milik China dan Lockheed Martin F-35 Lightning II Amerika Serikat memasuki babak baru. Jika selama satu dekade terakhir perdebatan lebih banyak berpusat pada teknologi siluman, sensor, dan kemampuan tempur, kini perlombaan bergeser ke aspek lain yang tak kalah menentukan, yakni kapasitas produksi dan ukuran armada.
Perkembangan terbaru menunjukkan Beijing dan Washington kini berlomba membangun armada pesawat tempur generasi kelima dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut laporan, analisis citra satelit komersial memperlihatkan kompleks pabrik Chengdu Aircraft Corporation telah diperluas hingga sekitar 8 juta kaki persegi. Perluasan fasilitas tersebut diperkirakan memungkinkan kapasitas produksi J-20 menembus lebih dari 100 unit per tahun.
J-20 Mighty Dragon jet siluman pesaing F-35 beraksi, Washington kelabakan tak bisa dideteksi radar, karena kemampuan silumannya yang semakin matang. Bentuk badan pesawat dirancang untuk memperkecil radar cross section (RCS) sehingga pantulan gelombang radar menjadi sangat rendah. Selain membawa rudal di ruang senjata internal, pesawat ini juga menggunakan material penyerap gelombang radar.
Washington kelabakan tak bisa dideteksi radar J-20 Mighty Dragon, karena karakteristik silumannya yang membuat J-20 jauh lebih sulit dideteksi dibandingkan pesawat tempur generasi keempat. J-20 Mighty Dragon jet siluman pesaing F-35 beraksi, dengan kemampuan silumannya yang membuat sistem radar lama milik Angkatan Udara AS, E-3 Sentry, dinilai kesulitan mendeteksinya.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga mempercepat penguatan armada tempur generasi kelima melalui F-35. Berdasarkan proyeksi, sekitar 450 unit F-35 diperkirakan akan beroperasi di kawasan Eropa pada 2030. Sementara itu, armada J-20 dilaporkan telah melampaui 300 unit, dan sejumlah analis memperkirakan jumlahnya dapat mendekati 1.000 pesawat pada akhir dekade ini apabila laju produksi saat ini terus dipertahankan.
Perkembangan ini menunjukkan rivalitas J-20 dan F-35 tidak lagi sekadar membandingkan pesawat mana yang memiliki teknologi siluman, radar, atau sensor paling canggih. Persaingan kini memasuki fase baru berupa “numbers race”, yakni perlombaan membangun armada pesawat tempur generasi kelima dalam jumlah besar. J-20 Mighty Dragon jet siluman pesaing F-35 beraksi, Washington kelabakan tak bisa dideteksi radar, menjadi salah satu contoh persaingan ini.
Kesimpulan dari persaingan antara J-20 Mighty Dragon dan F-35 adalah bahwa persaingan kini tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang kapasitas produksi dan ukuran armada. J-20 Mighty Dragon jet siluman pesaing F-35 beraksi, Washington kelabakan tak bisa dideteksi radar, menjadi fenomena yang menarik perhatian dalam beberapa tahun terakhir dan akan terus menjadi sorotan dalam industri pertahanan.