Beranda » Mortgage Krisis: Apa yang Terjadi dengan Pembiayaan Rumah di Amerika?
Posted in

Mortgage Krisis: Apa yang Terjadi dengan Pembiayaan Rumah di Amerika?

Mortgage Krisis: Apa yang Terjadi dengan Pembiayaan Rumah di Amerika?
Mortgage Krisis: Apa yang Terjadi dengan Pembiayaan Rumah di Amerika?

Jakarta Aktual – 22 May 2026 | Mortgages menjadi salah satu isu yang paling sensitif di Amerika, terutama setelah beberapa tahun terakhir melihat peningkatan jumlah pembiayaan rumah yang delinquent. Menurut analisis WalletHub, Vermont merekam peningkatan terbesar dalam kadar delinquent mortgages di negara bagian tersebut, dengan jumlah delinquent mortgages meningkat lebih dari 12% antara Q4 2025 dan Q1 2026. Meskipun demikian, Vermont masih memiliki salah satu kadar delinquent mortgages terendah di negara, yaitu sekitar 6%. Analis WalletHub, Chip Lupo, menjelaskan bahwa jika Anda berada dalam situasi delinquent, Anda biasanya memiliki waktu sampai 30 hari untuk membuat pembayaran sebelum lender melaporkan delinquency ke credit bureaus. Setelah itu, Anda dapat mengalami kerusakan pada skor kredit Anda.

Arthur Hayes, pendiri BitMEX dan CIO Maelstrom, memiliki teori tentang AI dan bagaimana hal tersebut dapat memicu krisis subprime yang baru. Menurutnya, peningkatan pengadopsian AI dapat menyebabkan kehilangan pekerjaan massal di kalangan pekerja profesional, yang pada gilirannya akan menyebabkan penundaan pembayaran kartu kredit dan mortgage. Hayes memperkirakan bahwa 20% dari 72,1 juta pekerja profesional di Amerika dapat kehilangan pekerjaan karena AI, yang berarti sekitar 14,4 juta orang tanpa pendapatan. Dengan demikian, dapat diprediksi bahwa $330 miliar hilang dalam kerugian kredit konsumen dan $227 miliar dalam kerugian mortgage, total $557 miliar dalam default.

Pemilik rumah tua yang sedang bersiap untuk pensiun semakin sering menggunakan pasang surut nilai pasar untuk meningkatkan uang tunai mereka dari properti. Menurut survei Goldman Sachs, Amerika mungkin membutuhkan $2,57 miliar untuk pensiun dengan nyaman pada tahun 2043, naik tajam dari $1,75 miliar yang diproyeksikan pada tahun 2033. Peningkatan ini mewakili tahun-tahun inflasi yang telah meningkatkan biaya rumah, kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari. Meskipun demikian, ahli keuangan merekomendasikan agar pemilik rumah tidak mengandalkan pasang surut nilai pasar sebagai strategi utama pensiun.

📖 Baca juga:
IndyCar Re-Signs NTT sebagai Sponsor Utama, Membuka Jalan Bagi Bakat Muda di Indy 500
📖 Baca juga:
Spacex IPO Date: Persiapan Raksasa Elon Musk untuk Debut di Pasar Saham

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *